Kabar Lamongan – Bermula dari kesulitan mencari bahan ajar, seorang jurnalis televisi nasional bernama Saifal akhirnya memutuskan menulis bukunya sendiri. Buku berjudul Jurnalisme Media Elektronik Dan Tantangan Era Viralisasi Media Sosial itu kini telah terbit bersama Detak Pustaka.
Saifal lahir di sebuah desa di Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara. Selain aktif menulis, kesehariannya juga ia isi dengan bekerja sebagai jurnalis di sebuah stasiun televisi nasional. Tak hanya itu, ia juga mengajar sebagai dosen luar biasa (LB) di salah satu kampus swasta di Bandung.
Buku yang ia tulis membahas bagaimana dunia jurnalistik dapat mempertahankan integritas di tengah derasnya arus viralisasi media sosial. Di mana, hal tersebut tak jarang membuat batas antara fakta dan sensasi menjadi kabur.
Selain itu, buku ini juga mengulas berbagai aspek jurnalisme media elektronik secara menyeluruh, mulai dari sejarah, etika, tahapan liputan, tantangan, hingga karakteristik jurnalisme di ranah media sosial.
Lahir dari Kelangkaan Referensi
Ketertarikan Saifal menulis buku ini bermula dari pengalamannya sendiri. Saat itu, ia mendapat tugas mengajar mata kuliah jurnalisme media elektronik, namun kesulitan menemukan buku dengan topik serupa meski sudah mencari ke berbagai toko buku.
Ia menemukan bahwa buku yang beredar kebanyakan membahas jurnalisme media digital, padahal media elektronik dan media digital merupakan dua hal yang berbeda. Kekosongan referensi inilah yang mendorongnya untuk menulis buku tersebut.
Dua hingga Tiga Tahun Menulis di Sela Kesibukan
Proses penulisan buku ini memakan waktu cukup panjang, sekitar dua hingga tiga tahun. Penyebabnya, kesibukan Saifal sebagai jurnalis dan dosen dengan mata kuliah yang berganti-ganti membuat waktu menulis menjadi terbatas.
Selain soal waktu, ia juga mengaku fokusnya kerap terpecah, sehingga setiap kali hendak melanjutkan tulisan, ia harus membaca ulang referensi terlebih dahulu. Minimnya sumber bacaan untuk topik ini turut membuat proses penulisan terasa berat.
Namun, titik balik datang pada bulan Ramadan 2026. Di bulan itu, Saifal memilih untuk memfokuskan diri pada ibadah sekaligus menulis, dan pada akhirnya ia bersyukur bisa menyelesaikan naskah bukunya.
“Buku ini bisa selesai pada saat bulan Ramadan 2026. Saat itu saya memutuskan untuk fokus ibadah dan menulis, dan alhamdulilah Allah beri kemudahan untuk menyelsaikannya,” ungkapnya.
Pesan di Balik Setiap Halaman
Saifal berharap buku yang sarat nilai-nilai kebaikan ini dapat mengingatkan para jurnalis, khususnya jurnalis muslim, untuk senantiasa menjaga integritas dalam berkarya.
Ia menegaskan bahwa karya jurnalistik tidak hanya dipertanggungjawabkan di hadapan publik, tetapi juga di hadapan Allah SWT. Baginya, harapan terbesar adalah agar tulisan ini dapat menjadi amal jariyah yang membawa manfaat bagi banyak orang.
Detak Pustaka sebagai Pilihan
Saifal menjelaskan alasannya memilih Detak Pustaka sebagai penerbit, yakni karena profesionalisme dan pelayanan yang dinilainya sangat baik. Ia menambahkan, penerbit ini juga terbuka untuk diajak berdiskusi dan menerima masukan dari penulis selama proses penerbitan.
Tak berhenti di satu karya, Saifal mengaku masih memiliki keinginan menulis buku dengan tema lain di masa mendatang, dan berharap dapat kembali bekerja sama dengan Detak Pustaka.
Pesan untuk Calon Penulis
Bagi penulis pemula yang ingin menerbitkan karya pertamanya, Saifal berpesan agar tidak menjadikan keuntungan materi sebagai tujuan utama menulis. Menurutnya, yang lebih penting adalah niat agar karya tersebut kelak menjadi amal jariyah.
“Menulis lah dan jangan mengharapkan materi dulu dari karya kita, yang terpenting adalah kita berharap ada amal jariyah dari karya buku kita,” pesannya.
Ia juga berharap dunia literasi Indonesia terus tumbuh sehingga anak-anak bangsa semakin kaya akan ilmu pengetahuan. Menurutnya, literasi adalah hal serius yang tidak boleh dikelola secara asal-asalan. Selain itu, ia juga berharap para penerbit buku turut mendapat perhatian serta dukungan yang lebih besar ke depannya.
“Harapan saya literasi terus berkembang, sehingga anak-anak indonesia semakin kaya akan ilmu pengetahuan,” pungkasnya.







