Vitria Elvi, Menghidupkan Budaya Menulis di Tengah Keterbatasan Pesantren

Pendidikan123 Dilihat

Kabar Lamongan – Perjalanan menumbuhkan minat menulis pada anak-anak datang dari Vitria Elvi. Vitria sendiri adalah seorang guru Bahasa Indonesia di Insan Cendekia Boarding School (ICBS) Payakumbuh, Kompleks Harau.

Setiap akhir pekan, Vitria rela begadang hingga tengah malam. Bukan untuk mengoreksi ujian, melainkan untuk mengetik dan mengirimkan karya-karya puisi serta cerpen para siswanya satu per satu.

Vitria bukan sekadar guru biasa. Di luar jam mengajar, ia menjalani keseharian sebagai ibu dari dua anak sekaligus ibu pekerja. Tentu saja peran ganda tersebut tidak mudah. Namun, justru dari kesibukan itulah ia menemukan cara untuk menginspirasi para siswanya.

Awal Mula Perjalanan

Perkenalan Vitria dengan dunia lomba kepenulisan bermula dari niat untuk mengajak siswa agar gemar menulis. Ia mulai membawa murid-muridnya mengikuti event Halo Penulis sejak Batch 17 Vol 2, dan Halo Penyair sejak Batch 6 Vol 3. Keduanya terus berlanjut hingga sekarang.

Salah satu hal yang tidak ia sangka adalah antusias para siswa saat merespons adanya perlombaan. “Lama-lama siswa saya menjadi ketagihan dalam menulis,” ujarnya.

Dari sekadar ajakan, kegiatan ini menjelma menjadi rutinitas yang para siswa tunggu. Hampir setiap berpapasan dengannya di lorong sekolah, para siswa tak segan bertanya, “Kapan ada lomba lagi, Dzah? Saya mau daftar.”

Satu Laptop, Puluhan Karya

Namun, di balik antusiasme itu, ada tantangan yang tidak kecil. ICBS adalah sekolah berbasis pesantren, di mana siswa tidak diperkenankan membawa atau menggunakan ponsel maupun laptop pribadi. Artinya, seluruh proses pengetikan dan pengiriman karya bertumpu pada satu laptop milik Vitria sendiri.

Ia pernah mencoba mengurus peminjaman perangkat dari sekolah, tetapi tidak bertahan lama. Kekhawatiran akan pelanggaran aturan pondok, seperti siswa mengakses hal-hal di luar tugas saat memegang laptop membuatnya memilih untuk tetap menggunakan laptopnya sendiri.

“Mereka lebih terkontrol dan minim risiko,” katanya.

Konsekuensinya, tidak semua siswa yang ingin berpartisipasi bisa langsung ikut serta dalam satu event. Dalam satu gelombang lomba, biasanya ada sekitar 12 siswa yang dapat ia tangani. Jumlah itu tergantung seberapa padat jadwal rapatnya. Siswa yang lain harus mengantre dan bersabar menunggu event berikutnya.

Kendala lain datang dari urusan teknis pendaftaran. Banyak akun email siswa yang membutuhkan konfirmasi melalui ponsel orang tua, sementara tidak semua orang tua merespons dengan cepat. Akibatnya, karya yang sudah siap kirim pun terpaksa tertunda ke gelombang berikutnya.

“Sedih sebenarnya, tetapi anak-anak saya ajarkan untuk siap menerima berbagai kondisi,” ungkapnya.

Dukungan dari Semua Pihak

Di tengah berbagai hambatan itu, Vitria mendapat angin segar dari lingkungan sekitarnya. Pihak sekolah, termasuk kepala sekolah, menyambut baik kegiatan ini dan bahkan mendorong agar ke depan semua siswa memiliki karya yang diterbitkan.

Selain itu, Orang tua siswa pun turut bersemangat. Setiap kali nama anaknya lolos seleksi, kabar gembira itu langsung terasa sampai ke rumah.

Sistem jadwal per kelas yang Vitria tetapkan juga memberi ruang bagi siswa yang memiliki inisiatif lebih. Ada saja siswa dari kelas lain yang mencari waktu luangnya di jam istirahat, menyerahkan karya, lalu duduk mengetik sendiri di laptop sang guru.

Ketika Sastra Tumbuh di Pondok Pesantren

Bagi Vitria Elvi, ada satu hal yang paling ia syukuri dari platform seperti Halo Penyair dan Halo Penulis, yakni keduanya tidak hanya menghargai yang juara. Karya siswa tetap terbit dalam buku antologi meskipun belum meraih peringkat pertama.

Ia juga mengapresiasi ritme event yang dinilainya ramah bagi pengajar seperti dirinya. Deadline yang selalu jatuh di akhir pekan memberinya waktu untuk melatih siswa secara berkala, pengumuman hasil yang biasanya keluar dalam tiga hari, serta jadwal event berikutnya yang tidak terlalu lama. Semua itu membuat semangat siswa tetap terjaga.

Harapan untuk Sastra Indonesia

Menutup perbincangan, Vitria Elvi menyampaikan harapannya untuk dunia sastra Indonesia. Ia ingin sastra semakin membumi di kalangan anak muda, tidak hanya di kota-kota besar, tetapi juga di daerah seperti Harau.

Baginya, fakta bahwa event nasional bisa menjangkau siswa-siswa di dalam pesantren adalah bukti bahwa sastra bisa tumbuh di mana saja.

Ia juga berharap agar sastra tetap menjadi ruang yang jujur, tempat anak muda mengungkapkan perasaan dan pikiran tanpa sekat. Di era digital yang terus berkembang, ia percaya bahwa fasilitas untuk menulis dan menerbitkan karya bisa menjadi kunci untuk mendongkrak minat baca sekaligus memperbaiki peringkat literasi Indonesia.

Dari satu laptop di sudut pesantren Harau, Vitria Elvi membuktikan bahwa semangat berkarya tidak mengenal batas, asal ada yang mau jadi jembatannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *