Sri Rahayu, Mahasiswi Sastra yang Jadi Juara Satu Lomba Puisi Halo Penyair

Berita, Pendidikan88 Dilihat

Kabar LamonganHalo Penyair—yang merupakan bagian dari Halo Penulis—kembali memilih juara lomba event menulis puisi. Juara kali ini diraih oleh Sri Rahayu, mahasiswi semester 5 jurusan sastra di salah satu universitas di Sumedang. Prestasi juara satu lomba puisi yang Rahayu raih ini tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Di usianya yang baru 20 tahun, pencapaian itu datang dari sesuatu yang paling sederhana, yakni untuk memenuhi tugas kuliah. Tidak ada rencana besar di balik keikutsertaan Rahayu dalam event ini. Ia mengakui, motivasi awalnya tidak datang dari rasa ambisius.

“Ikut event ini awalnya karena tugas aja, dan sekadar ingin mencoba juga,” ujarnya jujur.

Karena sudah berkecimpung di jurusan sastra, ajang tersebut menjadi semacam kewajiban yang kemudian berubah menjadi petualangan kreatif tak terduga.

Proses Kreatif yang Unik

Yang membuat prosesnya semakin menantang adalah tema rindu yang Halo Penyair usung untuk event kali ini. Pada saat itu, Rahayu sendiri merasa tidak sedang merasakan rindu kepada siapa pun. Alih-alih menyerah pada kebuntuan, ia mencari jalan lain.

“Saya coba pancing feelingnya dengan dengerin lagu-lagu bertema rindu supaya dapat ‘nyawa’ puisinya,” ceritanya.

Strategi sederhana itu ternyata bekerja. Puisi yang lahir dari bantuan melodi tersebut justru berhasil menyentuh hati para juri dan mengantarnya ke posisi pertama.

Tips yang Lahir dari Pengalaman Nyata

Lantas, apa yang membuat tulisannya berbeda? Rahayu tidak mengklaim memiliki formula ajaib. Baginya, kunci utama ada pada dua hal, yakni banyak membaca puisi dan tidak menunggu kondisi sempurna untuk mulai menulis.

“Banyak baca puisi biar dapat diksi yang mengandung estetika dan nggak literal banget,” katanya.

Ia juga menekankan bahwa proses menulis tidak harus menunggu inspirasi datang sendiri. Pengalamannya sendiri menjadi bukti, meski awalnya bingung dan tidak merasakan emosi yang sesuai tema, ia tetap duduk, menulis, dan membiarkan musik menuntun perasaannya.

Puisi yang Baik Menurutnya

Sebagai mahasiswi sastra, Rahayu punya pandangannya sendiri soal apa yang membuat sebuah puisi layak disebut baik. Menurutnya, puisi yang baik mampu menyeimbangkan estetika bahasa dengan kekuatan emosi secara bersamaan.

Pemilihan diksi harus tepat dan punya nyawa, bukan sekadar rangkaian kata indah. Diksi harus yang tepat adalah memuat kata-kata yang mampu menyentuh dan menggerakkan perasaan pembaca. Lebih dari itu, ia percaya puisi yang baik adalah puisi yang memberi ruang.

“Puisi itu memberikan ruang bagi pembaca untuk ikut merasakan dan menafsirkan makna di dalamnya, meskipun pesan tersebut tidak disampaikan secara langsung,” jelasnya.

Zona Nyaman yang Mulai Retak

Meski Rahayu lebih banyak mengisi keseharian dengan membaca, pengalaman di Halo Penyair rupanya meninggalkan sesuatu. Ia mengakui mulai merasakan ketertarikan untuk lebih aktif menulis dan mengikuti event-event lain ke depannya.

“Setelah event kemarin jujur ada rasa tertarik untuk eksplor lagi, karena ternyata seru,” ungkapnya.

Pesan untuk Halo Penyair dan Dunia Sastra Indonesia

Kepada Halo Penyair, Rahayu menitipkan kesan yang tulus. Baginya, platform ini adalah ruang yang suportif, terutama bagi penulis pemula yang baru ingin mencoba. Lewat pengalamannya sendiri, ia belajar bahwa kreativitas bisa datang dari mana saja. Baik itu dari tugas, dari musik, bahkan dari ketidaksiapan sekalipun.

Pandangannya soal sastra Indonesia pun tidak kalah hangat. Ia berharap sastra bisa semakin dekat dengan semua kalangan dan tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang berat atau eksklusif.

Ia juga mendambakan hadirnya lebih banyak ruang kreatif yang membebaskan penulis untuk bereksperimen, dengan memadukan unsur tradisional dan tren modern, tanpa kehilangan identitasnya.

“Diharapkan apresiasi terhadap karya lokal juga terus meningkat, sehingga sastra bisa menjadi identitas yang membanggakan dan media efektif untuk menuangkan ekspresi atau keresahan masyarakat,” tutupnya.

Dari sebuah tugas yang awalnya terasa biasa, Sri Rahayu membuktikan bahwa karya yang tulus, meski lahir dari keterpaksaan, tetap bisa berbicara. Dan terkadang, justru di situlah sebuah puisi menemukan nyawanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *