Pemkab Lamongan Maksimalkan 17 Pompa untuk Atasi Banjir di Lima Kecamatan

Berita, Peristiwa67 Dilihat

Kabar Lamongan – Pemerintah Kabupaten Lamongan terus memaksimalkan upaya penanganan banjir yang melanda lima kecamatan, yakni Kalitengah, Deket, Turi, Karangbinangun, dan Glagah. Salah satu langkah yang saat ini diandalkan adalah mengoptimalkan seluruh pompa air yang tersedia di lapangan.

Bupati Lamongan, Yuhronur Efendi, menegaskan bahwa pompanisasi menjadi solusi paling cepat dan realistis untuk menurunkan debit air. Menurutnya, hingga Jumat (20/02/2026), masih terdapat selisih ketinggian air sekitar 66 sentimeter antara bagian dalam dan luar pintu kuro. Kondisi tersebut membuat pintu kuro belum dapat dibuka.

“Langkah yang bisa kita lakukan sekarang pompanisasi, untuk mengurangi dengan cara lain masih belum efektif,” ujar Bupati yang akrab disapa Pak Yes itu saat mendampingi Deputi Bidang Penanganan Darurat BNPB, Budi Irawan, meninjau wilayah terdampak di Dusun Meluke, Desa Sidomulyo, Kecamatan Deket.

Ia menjelaskan, perbedaan tinggi muka air antara bagian dalam dan luar pintu kuro masih belum memungkinkan untuk dilakukan pembuangan air secara optimal. Oleh karena itu, Pemkab berharap intensitas hujan dalam beberapa hari ke depan bisa menurun agar pengendalian debit air dapat berjalan lebih maksimal.

Banjir di kawasan Bengawan Jero sendiri bukan peristiwa baru. Fenomena ini terjadi hampir setiap tahun, terutama dipicu oleh tingginya curah hujan. Seluruh aliran air dari 15 kecamatan bermuara ke Bengawan Solo, yang menjadi satu-satunya jalur pembuangan utama, dengan pintu kuro sebagai titik krusialnya.

Saat debit air Bengawan Solo meningkat dan pintu kuro tak bisa dibuka, air pun meluap dan menggenangi permukiman serta lahan pertanian di sekitarnya.

Selain faktor hujan, Pak Yes juga menyoroti luapan Waduk Gondang yang turut menambah volume air menuju Bengawan Jero. Pendangkalan waduk menyebabkan kapasitas tampungnya menyusut hingga 65 persen. Untuk itu, upaya pendalaman waduk dan normalisasi sungai terus dilakukan bekerja sama dengan BBWS.

Saat ini, sebanyak 15 pompa telah dioperasikan di sejumlah titik terdampak, ditambah dua pompa aktif lainnya. Rata-rata pompa bekerja selama 14 jam per hari dengan kapasitas 549 liter per detik. Untuk memperkuat penanganan, BNPB turut menambah satu unit pompa mobile berkapasitas 500 liter per detik, lima unit perahu, serta tenda darurat.

“Kami ingin masalah banjir di Lamongan bisa segera terselesaikan. Yang paling penting adalah menambah pompa dan melihat kemungkinan penggunaan pompa berkapasitas besar agar air di daerah terdampak bisa teratasi,” tutur Budi.

Dalam kesempatan yang sama, Pak Yes bersama Deputi Bidang Penanganan Darurat BNPB juga menyalurkan bantuan logistik berupa 250 kilogram beras.

Bantuan tersebut dibagikan secara merata kepada warga Desa Sidomulyo (Kecamatan Deket) dan Desa Kuro (Kecamatan Karangbinangun) sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat terdampak banjir.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *