Kabar Lamongan – Sudjianto sudah mengabdikan empat puluh tahun hidupnya sebagai pengajar. Dua tahun lalu, ia resmi purna bakti di perguruan tinggi negeri di Bandung. Namun, usai purna bakti, kegiatannya justru semakin padat. Sesekali ia masih membimbing mahasiswa skripsi sembari melakukan kegiatan menulis.
Menulis bukan hal baru bagi pria yang akrab dipanggil Sudji ini. Hobi itu sudah ia tekuni sejak bangku kuliah, dan terus ia jaga di tengah kesibukan mengajar, hingga hari ini.
Selama bertahun-tahun, ia berhasil menciptakan karya-karya non-fiksi, sebelum akhirnya memutuskan untuk mencoba sesuatu yang berbeda, yakni menulis sebuah novel berjudul Kokoro Kara. Novel tersebut kini telah terbit melalui Detak Pustaka.
Lahir dari Pengalaman Langsung
Judul Kokoro Kara ia ambil dari bahasa Jepang, meski isi ceritanya sepenuhnya berbahasa Indonesia. Pilihan itu bukan tanpa alasan. Sudjianto adalah peneliti yang sudah sering bolak-balik ke Jepang, bahkan pernah tinggal cukup lama di sana. Dari pengalaman itulah novel ini bermula.
Sebagai akademisi, ia merasa ada sisi kehidupan masyarakat Jepang yang ingin ia sampaikan dengan cara berbeda. Jepang terkenal sebagai negara maju dan modern, tetapi nilai-nilai serta unsur budaya lamanya tidak begitu saja lenyap.
“Inspirasi itu dari pengalaman. Pengalaman bisa dari apa yang kita lakukan, yang kita baca, yang kita kenal. Semuanya bisa menjadi gagasan yang bisa dituangkan dalam sebuah karya,” katanya.
Menulis Tiga Naskah Sekaligus
Dalam proses penulisannya, Sudji hampir tidak menghadapi hambatan berarti. Tantangan terbesar baginya justru bukan soal ide atau kemampuan, melainkan soal fokus, karena ia terbiasa mengerjakan dua hingga tiga naskah dalam waktu yang bersamaan.
Namun, ia punya caranya sendiri untuk mengatasi itu. Ketika satu naskah terasa buntu atau mulai membosankan, ia tidak berhenti menulis. Ia beralih ke naskah lain, lalu kembali lagi saat sudah segar.
Dengan ritme seperti itu, Kokoro Kara berhasil ia selesaikan dalam waktu kurang dari setahun. Dalam satu tahun, ia bisa menerbitkan satu hingga tiga buku sekaligus.
Menemukan Detak Pustaka
Sebelum Kokoro Kara, Sudjianto sudah bekerja sama dengan penerbit lain untuk karya-karya non-fiksinya. Namun, untuk novel perdananya ini, ia merasa perlu mencari penerbit yang lebih sesuai, karena penerbit yang biasa ia gunakan belum merambah genre fiksi.
Ia kemudian menemukan Detak Pustaka lewat penelusuran di Google dan Instagram. Setelah membaca profilnya, ia merasa penerbit ini cocok untuk kebutuhannya.
Keputusan itu terbukti tepat. Kerja sama berjalan lancar, mulai dari proses penerbitan hingga pemasaran dan promosi. Kokoro Kara bahkan sempat menjadi salah satu judul favorit sekitar setahun yang lalu usai terbit.
Mulailah Menulis, Jangan Tunggu Sempurna
Kepada penulis pemula, Sudjianto punya satu pesan utama, yakni ubah cara pandang tentang menulis. Menurutnya, masyarakat Indonesia terlalu terbiasa mendengar dan berbicara, sementara menulis masih menjadi sesuatu yang berat dan tidak perlu.
Ia mengaku terinspirasi dari kebiasaan masyarakat Jepang yang tidak hanya rajin membaca, tetapi juga rajin menulis. Dari sana, ia meyakini bahwa siapapun sebetulnya punya potensi untuk menulis. Hanya saja, orang-orang membutuhkan keberanian untuk memulai.
Soal kualitas, ia meminta penulis pemula untuk tidak terlalu khawatir. “Bagus itu subjektif. Jangan takut salah, jangan takut dikritik, karena kritik justru baik untuk kita,” ujarnya.
Baginya, menulis membawa manfaat yang nyata, mulai dari sebagai cara menyebarkan ilmu, sebagai proses belajar yang mendorong seseorang untuk terus membaca, dan sebagai sumber penghasilan jangka panjang yang terus mengalir bahkan setelah penulis tiada.
Ia juga mengingatkan bahwa membaca dan menulis adalah dua hal yang tidak bisa terpisahkan. Banyak membaca tanpa menulis, kata dia, sama saja dengan menyimpan ilmu untuk diri sendiri. Sebaliknya, menulis tanpa membaca pun tidak akan menghasilkan karya yang berisi.
Literasi Indonesia
Di penghujung percakapan, Sudjianto berbicara soal rendahnya budaya membaca di Indonesia bukan permasalahan yang harus selesai oleh satu pihak saja. Ia menyebut tiga komponen yang harus ikut berperan. Pertama, keluarga, dengan membiasakan anak membaca sejak kecil, bukan sekadar memberi mereka gawai.
Kedua, dunia pendidikan, dengan menjadikan membaca sebagai kebiasaan. Kepada mahasiswanya sendiri, ia selalu mendorong agar minimal membaca dua buku dalam seminggu. Ketiga, pemerintah, dengan memperbanyak perpustakaan dan ruang baca hingga ke lapisan masyarakat paling bawah.
Ia kembali menunjuk Jepang sebagai contoh. Di sana, ruang baca tersedia hingga tingkat RT dan RW, perpustakaan keliling masih beroperasi, dan semuanya didukung oleh pemerintah. Menurutnya, itulah mengapa tingkat membaca masyarakat Jepang begitu tinggi, karena dibudayakan secara sistematis oleh semua pihak.
“Semua harus berperan,” tegasnya. Dan bagi Sudjianto, peran itu bisa dimulai dari hal paling sederhana, yakni duduk, buka komputer, dan mulai menulis.







