Wahyu Faddila Berhasil Menyulam Kisah Hidup Menjadi Karya yang Bermakna

Berita, Nasional116 Dilihat

Kabar Lamongan – Bagi murid-muridnya, ia akrab dengan panggilan Pak WaY. Nama itu pula yang ia pakai sebagai nama pena. Sosok di balik nama tersebut adalah Wahyu Faddila, guru di sebuah SD Negeri di Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Di luar jam mengajar. ia menekuni dunia tulis-menulis bersama Halo Penulis.

Wahyu telah mengikuti sejumlah batch lomba menulis dan lomba puisi. Awal keikutsertaannya adalah Lomba Menulis Batch 5 Volume 3, dengan cerpennya “Meracik Bahagia Dapur yang Patah”. Cerpen itu terbit dalam buku Melukis Pelangi Selepas Hujan.

Ia kemudian melanjutkan ke Lomba Menulis Batch 6 Volume 3 lewat cerpen “Aksara yang Menautkan Kita”, yang termuat di buku Bingkai Cerita Kita. Setelah itu, ia beralih ke puisi. Di Lomba Puisi Batch 21 Volume 3, ia menulis “Melangitkan Rindu, Mengekalkan Cinta” untuk buku Bahasa Cinta Untukmu.

Di Lomba Puisi Batch 23 Volume 3, karyanya “Satu Nama, Selamanya Luka” masuk dalam buku Jejak Yang Masih Tersimpan. Ia kembali ke cerpen pada Lomba Menulis Batch 10 Volume 3 dengan judul “Pulang Itu Bernama Ikhlas”, yang terbit dalam buku Segala yang Lepas dari Kita.

Kemudian, ia juga mengikuti event terbaru yakni Lomba Puisi Batch 2 Volume 4. Dalam berbagai lomba itu, ia memang belum pernah meraih predikat juara. Namun, ia mensyukuri bahwa dalam setiap event Halo Penulis yang diikutinya, namanya selalu tercatat sebagai penulis terpilih.

Cerita di Balik Karya

Ide tulisan Wahyu Faddila bersumber dari pengalaman hidupnya sendiri serta cerita teman-temannya. Untuk lomba menulis pertamanya, ia mengangkat kisah pribadi tentang cita-cita menjadi chef yang tidak terwujud.

Ia lahir dari keluarga yang kondisi ekonominya terbatas. Kedua orang tuanya, yang kini telah almarhum dan almarhumah, tidak mampu membiayai kuliah perhotelan pada masa itu.

Wahyu lalu mengikhlaskan impiannya dan mengubah cita-citanya menjadi guru. Meski begitu, sehabis kuliah ia pernah bekerja sebagai cook di sebuah hotel di kotanya, walau hanya sebentar. Sekarang, ia menjalani profesi sebagai guru.

Mengatur Waktu antara Mengajar dan Menulis

Untuk menyiasati tenggat lomba di tengah kesibukan sebagai guru, Wahyu menulis setiap kali ada waktu luang setelah mengajar. Bahkan saat menunggu jam absen pulang di sekolah, ia memanfaatkannya untuk menulis. Terkait tahap penyuntingan, ia biasa melakukannya pada malam hari supaya tulisannya lebih menarik.

“Begitu tiba malam hari, saya melakukan proses editing, agar tulisan saya lebih menarik, karena saya bisa mendapatkan inspirasi ketika duduk sendiri dan menepi sejenak dari kegiatan menulis,” ungkapnya.

Saat Ide Buntu dan Rasa Minder Datang

Wahyu mengakui ada beberapa hal yang kerap menghambatnya. Salah satunya ketika ia sama sekali tidak punya ide cerita yang cocok dengan tema lomba.

Pikiran yang riuh dan banyaknya pekerjaan di sekolah juga ikut mengganggu. Selain itu, ada kalanya tulisannya terasa tidak rapi dan kurang bernyawa. Tak jarang, ia merasa minder karena menilai karyanya belum cukup layak dipublikasikan.

Cara ia mengatasinya adalah dengan membaca beberapa buku untuk memulihkan semangat sekaligus menumbuhkan lagi rasa percaya dirinya. Ia juga bermeditasi, yakni menjauh sebentar dari keramaian dan menyepi agar bisa merefleksikan diri.

Impian Punya Buku Tunggal

Sebagai penulis, Wahyu bercita-cita memiliki buku tunggal, bukan antologi. Ia juga berharap bukunya kelak menjadi best seller yang dicetak berulang kali. Meski begitu, yang paling ia inginkan adalah pembaca ikut tersentuh, merasakan apa yang ia tuliskan, dan memberikan tanggapan yang baik.

Ada satu harapan lain. Wahyu ingin hasil penjualan bukunya disumbangkan kepada pihak yang membutuhkan, seperti korban bencana, anak-anak terlantar, dan sekolah terpencil yang aksesnya terhadap internet belum memadai. Dengan begitu, mereka tetap dapat membaca dan terhibur lewat buku.

Terima Kasih untuk Halo Penulis

Wahyu berterima kasih kepada Halo Penulis yang ia sebut sebagai jembatan untuk membagikan dan menerbitkan karyanya. Menurutnya, kemampuan menulisnya ikut terasah, dan keinginannya membuat buku sejak duduk di bangku SMA akhirnya terwujud.

Ia juga menilai tim Halo Penulis sangat rinci dalam memberikan informasi maupun solusi seputar event. Ia berharap Halo Penulis tetap menjadi wadah bagi penulis muda untuk berkarya, agar makin banyak orang yang akrab dengan literasi dan tidak melupakan arti sebuah buku fisik.

Pesan bagi Dunia Literasi

Untuk literasi Indonesia ke depan, Wahyu Faddila berharap anak-anak masa kini tidak melupakan bentuk fisik buku di tengah maraknya buku digital. Menurutnya, sensasi membaca keduanya berbeda. Ia juga berharap semakin banyak anak muda yang gemar membaca.

“Saya berharap anak-anak muda juga lebih banyak yang gemar membaca, karena saya sedih banyak sekali anak-anak yang belum lancar membaca di saat usianya harusnya sudah sangat lancar membaca,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *