Kabar Lamongan – Wandha Chintya Nurulita, penulis muda yang baru saja menyelesaikan masa studinya di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Kini, seperti kebanyakan fresh graduate, ia mengisi hari-harinya dengan mencari lowongan pekerjaan, mendaftar magang, dan menunggu kabar untuk interview.
Meski kegiatan itu terbilang cukup padat, tetapi ada satu kegiatan yang tidak pernah absen dari rutinitasnya. Kegiatan itu adalah menulis. Baginya, menulis bukan hanya sekadar kegiatan merangkai kata. Lebih dari itu, menulis merupakan bagian dari hidup yang tak akan terpisahkan.
Perlombaan Jadi Perjalanan Baru
Jejak panjang perjalanan kepenulisannya ia mulai sejak 2020. Saat itu, ia lebih sering mengirimkan tulisan ke platform artikel seperti Kumparan dan IDN Times. Menulis, baginya, adalah kegiatan untuk berbagi kisah agar tulisan dibaca orang banyak, bukan untuk berkompetisi.
Semua itu berubah pada Februari lalu, ketika ia sedang menelusuri Instagram dan menemukan pengumuman lomba dari Halo Penulis. Pengumuman tersebut memunculkan tiga kategori sekaligus, yakni menulis surat, cerpen, dan puisi.
Bagi Wandha, mengikuti lomba menulis bukanlah kebiasaan yang sudah lama ia lakukan. Namun, kali ini Wandha memutuskan mendaftar ketiganya. Dari tiga kategori itu, kemenangan datang dari lomba menulis surat di Komunitas Nulis Quotes batch 10 volume 2.
Kebiasaan yang Membawa Keberuntungan
Wandha tidak menampik bahwa menulis surat memiliki gaya yang berbeda dari artikel yang biasa ia buat. Namun, ia tidak merasakan bahwa itu adalah tantangan besar. Sebabnya sederhana, karena ia sudah lama akrab dengan berbagai bentuk tulisan.
Selain artikel, ia juga menulis novel sejak 2020. Dan dalam novel-novelnya, hampir selalu ada bagian pembuka yang ia tulis dalam format surat. Jadi, ketika lomba mengharuskannya menulis surat, formatnya sudah tidak asing.
“Kalau kita sudah tahu punya skill menulis dan bisa merangkai kata, mau nulis apapun tidak akan terlalu banyak tantangan,” ujarnya. Bagi Wandha, yang ia perlukan hanyalah sedikit penyesuaian, bukan kerja keras dari nol.
Semua Bermula dari Kebiasaan Membaca
Perjalanan Wandha di dunia literasi sebenarnya ia mulai jauh sebelum 2020. Sejak sekolah dasar, ia sudah gemar membaca, dan bukan hanya buku pelajaran. Dari buku paket, ia mulai mencari cerpen dan cerita bersambung, lalu menemukan Wattpad.
Tanpa disadari, kebiasaan membaca itu perlahan mengisi kepala dan hatinya dengan kosa kata, diksi, dan cara bercerita. Suatu ketika, ia ingin membaca cerita bertema sangat spesifik, tetapi tidak menemukannya. Akhirnya ia memutuskan untuk menulisnya sendiri.
Niatnya sederhana, hanya untuk dibaca sendiri. Namun, saat iseng mengunggah ke Wattpad, ternyata ada yang membaca, memberi komentar, dan merespons. Dari situlah semuanya mengalir. Pada Juni 2020, ia mulai berani mempublikasikan tulisannya secara lebih terbuka, dan menulis pun resmi menjadi bagian dari kesehariannya.
Membaca dan Menulis: Dua Hal yang Tidak Bisa Dipisahkan
Wandha Chintya Nurulita percaya bahwa kemampuan menulis tidak bisa tumbuh tanpa kebiasaan membaca. Bukan hanya soal kosa kata, tetapi soal bagaimana cara merangkai kalimat, memilih diksi yang tepat, dan menyusun narasi yang mengalir.
“Mustahil orang bisa menulis dengan baik kalau tidak rajin membaca. Kosa kata dari mana?” katanya.
Untuk memperkaya diksinya, ia tidak memilih cara yang kaku. Membuka KBBI secara langsung terasa membosankan. Sebagai gantinya, ia membaca novel-novel best seller, karena di sana, kata-kata yang baik sudah hadir dalam bentuk cerita yang menarik dan lebih mudah diserap.
Motivasi yang Datang dari Dalam
Ketika ditanya apa yang membuatnya tetap semangat menulis di tengah rasa lelah, Wandha tidak menyebut hal-hal dari luar dirinya. Motivasinya tumbuh dari hubungannya sendiri dengan menulis.
Menulis bukan hanya soal ekspresi, tetapi juga mata pencaharian. Dari pengalaman magang sebagai reporter, artikel-artikel yang ia kirim ke berbagai website, hingga novel yang ia jual secara mandiri, semuanya memberi pemasukan sekaligus membangun nama dan personal branding-nya.
Rasa jenuh dan writer’s block memang pernah datang, namun ia belum pernah sampai di titik ingin berhenti sepenuhnya. Saat bosan menyapa, ia memilih mencoba hal baru tanpa meninggalkan kebiasaan menulis.
“Menulis itu separuh hidup saya,” katanya.
Karya Pertama yang Paling Berharga
Di antara semua tulisan yang pernah lahir dari tangannya, ada satu yang paling membekas. Itu adalah novel pertamanya di tahun 2020. Bukan karena karya itu adalah yang terbaik. Justru sebaliknya, ia sendiri mengakui bahwa tulisan itu jauh dari kata bagus.
Yang membuatnya istimewa adalah keputusan Wandha untuk tidak membuangnya. Ia menyimpan tulisan itu dengan sengaja, sebagai tolok ukur perjalanan. Dengan membandingkan tulisannya dulu dan sekarang, ia bisa melihat sendiri seberapa jauh ia telah berkembang.
Baginya, karya pertama yang penuh kekurangan itu adalah bukti bahwa semua orang pernah memulai dari titik yang tidak sempurna, dan itu bukan alasan untuk berhenti, melainkan alasan untuk terus melangkah.
Harapan Sederhana untuk Halo Penulis
Wandha Chintya Nurulita mengakhiri perbincangan dengan harapan yang ia titipkan kepada Halo Penulis. Ia berharap komunitas ini terus konsisten membuka ruang bagi para penulis untuk mengirimkan dan memperlihatkan karya mereka.
Lebih jauh, ia melihat bahwa program seperti penerbitan buku antologi bisa menjadi titik awal yang berarti bagi penulis-penulis baru. Ini karena program yang Halo Penulis canangkan bisa memberi mereka nama, pengalaman, dan kepercayaan diri untuk suatu saat menerbitkan karya mereka sendiri.
“Terus konsisten, terus belajar, dan terus mencoba,” pesannya.







