Pengrajin Songkok Lamongan Terjepit Akibat Naiknya Harga Bahan Baku

Bisnis75 Dilihat

Kabar Lamongan – Para pengrajin songkok di Kabupaten Lamongan kini tengah dihadapkan pada situasi yang tidak mudah. Lonjakan harga bahan baku yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir perlahan mulai menggerus keuntungan mereka, terutama para pelaku usaha rumahan yang berpusat di Kecamatan Kalitengah.

Meski roda produksi masih berputar seperti biasa, kekhawatiran itu sudah mulai menyelinap di benak para pengrajin. Ainur Rokhim, salah satu pengrajin asal Desa Butungan sekaligus pemilik merek songkok Al-Wahid, menyebut kenaikan harga terjadi hampir merata di semua komponen bahan pendukung.

“Semua naik. Plastik mika sekarang sudah Rp240 ribu, padahal sebelumnya sekitar Rp220 ribu,” ujarnya, dikutip dari jatim.tribunnews.com, Kamis (16/04/2026).

Ia merinci, plastik mika ukuran 25 meter kini dibanderol antara Rp220 ribu hingga Rp240 ribu. Harga kertas turut merangkak naik ke angka Rp27 ribu sampai Rp30 ribu per kodi. Biaya sablon pun ikut terkerek, dari yang semula Rp5 ribu kini menjadi Rp6 ribu per unit.

Kardus songkok saat ini dihargai Rp1.800 hingga Rp2.200 per pieces, sementara kantong plastik pembungkus naik ke kisaran Rp80 ribu hingga Rp110 ribu per 10 ikat. Yang cukup terasa, harga box besar isi 20 pieces melonjak cukup signifikan dari Rp85 ribu menjadi Rp110 ribu.

“Semua komponen naik, jadi biaya produksi ikut terdongkrak,” jelasnya.

Satu-satunya yang masih memberi sedikit ruang napas bagi para pengrajin adalah harga kain bludru yang hingga kini masih relatif stabil. Kain bludru impor masih berada di kisaran Rp94 ribu per yard (90 cm). Namun tetap saja, kenaikan di sisi bahan pendukung membuat total ongkos produksi ikut membengkak.

Di tengah tekanan itu, para pengrajin songkok Lamongan memilih untuk belum menaikkan harga jual demi menjaga kepercayaan pembeli. Songkok masih dijual di angka Rp21 ribu per buah atau setara Rp420 ribu per kodi.

“Sampai hari ini, kami belum naikkan harga jual, takut pembeli turun,” kata Ainur.

Namun, kondisi ini dinilai tidak bisa bertahan selamanya. Jika tren kenaikan harga bahan baku terus berlanjut, para pengrajin mengaku tidak punya pilihan selain menyesuaikan harga jual.

“Kalau satu bulan ke depan masih naik terus, terpaksa harga jual kami naikkan untuk menghindari kerugian,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *