Kabar Lamongan – Sulistiani Maulida mungkin tidak pernah membayangkan dirinya akan menjadi seorang penulis buku. Perempuan yang kini tengah sibuk menyelesaikan tesis ini mengaku bahwa perjalanannya di dunia tulis-menulis bermula bukan dari passion yang membara, melainkan dari sebuah keharusan akademis.
“Awalnya memang karena tuntutan akademis, jadi mau tidak mau harus dipaksa untuk menyelesaikannya,” ceritanya. Namun, dari situlah segalanya bermula. Perlahan, tekanan itu berubah menjadi kenikmatan, dan tanpa terlalu ia sadari, tulisan-tulisannya pun selesai satu per satu.
Menulis Tanpa Jadwal Kaku
Keseharian Maulida cukup beragam. Selain menulis dan mengerjakan tesis, ia juga terlibat dalam kegiatan kerelawanan di bidang pendidikan, meski kini intensitasnya sedikit berkurang karena fokus pada studi. Namun, ia sendiri tidak merasa hidupnya terlalu padat.
Dalam hal menulis, Maulida tidak mematok jadwal yang ketat. Ia lebih memilih menulis di waktu yang terasa paling nyaman. Biasanya pagi hari atau malam sebelum pukul sepuluh, ketika suasana lebih tenang dan pikiran lebih mudah ia ajak bekerja sama. Tidak ada hari tertentu yang ia tetapkan, semuanya mengalir mengikuti mood.
“Kalau mood sedang bagus, ya langsung tancap gas,” katanya. Satu hal yang ia jaga adalah menulis tidak boleh memotong jam tidurnya, baik siang maupun malam.
Tantangan Terbesar
Ketika ditanya soal hambatan, Maulida menjawab jujur. Hambatan bukan datang dari ide yang macet, bukan pula referensi yang sulit ia cari, melainkan rasa malas dan mood yang tidak menentu. Kadang niat sudah ada, tetapi memulainya tetap terasa berat.
Untuk urusan isi tulisan, ia justru tidak terlalu kesulitan. Topik yang ia angkat, yakni dunia emosi dan kecerdasan emosional, memang sudah lama menjadi ketertarikannya.
Jauh sebelum ada rencana membuat buku, ia sudah terbiasa membaca dan menyimpan jurnal-jurnal ilmiah seputar tema itu. Ketika akhirnya ada kesempatan untuk menyusunnya menjadi buku, semua referensi yang terkumpul tinggal ia rangkai.
Itu pula yang membuat Sulistiani Maulida kadang masih tidak percaya dengan apa yang sudah ia hasilkan. “Tidak nyangka saja, ternyata bisa bikin buku, dan banyak yang mau baca, padahal awalnya hanya untuk menuntaskan tugas,” ungkapnya.
Apa Isi Emotional Performance?
Buku kedua Sulistiani Maulida yang berhasil terbit bersama Detak Pustaka berjudul Emotional Performance. Buku ini membahas bagaimana kondisi emosional seseorang berdampak langsung pada performa kerja maupun kehidupan sehari-hari.
Maulida menyoroti sebuah fenomena yang banyak terjadi di lingkungan kerja. Seseorang bisa saja kompeten dan rajin bekerja, namun tetap merasa lelah, stres, atau kehilangan motivasi karena emosinya tidak terkelola dengan baik.
Dalam buku ini, ia juga menegaskan bahwa kinerja bukan semata soal pencapaian angka, tetapi juga menyangkut bagaimana seseorang mengelola hubungan, menjaga suasana kerja, dan memperhatikan kesehatan mentalnya.
Isu seperti burnout, kesepian di tempat kerja, hingga sulitnya memisahkan urusan pekerjaan dan kehidupan pribadi turut ia bahas di dalamnya. Tujuannya sederhana, yakni mengajak pembaca untuk lebih peka terhadap emosi yang mereka rasakan sehari-hari, terutama di lingkungan kerja.
Proses penulisannya sendiri memakan waktu sekitar empat bulan, dengan dua bulan yang paling intens. Namun, kalau terhitung sejak awal ia mengumpulkan referensi yang kala itu belum ada niat untuk menjadikan sebuah buku, prosesnya bisa mencapai satu setengah tahun.
Alasan Kembali ke Detak Pustaka
Ini bukan pertama kalinya Maulida bekerja sama dengan Detak Pustaka. Buku pertamanya, Menelusuri Pendidikan dari Sejarah ke Era Digital, juga ia terbitkan melalui penerbit yang sama. Dan pengalaman yang menyenangkan di buku pertama itulah yang membuatnya tidak berpikir panjang untuk kembali.
Kualitas penyuntingan, komunikasi yang lancar dengan tim, hingga harga yang penerbit tawarkan, semuanya membekas dengan baik. “Sudah jatuh hati sama Detak Pustaka dan timnya,” katanya. Baginya, tidak ada alasan untuk mencari tempat lain.
Harapan untuk Literasi Indonesia
Di penghujung obrolan, Maulida menyampaikan harapannya untuk dunia literasi Indonesia. Ia ingin membaca tidak lagi terasa seperti sesuatu yang berat atau membosankan, dan semakin banyak buku yang menggunakan bahasa yang dekat dengan keseharian pembacanya.
Menurutnya, tulisan yang terasa relevan dengan kehidupan nyata punya kekuatan tersendiri. Tulisan itu bisa membuat pembaca merasa dipahami, dan dari sana rasa ingin tahu pun tumbuh secara alami. Seseorang yang awalnya hanya gemar membaca novel, bisa saja pelan-pelan mulai tertarik pada buku pengembangan diri atau genre lainnya.
“Semoga makin banyak tulisan yang bikin orang merasa, ‘oh, ternyata aku tidak sendirian,'” harapnya.







