Kabar Lamongan – Bagi Dr. Tanti Sugiharti, M.Sc., dosen di STIE Kasih Bangsa, sebuah buku tidak lahir dari ambisi semata. Ia lahir dari pengamatan yang tekun, perjalanan ke lapangan, dan keyakinan bahwa budaya lokal menyimpan jawaban atas tantangan pendidikan yang selama ini ia cari.
Perempuan yang kini juga menjabat sebagai Direktur Eksekutif Perkumpulan Alumni Luar Negeri Indonesia (IOA) ini berbagi cerita tentang perjalanan panjang di balik buku Leading Schools through Local Wisdom.
Bermula dari Program Pelatihan di Lombok Utara
Cerita ini ia mulai pada 2020, ketika Tanti bersama tim NGO-nya menjalankan program pelatihan kepemimpinan transformasional untuk guru dan kepala sekolah dasar di Kabupaten Lombok Utara. Dalam proses monitoring ke sekolah-sekolah binaan, ia mulai memperhatikan sesuatu yang selama ini luput dari perhatian banyak peneliti.
Para kepala sekolah di sana ternyata menjalankan praktik kepemimpinan yang berakar kuat pada nilai-nilai budaya Sasak. Perilaku masyarakat sekitar pun banyak terbentuk oleh tradisi dan kearifan lokal yang telah lama hidup di tengah mereka.
Kepemimpinan sekolah dan budaya Sasak inilah yang menjadi celah riset untuk ia eksplorasi lebih dalam. Dari ketertarikan itulah ia kemudian memutuskan untuk menjadikan topik ini sebagai fokus disertasi doktoralnya di Universitas Pelita Harapan, dengan konsentrasi pada Educational Leadership.
Kendala di Tengah Proses Pengumpulan Data
Meneliti komunitas yang jauh secara geografis tentu bukan perkara mudah. Apalagi dengan menggunakan pendekatan kualitatif yang sangat bergantung pada kualitas wawancara dan diskusi kelompok. Sebagian besar data ia kumpulkan secara jarak jauh, meski terkendala jaringan internet di Lombok yang belum sepenuhnya memadai.
Akibatnya, sesi wawancara dan FGD yang ia lakukan via Zoom maupun telepon kerap menghasilkan transkrip yang tidak sempurna. Oleh sebab itu, ia harus mengolah ulang data dengan lebih teliti. Meski menjadi hambatan yang cukup menyita waktu dan tenaga, proses ini tetap selesai hingga data yang ia butuhkan terkumpul dengan cukup.
Setelah riset tuntas, naskah disertasi kemudian ia tulis ulang untuk keperluan penerbitan buku. Proses ini membutuhkan penyesuaian tersendiri terkait gaya dan struktur penulisan. Jika dihitung dari awal penelitian hingga buku benar-benar terbit, seluruh proses ini berlangsung sekitar tiga tahun.
Dukungan Hibah dan Penyerahan Buku ke Pemerintah Daerah
Di tengah perjalanan itu, ada kabar menggembirakan menyertai. Penelitian ini mendapatkan hibah dari Universitas Pelita Harapan pada periode 2023–2024. Hal ini menjadi pengakuan yang membuat Tanti dan tim merasa hasil kerja keras mereka dihargai.
Setelah buku berhasil terbit, Tanti Sugiharti secara langsung menyerahkan buku ini kepada Gubernur Provinsi NTB, Bupati Lombok Utara, dan Bupati Lombok Tengah. Baginya, buku ini bukan sekadar produk akademik semata.
Ia berharap karya ini bisa menjadi salah satu referensi bagi pemerintah daerah dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan di Lombok. Di mana mutu ini tetap bertumpu pada kekuatan budaya Sasak yang sudah lama menjadi landasan perilaku masyarakat setempat.
Respons dari pembaca pun terbilang positif. Riset yang secara khusus membahas pengaruh budaya Sasak terhadap kepemimpinan sekolah memang masih terbilang langka. Oleh karena itu, kehadiran buku ini ia harapkan bisa membuka ruang bagi penelitian-penelitian lanjutan di bidang tersebut.
Tidak Menyangka Masuk Nominasi
Ketika buku ini masuk dalam nominasi Author of The Month Detak Pustaka edisi Maret 2026, Tanti Sugiharti mengaku tidak menduganya sama sekali. Terlebih, buku ini ia tulis dalam bahasa Inggris. Pilihan ini merupakan hal yang ia sadari bisa menjadi tantangan tersendiri bagi pembaca di Indonesia.
Namun, justru di situlah letak keistimewaannya. Karya yang mengangkat kearifan lokal Nusantara, namun tersaji dalam bahasa yang memungkinkannya dikenal di luar batas negeri.
Pesan untuk Peneliti Muda
Kepada para peneliti muda yang ingin berkontribusi di bidang pendidikan melalui karya akademik, Tanti memberikan empat hal yang ia anggap penting. Pertama, pilih topik yang relevan dengan isu pendidikan yang sedang berkembang dan memiliki dampak nyata.
Kedua, kuasai metode penelitian yang tepat agar hasil yang dihasilkan valid dan dapat dipertanggungjawabkan. Ketiga, perbanyak kajian literatur untuk menemukan celah riset dan memperkuat landasan teoretis.
Dan keempat, jalin kolaborasi, baik dengan sesama peneliti maupun dengan penerbit yang berpengalaman agar hasil penelitian bisa tersebar lebih luas, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Satu Pertanyaan yang Masih Terbuka
Meski buku ini telah menjawab banyak hal, Tanti mengakui masih ada satu pertanyaan besar yang ia harap bisa terjawab ke depannya.
Pertanyaan itu adalah bagaimana pemerintah daerah dapat mengambil peran aktif dalam mendorong gerakan kembali ke khitah pendidikan. Harapannya, mutu pendidikan di Kabupaten Lombok Utara terus berkembang dengan berpijak pada nilai-nilai budaya Sasak.
Sebagai penutup, ia juga menitipkan harapan kepada Detak Pustaka agar buku-buku pilihan, khususnya yang masuk nominasi bulanan, bisa mendapat dukungan promosi yang lebih luas. Misalnya, melalui platform seperti Facebook dan Instagram, sehingga karya-karya berkualitas dapat menjangkau lebih banyak pembaca yang membutuhkan.







