Produksi Garam Lamongan 2026 Meningkat, Petambak Andalkan Cuaca Cerah

Bisnis, Desa126 Dilihat

Kabar Lamongan – Petambak garam di Desa Brengkok, Kecamatan Brondong, Kabupaten Lamongan, menyebut produksi garam pada 2026 lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya. Kondisi tersebut salah satunya didukung oleh cuaca yang cerah selama musim produksi.

Salah satu petambak garam dari Kelompok Garam Karya Makmur, Sodikin, mengatakan terdapat sejumlah faktor yang mendukung peningkatan produksi tahun ini. Faktor tersebut antara lain keterampilan penggarap, tenaga kerja yang kuat, cuaca cerah, serta ketersediaan bahan baku berupa air laut.

“Alhamdulillah, produksi tahun ini lebih bagus. Cuaca sangat mendukung sehingga hasilnya lebih banyak dibandingkan 2025,” ujarnya, Jumat (04/09/2026), seperti yang dikutip dari Antara.

Sodikin memperkirakan produksi garam di lahan yang dikelolanya hingga akhir November 2026 bisa mencapai sekitar 140-160 ton per hektare.

Meski produksi meningkat, ia mengatakan petambak masih menghadapi sejumlah kendala, salah satunya keterbatasan geomembran atau plastik pelapis meja kristalisasi. Menurutnya, penggunaan geomembran berpengaruh terhadap kualitas garam yang dihasilkan.

“Kalau tidak dilapisi geomembran, hasil garamnya kurang bagus dan warnanya cenderung kuning,” katanya.

Ia menambahkan, harga garam di tingkat petambak saat ini berada di kisaran Rp900 hingga Rp1.000 per kilogram. Oleh karena itu, pihaknya berharap pemerintah dapat membantu menyediakan geomembran untuk mendukung peningkatan kualitas sekaligus produksi garam rakyat.

“Harapannya pemerintah memberikan bantuan geomembran dan jangan sampai mengimpor garam dari luar,” katanya.

Sementara itu, Plt Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Lamongan, Joko Nursiyanto, mengatakan produksi garam rakyat di daerah tersebut hingga Juli 2026 telah mencapai 437 ton. Produksi itu dihasilkan oleh 293 petambak.

“Pada 2026 kami melakukan pembinaan dan pelatihan kepada petambak garam, serta memberikan bantuan sarana produksi berupa 40 gerobak sorong dan 40 pasang sepatu bot,” katanya.

Joko menyebutkan, sentra produksi garam di Kabupaten Lamongan berada di lima desa yang berada di Kecamatan Brondong. Kelima desa tersebut yakni Sedayulawas, Lohgung, Labuhan, Brengkok, dan Sidomukti.

Berdasarkan data dinas setempat, produksi garam Lamongan pada 2025 tercatat sebanyak 2.896,45 ton atau baru mencapai 9,57 persen dari target 30.240 ton. Produksi tersebut berasal dari lahan seluas 217 hektare.

Penurunan produksi pada 2025 dipengaruhi kondisi kemarau basah serta tingginya intensitas hujan yang menghambat produksi garam.

Sementara itu, pada 2024 produksi garam Lamongan mencapai 30.166,62 ton. Jumlah tersebut bahkan melampaui target yang ditetapkan sebesar 29.400 ton dengan luas lahan mencapai 225 hektare.

Upaya peningkatan produksi garam rakyat di Lamongan tersebut sejalan dengan target pemerintah pusat untuk mewujudkan swasembada garam nasional dengan menghentikan impor garam pada 2029.

Pemerintah menargetkan produksi garam nasional mencapai 2,5 juta ton pada 2026. Target tersebut kemudian meningkat menjadi 3,5 juta ton pada 2027 dan mencapai 5 juta ton pada 2029.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *