Program Bongkar Ratoon 2026, Lamongan Targetkan 1.385 Hektare Lahan Tebu

Berita, Peristiwa73 Dilihat

Kabar Lamongan – Pemerintah Kabupaten Lamongan terus mengoptimalkan penggunaan mekanisasi dalam budidaya tebu melalui Program Bongkar Ratoon 2026. Langkah tersebut dilakukan untuk meningkatkan produktivitas sekaligus menekan biaya produksi yang harus ditanggung petani.

Bupati Lamongan, Yuhronur Efendi, menjelaskan bahwa mekanisasi menjadi bagian dari komitmen pemerintah daerah dalam mendukung program swasembada gula, salah satunya melalui peremajaan tanaman tebu yang sudah berusia tua.

“Mulai penanaman bibit ini akan menggunakan mekanisasi. Kita tunjukkan komitmen untuk program swasembada gula. Kita terus semangat dan kita kawal bersama,” katanya di Lamongan, Kamis (01/10/2026).

Bupati Yuhronur menjelaskan, Program Bongkar Ratoon telah dilaksanakan sejak 2025 hingga 2026. Untuk 2026, program tersebut menargetkan lahan seluas 1.385 hektare. Dari target tersebut, alokasi lahan yang telah tersedia mencapai 1.121,43 hektare. Dengan demikian, masih terdapat potensi penambahan lahan sekitar 264 hektare.

Menurut Yuhronur, penerapan mekanisasi dalam budidaya tebu dibutuhkan untuk meringankan beban petani, menekan biaya produksi, sekaligus mendorong peningkatan produktivitas tanaman.

Berdasarkan data Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Lamongan, produksi tebu hingga September 2026 tercatat mencapai 1.519.314,75 kuintal. Sementara produktivitasnya berada di angka 650 kuintal per hektare.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Lamongan Mugito mengatakan, pengembangan komoditas tebu merupakan tindak lanjut dari kebijakan pemerintah pusat sekaligus bagian dari dukungan terhadap program prioritas daerah.

“Dengan alat-alat ini kita bisa menekan biaya produksi dan meningkatkan hasil produksi secara lebih efektif,” katanya.

Penanaman perdana Program Bongkar Ratoon 2026 dilaksanakan di lahan Gapoktan Sumber Mulyo Mutiara Abadi seluas 90 hektare, Desa Gampangsejati, Kecamatan Laren. Dalam program tersebut, petani menggunakan varietas Panjalu 1 yang memiliki rendemen di atas 10 persen.

Ketua Poktan Sumber Mulyo Mutiara Abadi, Septi Wahyu, mengatakan penggunaan mekanisasi memberikan manfaat bagi petani, terutama dalam menghemat kebutuhan tenaga kerja dan biaya budidaya.

Ia juga optimistis pengembangan komoditas tebu di Lamongan akan semakin kuat. Terlebih, daerah tersebut memiliki industri pengolahan gula sehingga petani mendapat dukungan pasar untuk hasil produksi tebu mereka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *