Mujibu Da’wat Lahirkan Buku Jujur Itu Mahal di Tengah Kesibukan Kerja, Kuliah, dan Aktivitas Masjid

Berita, Nasional379 Dilihat

Kabar Lamongan – Di sela pekerjaannya sebagai HRD Manager, kuliah, dan aktivitas di masjid, Mujibu Da’wat menyelesaikan sebuah buku dalam waktu sekitar tujuh bulan. Buku berjudul Jujur Itu Mahal Membangun Karakter dari Keputusan-Keputusan Kecil itu berhasil terbit melalui Penerbit HAS.

Pria dengan sapaan akrab Mujib ini sehari-harinya bekerja sebagai HRD Manager di sebuah perusahaan yang bergerak di berbagai sektor. Ia juga sedang menempuh pendidikan S1 Hukum.

Di luar pekerjaan tersebut, ia aktif dalam kegiatan sosial keagamaan sebagai Pengurus DKM di masjid. Sementara itu, kegiatan di rumah Mujib habiskan sebaai seorang suami sekaligus ayah dari dua anak.

Berawal dari Pengalaman Sehari-hari

Jujur Itu Mahal lahir dari pengalaman dan refleksi Mujib tentang bagaimana karakter dan kejujuran terbentuk lewat keputusan-keputusan kecil dalam kehidupan sehari-hari. Mujib mengaku banyak terinspirasi oleh permasalahan yang ia temui di sekitar, baik di lingkungan kerja, keluarga, maupun masyarakat.

Dorongan terbesarnya menerbitkan buku adalah keinginan mengubah pengalaman menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain, sekaligus berbagi nilai kehidupan. Ada pula dorongan dari seorang mentor yang menyarankannya memperkenalkan pemikiran dan pengalamannya kepada publik lewat sebuah buku.

Sebagai penulis pemula, Mujib mengakui prosesnya cukup panjang. Mujib membutuhkan sekitar tujuh bulan hingga naskah selesai dan diterbitkan. Selama itu, ia berusaha menyusun naskah yang reflektif dan memuat pembelajaran yang relevan bagi pembaca.

Mengatur Waktu di Tengah Kesibukan

Untuk menyeimbangkan pekerjaan dan menulis, Mujib memasukkan kegiatan menulis ke dalam jadwal prioritas mingguannya. Sang mentor—yang juga pimpinan di tempat kerjanya—ikut mendorongnya, sehingga proses penulisan punya ruang konsentrasi tersendiri.

Waktu luang paling banyak ia dapat saat libur semester tahun ini. Ia juga mengambil cuti kerja ketika anak-anaknya libur sekolah. Menurutnya, menulis sambil berlibur cukup produktif.

“Cukup surprise juga melebihi espektasi awal ingin menerbitkan saat ulang tahun saya ke-40 pada bulan November,” ujarnya.

Tantangan dan Pengorbanan Keluarga

Hambatan terbesar selama menulis, kata Mujib, adalah pembagian waktu dan suasana hati yang kerap terganggu. Saat suasana hatinya kurang baik, ia sulit melanjutkan tulisan. Untuk mengatasinya, ia memilih tempat menulis yang kondusif, seperti kafe atau food court yang tenang, terutama pada akhir pekan.

Proses ini juga menuntut pengorbanan dari keluarganya. Mereka harus berlibur tanpa kehadirannya. Saat ke pusat perbelanjaan, istri dan anak-anaknya berjalan-jalan, sementara Mujib mencari tempat yang cocok untuk menulis.

Alasan Memilih Penerbit HAS

Sebelum menjatuhkan pilihan, Mujib menyaring beberapa penerbit dengan empat kriteria. Pertama, tersedia editor yang memberi masukan pada naskah. Kedua, naskah dapat memiliki ISBN dan HAKI. Ketiga, biaya relatif terjangkau. Keempat, ada manfaat tambahan seperti royalti dan pemasaran.

Dari keempat kriteria di atas, menurut Mujibu Da’wat, Penerbit HAS memiliki akumulasi yang lebih baik dibandingkan penerbit lain yang sejenis. Oleh karena itu, pilihan akhirnya jatuh pada Penerbit HAS.

Rencana ke Depan

Mujibu Da’wat berkeinginan menerbitkan buku lagi. Ia menyebut masih memiliki naskah lama yang perlu sedikit penyesuaian dengan situasi terkini. Rencananya, ia akan meninjau kembali naskah tersebut pada awal tahun depan.

“Mungkin awal tahun depan saya lihat kembali naskah tersebut,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *