Kabar Lamongan – Yuniar Kartika Dwi Bagtya menjalani keseharian sebagai pengajar di salah satu Madrasah Ibtidaiyah (MI) di Tangerang. Namun di sela kesibukan tersebut, ia tetap konsisten menekuni dunia menulis hingga berhasil menyabet predikat penulis terpilih.
Predikat tersebut ia raih di tujuh ajang yang Halo Penulis gelar. Deretan karyanya yang lolos kategori tersebut antara lain “Dia Tempatku Pulang” pada Lomba Menulis Batch 1 Vol. 2, “Kamu dan Langkah yang Menjauh” pada Lomba Menulis batch 25 Vol. 2, serta “Hati yang Tak Lagi Utuh” pada Lomba Menulis batch 20.
Mulai Ikut Lomba Sejak Awal Pandemi
Ketertarikan Yuniar pada kompetisi menulis bermula sekitar awal 2020, bertepatan dengan masa-masa awal merebaknya pandemi Covid-19 di Indonesia. Yuniar mengungkapkan bahwa langkah tersebut ia ambil bukan karena dorongan atau alasan tertentu yang kuat.
Kegemarannya menulis memang sudah tertanam sejak masih kuliah, hingga membuat banyak naskah tersimpan begitu saja di laptop tanpa pernah terpublikasi. Dari kondisi itulah muncul dorongan untuk mencoba mengikuti berbagai perlombaan menulis.
“Kalau pertama kali ikut lomba pas awal korona, sekitar tahun 2020 awal. Alasannya, karena dari awal kuliah seneng banget nulis. Jadi, ada beberapa tulisan yang numpuk di laptop. Jadi, apa salahnya nyoba ikut lomba,” katanya.
Novel Berkesan yang Tersimpan
Yuniar Kartika Dwi Bagtya punya kenangan mendalam terhadap sebuah novel yang ia tulis saat masih semester 2 atau 3 kuliah. Novel itu terinspirasi dari kisah hidup seorang teman dekatnya, dan ia mengaku sangat puas dengan hasil karya tersebut.
Meski begitu, sampai sekarang naskah itu belum pernah ia terbitkan, lantaran belum mengantongi izin dari sang teman sebagai pemilik kisah. Persoalan menjadi semakin pelik karena temannya itu sudah lebih dulu meninggal dunia, sehingga izin publikasi tidak mungkin lagi ia peroleh.
Bergulat dengan Writer’s Block dan Keraguan Diri
Sebagaimana penulis lainnya, Yuniar juga kerap bergulat dengan berbagai kendala saat menulis, mulai dari writer’s block, kesibukan yang menyita waktu, sampai perubahan suasana hati yang tidak menentu.
Kendati demikian, hambatan terbesar justru berasal dari pikirannya sendiri berupa keraguan seperti “kok jelek ya”, yang kerap membuatnya berhenti di tengah jalan.
Bahkan tidak jarang ia sudah menuliskan beberapa halaman naskah, tetapi karena minimnya rasa percaya diri, ia memilih mundur dan tidak melanjutkan keikutsertaannya dalam suatu ajang menulis.
Sebagai jalan keluar, ia mengandalkan cara sederhana yakni pergi ke kafe dan menulis sambil menikmati secangkir kopi. Baginya, kebiasaan ini terbukti paling ampuh sekaligus tidak memberatkan dari segi biaya untuk mengembalikan mood dan inspirasi menulis.
Menulis sebagai Pelarian Kecil
Selain mengajar di MI pada pagi hari, Yuniar juga menjalani peran sebagai tutor privat pada sore hingga malam hari. Di tengah padatnya jadwal itu, menulis baginya bukan sekadar aktivitas tambahan, melainkan telah menjelma menjadi pelarian kecil yang menenangkan dari rutinitas hariannya.
“Jadi, aku jadiin nulis itu tuh little escape aku dari kesibukan aku sehari-hari. Ibaratnya healingnya aku ya nulis gitu,” ungkap Yuniar.
Karena alasan itu, ia berusaha keras menyisihkan waktu setiap harinya untuk menulis, sekalipun hanya satu jam untuk menuangkan sebuah judul cerita.
Sebagai sosok yang lebih produktif di malam hari atau night owl, Yuniar biasa memanfaatkan waktu menjelang tidur untuk menulis. Justru di momen itulah ide-ide segar paling sering datang menghampirinya.
Tiga Kali Mencoba hingga Lolos
Dasar dari keputusan Yuniar mengirimkan karya ke Halo Penulis adalah keyakinan bahwa platform tersebut bisa menjadi salah satu jalan untuk mewujudkan impiannya menjadi seorang penulis.
Meski tidak berambisi menyamai kepiawaian penulis besar seperti Tere Liye, ia merasa telah berupaya keras mewujudkan cita-cita yang sudah lama dipendamnya.
Proses menuju keberhasilan itu tidak berjalan mulus. Percobaan pertamanya mengirim naskah ke Halo Penulis berujung kegagalan. Ia pun mencoba lagi pada kesempatan berikutnya, namun hasilnya tetap sama, tidak lolos seleksi.
Barulah pada percobaan ketiga, usahanya membuahkan hasil, sebuah titik yang ia gambarkan sebagai mulai terbukanya gerbang menuju impiannya sebagai penulis.
Pengalaman Berkesan dan Harapan untuk Literasi Indonesia
Sepanjang mengikuti berbagai program di Halo Penulis, Yuniar mengaku sangat menikmati pengalamannya. Ia menilai tema-tema yang diusung sangat beragam, mencakup kisah tentang diri sendiri, sahabat, pasangan, hingga orang tua.
Format karya yang diperlombakan pun tidak terbatas pada cerpen saja, melainkan turut mencakup surat dan kumpulan quotes. Menurutnya, Halo Penulis berhasil menjadi wadah yang merangkul banyak penulis dari berbagai kalangan.
Ke depan, ia berharap dunia kepenulisan Tanah Air dapat terus berkembang menjadi ruang tumbuh bagi siapa saja, sekaligus menjadi tempat menyalurkan perasaan yang sulit diungkapkan secara langsung.
Sebagai penutup, Yuniar turut menitipkan harapan pribadinya selaku pembaca dan penikmat buku, yaitu agar pajak buku tidak lagi tinggi, sehingga tidak lagi memberatkan masyarakat yang ingin menikmati bacaan.







