Kabar Lamongan – Sisma Rafanda Azzahra, akrab disapa Sisma, adalah sosok di balik naskah “Kasih Tak Sampai” yang berhasil meraih Juara 1 dalam ajang Halo Penyair batch 17. Menariknya, ini merupakan kali pertama Sisma mengikuti lomba menulis puisi.
Di luar aktivitas menulisnya, keseharian Sisma tidak jauh berbeda dengan remaja lain pada umumnya. Sebagai remaja, ia menjalani rutinitas dengan sekolah sekaligus membantu pekerjaan orang tua di rumah.
Awal Mula Jatuh Cinta pada Dunia Menulis
Kecintaan Sisma terhadap dunia tulis-menulis sudah tumbuh sejak ia duduk di bangku kelas 8. Namun, kegemaran itu baru benar-benar ia uji ke ranah kompetisi pada 8 Mei. Saat itu, ia memutuskan mengirimkan karyanya ke lomba Halo Penyair.
Alasan di balik keputusan itu cukup sederhana. Sisma Rafanda Azzahra merasa sayang jika tulisannya hanya berhenti di atas kertas, tanpa pernah ia bagikan kepada orang lain.
Inspirasi dari Kalimat yang Tak Pernah Tersampaikan
Naskah “Kasih Tak Sampai” lahir dari satu kalimat yang tidak pernah sempat Sisma sampaikan kepada seseorang di hidupnya. Dari sana, ia menyadari bahwa banyak orang di luar sana turut menyimpan versi “kasih tak sampai” mereka masing-masing.
Kesadaran itulah yang menjadi pendorong terbesarnya untuk mengikuti lomba. Harapan Sisma sendiri sangat sederhana, yaitu siapa tahu naskahnya bisa membawa keberuntungan.
Tantangan di Balik Proses Penulisan
Menulis dari pengalaman pribadi ternyata tidak lepas dari pergulatan batin. Sisma mengaku sempat ragu-ragu sebelum akhirnya memberanikan diri meminta izin kepada sosok yang menjadi inspirasi tulisannya untuk menggunakan namanya dalam naskah.
Selain itu, proses menulis pun kerap terinterupsi oleh panggilan untuk membantu orang tua di rumah. Tidak hanya itu, menulis ulang kisah tersebut juga membuat Sisma kembali teringat dan merindukan sosok yang ia tuliskan.
Respons Hangat dari Sang Inspirasi
Sosok yang menjadi inspirasi dalam naskah tersebut ternyata mengetahui bahwa karya itu berhasil meraih juara. Responsnya pun cukup hangat, ia mengucapkan selamat sekaligus menyemangati Sisma untuk terus menulis dan mengikuti lomba-lomba berikutnya.
“Pas tau dia bilang ‘congrats yaa, semangat untuk menulis dan mengikuti lomba selanjutnya,'” ungkap Sisma.
Tips untuk Penulis Pemula
Meski masih menganggap dirinya pemula, Sisma tidak segan membagikan beberapa hal yang ia pelajari selama proses tersebut. Menurutnya, langkah pertama adalah menulis saja tanpa terlalu memikirkan kemungkinan kalah, sebab ia sendiri tidak pernah menyangka “Kasih Tak Sampai” akan terpilih sebagai juara.
Ia juga menekankan pentingnya kejujuran dalam bercerita, menulis sesuai apa yang benar-benar terasa di hati, bukan sekadar mengikuti tren yang sedang ramai.
Satu hal lagi yang ia garis bawahi adalah pentingnya bertahan di tahap revisi, karena menurutnya sebuah naskah yang layak menang lebih banyak karena proses penyuntingan ketimbang ide awal semata.
Writer’s Block Bukan Soal Kehabisan Ide
Sisma juga membagikan pengalamannya menghadapi writer’s block. Baginya, kebuntuan menulis bukan karena kehabisan ide, melainkan oleh rasa takut yang berlebihan. Takut tulisan tidak sebaik yang ia bayangkan.
Untuk mengatasinya, ia memiliki cara sendiri, yakni tetap menulis meski hasilnya terasa kurang memuaskan. Menurutnya, tulisan yang kosong tidak akan pernah bisa penulis perbaiki. Sementara, tulisan yang sudah ada, sejelek apa pun, masih bisa penulis sunting menjadi lebih baik.
Halo Penyair sebagai Rumah
Bagi Sisma, keikutsertaannya di Halo Penyair meninggalkan kesan mendalam. Ia menggambarkan ajang tersebut layaknya sebuah rumah. Tempat yang mengajarkannya bahwa naskah yang semula ia anggap “tak sampai” ternyata tetap bisa menemukan tempatnya untuk sampai. Rasa terima kasih pun ia sampaikan atas kesempatan tersebut.
“Makasih banyak,” katanya.
Harapan untuk Sastra Indonesia dan Mimpi Menerbitkan Buku Solo
Menutup perbincangan, Sisma menitipkan harapannya untuk dunia sastra Indonesia ke depan. Ia berharap sastra Tanah Air dapat menjadi rumah yang pintunya tidak pernah tertutup bagi siapa pun, baik pelajar, ibu rumah tangga, maupun perantau.
Sisma pun tidak menutupi keinginannya untuk suatu saat menerbitkan buku solo. Baginya, tujuan itu bukan soal ketenaran, melainkan harapan agar suatu hari ada satu buku miliknya yang terpajang di rak seseorang, dan ketika dibuka, orang tersebut bisa berkata, “loh, ini aku banget.” Bagi Sisma, itu sudah lebih dari cukup.







