Kabar Lamongan – Idil Akbar Ansar merupakan penulis asal Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. Saat ini, ia menempuh pendidikan magister Kimia di Universitas Hasanuddin (Unhas). Di luar dunia kepenulisan, ia mengembangkan usaha percetakan baju.
Dalam kehidupannya, Idil menjalani tiga peran sekaligus, yakni sebagai penulis, mahasiswa, sekaligus pelaku usaha. Kesibukan itu tentu membuatnya harus pandai mengatur waktu, agar semua berjalanan selaras. Ia mengaku, cara mengatur waktu yang efektif adalah dengan fokus pada tanggung jawab yang melibatkan pihak lain.
Untuk kuliah, ia mengikuti jadwal yang sudah ditentukan. Kemudian, untuk usaha percetakan, ketika pelanggan memesan baju dalam jumlah banyak, ia meminta agar pesanan diambil pada hari libur. Pada saat seperti itu, ia memanggil teman untuk membantu dan memberi mereka upah.
Menurutnya, prioritas utama ia berikan pada hal-hal eksternal, seperti aturan perkuliahan dan pelayanan kepada pelanggan. Dengan begitu, target meraih gelar magister dan kepercayaan orang lain kepadanya tetap terjaga. Di sela-sela kesibukan itu, ia tetap menyempatkan diri melanjutkan tulisan, baik cerita pendek maupun buku.
Tentang Karya “Kami Belum Lahir, Dia Sudah Berjuang”
Buku yang Idil terbitkan di Penerbit HAS berjudul Kami Belum Lahir, Dia Sudah Berjuang. Karya ini bercerita tentang kakek dan neneknya. Sebelum rumah kayu itu penuh suara anak dan cucu, ada dua orang yang lebih dahulu belajar tentang kehidupan, perjuangan, dan bertahan di dalamnya.
“Saya juga menceritakan kehidupan sederhana kakek dan nenek, agar kelak generasi dari keluarga saya mengenal dua orang yang membangun keluarga besar saya,” katanya.
Kisah dalam buku ini berkisar pada perjuangan, kehilangan, kasih sayang, dan warisan yang hidup dalam doa serta ingatan, juga alasan untuk tetap pulang ke rumah kayu meski kakek dan neneknya telah tiada.
Dukungan Keluarga dan Rencana Karya Berikutnya
Keluarga Idil Akbar Ansar menyambut terbitnya buku ini dengan dukungan. Mereka pun menantikan karya-karya selanjutnya. Idil sendiri sudah punya rencana menulis buku kedua, dan kali ini ia akan menggarap genre novel, berbeda dari buku pertamanya.
Alur Cerita yang Sempat Tersendat
Dalam proses menulis, tantangan terbesar yang Idil hadapi adalah menentukan alur cerita. Ada kalanya ia berhenti di tengah jalan, dan beberapa halaman terasa tidak selaras dengan halaman berikutnya.
Saat menghadapi kebuntuan itu, ia memilih tidak memaksakan diri melanjutkan tulisan. Meski begitu, ia tetap memikirkan konsep lanjutan cerita di mana pun ia berada, mulai dari saat berkendara di atas motor, ketika bersantai, hingga di sela kesibukan.
“Biasanya, saya juga bercerita dengan orang-orang dekat saya, seperti meminta pendapat dan memberikan informasi seputar genre yang saya akan tulis,” ungkapnya.
Bagian yang Paling Membekas
Dari seluruh isi buku, Idil menyebut Bagian VI sebagai yang paling berkesan. Bagian itu mengisahkan kepergian neneknya, yang ia panggil Enci. Sebelas anak, sebelas menantu, 31 cucu, dan beberapa cicit kehilangan sosok perempuan yang selama ini menjaga mereka dan mengirimkan doa untuk mereka.
Semua keluarga berkumpul di rumah sakit dan di rumah anak kelima. Tidak ada yang berbicara, hanya tangis yang pecah. Di bagian itu pula Idil melihat kakeknya, yang ia panggil Iyye, masih menunggu sang nenek meski ia telah pergi.
Di akhir buku, Idil menambahkan satu detail yang sangat personal. Sekitar 41 panggilan WhatsApp tak terjawab dari neneknya. Ia tidak melihat panggilan itu karena sedang berada di luar daerah dan terkendala jaringan.
Idil mengakui mungkin seluruh isi buku berkesan baginya, tetapi yang paling melekat adalah Bagian VI dan 41 panggilan tak terjawab tersebut.
Harapan untuk Literasi Indonesia
Tentang masa depan literasi di Indonesia, Idil berharap dunia literasi semakin membanggakan dengan mengangkat kekayaan lokal yang terkemas secara modern dan inklusif. Dengan begitu, karya penulis Indonesia kian banyak diterjemahkan dan diakui di tingkat internasional.
Ia juga menyoroti anak muda, termasuk dirinya, yang masih minim bersentuhan dengan literasi akibat gempuran media sosial dan konten serba cepat. Menurutnya, membaca bukan soal gaya-gayaan atau sok pintar, melainkan cara paling baik untuk menambah ilmu, wawasan, dan informasi bagi pikiran sendiri.
Idil mengajak anak muda rehat sejenak dari scrolling tanpa batas dan mulai membuka buku, entah komik, novel, atau topik yang mereka sukai. Dengan membaca, otak terlatih untuk berpikir lebih jernih, tidak mudah termakan hoaks di era AI, dan memiliki sudut pandang yang lebih luas, sehingga bermanfaat bagi lingkungan sekitar dan negara.
Kesan terhadap Penerbit HAS
Di akhir, Idil Akbar Ansar menyampaikan pengalamannya bersama Penerbit HAS. Ia menilai penerbit ini keren karena membimbing penulis sampai akhir proses penerbitan. Menurutnya, admin yang bertugas juga andal dan informasi yang disampaikan jelas.
“Semoga lebih berkembang Penerbit HAS, keren pokoknya,” tutup Idil.







