Peternak Ayam Petelur Lamongan Menjerit, Harga Anjlok dan Pakan Melambung

Bisnis72 Dilihat

Kabar Lamongan – Peternak ayam petelur rakyat di Kabupaten Lamongan kini tengah berada di ujung tanduk. Sudah beberapa pekan terakhir, harga telur terus merosot dan membuat banyak peternak lokal kesulitan menutup biaya operasional sehari-hari.

Di tingkat peternak, harga telur ayam saat ini hanya menyentuh angka Rp21.500 per kilogram. Padahal, dalam kondisi normal harga biasanya bertahan di kisaran Rp25.000 sampai Rp26.000 per kilogram. Selisih yang cukup jauh itu langsung terasa dampaknya, terutama bagi peternak kecil yang modalnya terbatas.

Kondisi ini salah satunya dirasakan para peternak di Desa Sumberrejo, Kecamatan Mantup. Di saat harga jual telur terus turun, harga pakan pabrikan justru melambung. Pakan yang sebelumnya dijual di kisaran Rp390.000 hingga Rp395.000 per karung isi 50 kilogram, kini naik menjadi Rp410.000 hingga Rp450.000 per karung.

Salah satu peternak setempat, Supardi Hardy, mengungkapkan betapa beratnya tekanan yang dirasakan para peternak skala kecil saat ini.

“Harga telur saat ini mengalami penurunan cukup besar. Kalau kondisi ini terus terjadi, peternak rakyat bisa gulung tikar,” kata Supardi, dikutip dari TribunJatim.com, Kamis (21/05/2026).

Akibat ketimpangan antara pendapatan dan biaya produksi itu, kerugian operasional kini menjadi hal yang nyaris dihadapi peternak setiap harinya.

Para peternak pun mulai bersuara dan mendesak pemerintah segera turun tangan melakukan intervensi pasar. Mereka meminta harga telur distabilkan sekaligus harga pakan pabrikan ditekan agar tidak semakin mencekik.

“Kami berharap pemerintah segera menstabilkan harga telur dan menurunkan harga pakan ayam pabrikan agar peternak rakyat bisa bertahan,” ujar Supardi.

Tak hanya soal pakan, Supardi juga menyoroti adanya dugaan praktik tata niaga yang tidak sehat dalam rantai distribusi telur ayam. Ia meminta pemerintah serius menindak dugaan permainan harga yang selama ini dinilai merugikan peternak rakyat, khususnya peternak mandiri dengan populasi ternak di bawah 10.000 ekor.

Jika situasi ini terus dibiarkan tanpa ada solusi nyata, Supardi memperingatkan bahwa peternak ayam petelur mandiri di Lamongan akan satu per satu berhenti berproduksi karena tidak sanggup lagi menanggung kerugian yang berlarut-larut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *