Kabar Lamongan – Tidak banyak orang yang sanggup menulis puisi sambil berpacu dengan jadwal ujian. Namun, itulah yang Tahnia Nurlia Drajat lakukan. Tahnia merupakan mahasiswa semester dua Universitas Pendidikan Indonesia, yang berhasil meraih juara kedua dalam Lomba Menulis Puisi Batch 15 Halo Penyair.
Pencapaian tersebut terasa lebih istimewa karena lomba puisi ini merupakan hal pertama yang ia coba di bidang kepenulisan kreatif berbahasa Indonesia.
Sebelumnya, Tahnia memang pernah mengikuti olimpiade esai bahasa Inggris dan lomba story telling, namun puisi adalah pengalaman baru dan ternyata justru di sinilah ia menemukan ruangnya.
Proses yang Singkat
Tahnia bukan mahasiswa biasa yang hanya fokus pada kuliah. Selain aktif di organisasi HIMA, tepatnya di divisi English Speaking Community, ia juga bekerja sebagai guru privat. Kesibukan itu yang membuat proses penulisannya baru benar-benar ia mulai pada hari Rabu.
Dari Rabu malam ia menulis, Kamis malam ia rapikan dan edit, lalu pada Jumat ia langsung mengirim tulisan untuk perlombaan. Singkat, tetapi tertata dengan baik.
“Ada niat untuk bisa tetap ikut lomba, akhirnya diusahakan,” katanya.
Baginya, keikutsertaan dalam lomba ini bukan sekadar mengisi waktu, melainkan bagian dari upaya untuk terus berkembang di tengah kesibukan kuliah.
Dari Jam Sepuluh Malam Sampai Jam Tiga
Proses menulis tidak semulus yang ia bayangkan. Pada hari Rabu itu, Tahnia menghabiskan sekitar lima jam hanya untuk menemukan bentuk puisi yang benar-benar terasa pas. Ia menulis, merasa kurang cocok, lalu mencoret. Menulis lagi, merasa tidak nyambung, lalu mencoret lagi.
Masalahnya beragam, mulai dari objek dalam puisi terasa terlalu banyak, rima tidak selaras, hingga alur terasa tidak terhubung. Ia mengaku harus benar-benar berjuang di tahap awal karena belum punya gambaran jelas tentang arah puisinya.
Titik baliknya datang saat ia memutuskan untuk menggali dari sebuah jurnal, dan di sanalah sumber inspirasinya muncul. Kata demi kata mulai menemukan alurnya sendiri, sehingga ia mampu melalui tantangan menulisnya.
“Kadang puisi tuh bisa mengalir kalau kita sudah pernah merasakan hal itu,” ujarnya. Setelah merasa cukup puas, ia meminta teman-temannya untuk memberikan koreksi sebelum naskah itu ia finalisasi.
Kenalan dengan Halo Penulis Lewat Teman
Tahnia sebenarnya tidak mengenal Halo Penulis sebelumnya. Ia mulai mencari informasi lomba karena ingin menambah pengalaman untuk CV dan keperluan beasiswa, lalu berkonsultasi dengan seorang teman. Teman itulah yang kemudian memperkenalkannya ke platform Halo Penulis.
Kebetulan, saat itu Halo Penulis baru saja kembali membuka pendaftaran setelah jeda selama Ramadan dan Lebaran. Tahnia langsung ikut tanpa menunggu lama. Ia juga belakangan tahu bahwa satu temannya yang lain sudah lebih dulu sering mengikuti lomba di platform yang sama, meskipun di kategori cerpen.
Pengumuman yang Mengagetkan
Salah satu bagian paling menarik dari perjalanan Tahnia Nurlia Drajat adalah reaksinya saat pengumuman tiba. Ia mengaku sama sekali tidak menunggu hasilnya. Rasa pasrah sudah ia tanamkan sejak awal, sebab ia merasa pasti ada peserta lain yang karyanya lebih baik.
Pengalaman di lomba-lomba sebelumnya seperti story telling dan olimpiade yang tidak menghasilkan juara turut membentuk ekspektasinya. “Kayaknya bukan passion saya di situ,” akunya.
Oleh karena itu, momen saat ia membuka Instagram secara tidak sengaja dan mendapati pengumuman yang baru tayang beberapa detik—dengan namanya tercantum di sana—terasa begitu mengejutkan.
“Kaget banget, alhamdulillah. Padahal nggak ditungguin sama sekali.”
Ada Niat Mengikuti Kembali
Saat ditanya soal kemungkinan mengikuti lomba berikutnya, Tahnia menjawab dengan jujur. Niatnya ada, tetapi ia tidak mau terburu-buru. Menulis puisi, menurutnya, tidak bisa dipaksakan. Tema lomba, waktu yang tersedia, dan kedekatan dengan ide, semua itu perlu ia pertimbangkan terlebih dahulu.
“Jadi, saya mengira-ngira waktu dan ide,” katanya. Sebuah pendekatan yang wajar dari seseorang yang menulis bukan karena tuntutan, melainkan karena memang ingin berkarya dengan sungguh-sungguh.
Apresiasi untuk Halo Penulis
Di akhir perbincangannya, Tahnia menyampaikan pandangannya tentang Halo Penulis. Ia menilai platform ini memberikan ruang yang nyata bagi anak-anak muda untuk mengembangkan diri melalui karya tulis, sekaligus memastikan karya mereka bisa terus ada dan dikenang.
Yang paling ia apresiasi adalah konsistensi Halo Penulis dalam terus membuka batch baru. Baginya, hal itu punya makna tersendiri, bahwa bagi siapa pun yang belum berhasil, selalu ada kesempatan berikutnya untuk mencoba lagi.
“Halo Penulis selalu ada batch, itu menggugah semangat untuk yang gagal, bahwa kesempatan selalu ada lagi,” pungkas Tahnia.







