Nanang Nualdy: Kisah, Kopi, dan Puisi dari Delapan Tahun Perjalanan

Berita, Peristiwa103 Dilihat

Kabar Lamongan – Para penulis selalu menyimpan kisah menariknya di sela proses berkarya. Salah satunya adalah Nanang Nualdy, penulis buku Oleh-Oleh Khas Sepi. Di balik mesin kopi dan aromanya yang menyeruak di sebuah kedai di Makassar, Nang–sapaan akrabnya–berhasil menerbitkan sebuah buku kumpulan puisi.

Buku tersebut merupakan sebuah karya yang tidak datang tiba-tiba, melainkan merupakan hasil perjalanan panjang selama delapan tahun. Konsistensi yang ia bangun bertahun-tahun itu berhasil membawanya ke perjalanan baru di dunia tulis-menulis.

Kegelisahan yang Akhirnya Menemukan Jalan

Nang tidak menyebut dirinya sebagai penyair. Ia hanya seorang anak muda yang suatu waktu merasa hidupnya berjalan di tempat, dan tidak tahu harus menceritakannya kepada siapa. Dari situlah puisi-puisi dalam bukunya bermula. Semua tulisan itu tercipta dari perasaan gelisah yang terus tumbuh dan menuntut untuk dikeluarkan.

Tema-tema dalam buku ini mencerminkan apa yang pernah ia lalui. Mulai dari kejenuhan terhadap hidup yang terasa monoton, kehilangan, proses bangkit kembali, jatuh cinta, hingga rasa cinta yang diam-diam ia simpan untuk kedua orang tuanya, semuanya tertuang dalam satu karya.

Inspirasinya tidak datang dari satu sumber tunggal. Sebagian inspirasi berasal dari pengalamannya sendiri, sebagian lagi dari orang-orang yang hidupnya sempat bersinggungan dengannya.

Soal mengapa ia memilih puisi dibanding bentuk tulisan lain, jawabannya lugas. Puisi memberinya kebebasan untuk benar-benar meresapi setiap kata yang ia tulis.

“saya menuangkan lewat puisi karena dengan puisi saya bisa mengekspresikan dan meresapi setiap kata yang saya tulis,” ungkapnya.

Delapan Tahun dalam Diam

Perkenalan Nang dengan puisi terjadi pada 2018. Sejak saat itu ia sudah menulis, tetapi keinginan untuk menerbitkan buku terpaksa ia tunda.

Dua hal yang menghalanginya adalah keterbatasan ekonomi, dan kurangnya pemahaman tentang proses penerbitan. Alih-alih berhenti, ia memilih terus menulis dan membiarkan tumpukan puisinya bertambah dari tahun ke tahun.

Titik baliknya datang pada 2025, ketika ia tidak sengaja menemukan akun Instagram Detak Pustaka. Dengan keberanian yang sudah lama ia kumpulkan, Nang akhirnya mengirim pesan dan menanyakan syarat-syarat penerbitan. Proses pun berjalan, dan pada 2026, Oleh-Oleh Khas Sepi resmi hadir di tangan pembaca.

Kopi, Musik, dan Cara Menghadapi Kebuntuan

Delapan tahun menulis tentu bukan perjalanan yang selalu mulus. Nang mengakui bahwa writers block pernah mampir, tetapi ia tidak pernah menganggapnya sebagai masalah besar. Ketika inspirasi buntu, ia tidak memaksakan diri. Ia menyeduh kopi, memutar musik, membiarkan kepalanya beristirahat sejenak, lalu kembali menulis.

Prinsipnya dalam menulis adalah tidak pernah mengejar kesempurnaan. Yang penting baginya adalah menuliskan apa yang sedang ia rasakan saat itu juga. Urusan apakah tulisan itu bagus atau tidak, ia serahkan sepenuhnya kepada pembaca.

“Kalau soal hambatan mungkin tidak ada, karena saya selalu berusaha tetap nulis kapan dan di mana pun itu, kalau inspirasinya lagi ada,” katanya.

Puisi untuk Orang Tua

Salah satu bagian yang paling personal dalam buku ini adalah puisi-puisi yang Nang dedikasikan untuk orang tuanya. Namun, ada yang unik, karena hingga buku ini terbit, kedua orang tuanya belum mengetahuinya. Nang belum menceritakannya kepada mereka.

Meski begitu, ia tidak berniat menyembunyikannya selamanya. Suatu saat, ia ingin memberitahu bahwa ada puisi tentang mereka di sana, dan bahwa buku itu bisa menjadi sesuatu yang bisa dikenang. Bahkan, saat ia sudah tidak ada lagi.

Rencana Berikutnya dengan Novel dan Puisi

Bagi Nanang Nualdy, menerbitkan buku pertama bukan berarti perjalanan menulis telah selesai. Ia sudah menyiapkan proyek berikutnya, yakni sebuah novel yang ia rancang dengan cara yang tidak biasa. Ia berencana menuliskan satu puisi pada setiap babnya. Ini adalah sebuah konsep unik, terutama untuk penulis puisi sepertinya.

Pesan dari Seorang yang Pernah Sepi

Di ujung perbincangan, Nang menitipkan harapan yang sederhana namun hangat untuk siapa pun yang nantinya membaca bukunya. Ia ingin pembaca tahu bahwa kesepian tidak seseram yang sering orang-orang bayangkan. Bahkan, perasaan sedih atau terpuruk yang seseorang rasakan bukanlah beban yang hanya mereka pikul sendirian di dunia ini.

Kepada mereka yang tidak punya tempat untuk bercerita, Nang menyarankan hal yang sama yang ia lakukan bertahun-tahun, yaitu menulis. Dan untuk mereka yang sedang berjuang, ia meninggalkan kalimat yang begitu menyentuh.

“Nikmati lukanya sampai sembuh, sampai tragedi bisa menjadi komedi,” pungkasnya.

Kisah dari Nanang Nualdy hadir dari sebuah kesederhanaan. Dari aroma kopi, musik yang menenangkan, serta kesabaran, ia mampu menghadirkan karya berkesan. Buku karya Nang ini bisa kamu temukan lewat detakpustakatoko.com.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *