Kabar Lamongan – Tidak banyak yang menyangka seorang mahasiswa introvert asal Medan bisa menerbitkan sebuah buku. Namun, itulah yang terjadi pada Juliari Agustian Samosir, mahasiswa sekaligus jurnalis di lembaga pers Kampus UII Dalwa, Pasuruan.
Juliari Agustian Samosir merupakan seorang penulis muda yang resmi menerbitkan buku perdananya. Buku dengan tema islami itu ia beri judul Perasaan yang Tak Sempat Terucap.
Tentang Buku yang Lahir dari Kehidupan Sehari-hari
Buku Perasaan yang Tak Sempat Terucap yang terbit lewat Detak Pustaka berisi kumpulan refleksi tentang hal-hal yang sering kita rasakan, tetapi sulit untuk kita ungkapan. Tentang luka, rindu yang tak tersampaikan, hingga rasa syukur yang kerap terlewatkan.
Bacaan ini mengajak pembacanya untuk memahami diri sendiri melalui pendekatan tasawuf, kesadaran diri, penerimaan, dan perjalanan hati. Di dalamnya ada renungan tentang diri, tentang cinta, nasihat, serta tulisan-tulisan personal dari Juliari sendiri, lengkap dengan kutipan dari kitab-kitab para ulama yang ia jadikan penguat isi buku.
Soal judul, Juliari punya alasan yang cukup dalam. Ia percaya bahwa perasaan apa pun yang tak sempat terucap oleh manusia tetap diketahui oleh Yang Maha Kuasa.
“Ini buku tentang suara hati yang tersimpan rapat-rapat,” katanya.
Inspirasi tulisan-tulisannya banyak datang dari lingkungan sekitar. Setiap kali menyaksikan suatu peristiwa, Juliari langsung menuliskannya dan mengambil hikmah dari sana.
Awal Tanpa Rencana
Ketertarikan Juliari pada dunia kepenulisan tidak ia mulai dari hal yang luar biasa, tetapi sesuatu yang sederhana. Ia mulai aktif menulis dengan mengikuti event kepenulisan karena tertarik pada hadiahnya, sekaligus sebagai ajang personal branding agar tulisannya bisa terpajang di mading kampus.
Dari kebiasaan rutin mengirim karya ke berbagai lomba itulah, tulisan-tulisannya mulai diperhatikan oleh para pengoreksi, yang akhirnya mengajaknya bergabung dengan pers kampus untuk menulis artikel, cerpen, opini, dan lain sebagainya.
Sementara soal menerbitkan buku, niat itu sama sekali tidak ada di awal. Semuanya berawal dari tugas menulis artikel yang kakak tingkatnya berikan. Tulisannya terus bertambah hingga sang kakak tingkat memberikan arahan untuk menjadikan tulisan itu sebagai buku. Di sinilah awal mula ia bertemu dengan Detak Pustaka.
Lewat bantuan dan pendampingan kakak tingkatnya yang sudah lebih dulu mengenal Detak Pustaka, naskah Juliari diajukan ke penerbit yang sama, hingga akhirnya berhasil terbit dan dibaca oleh banyak orang di luar sana.
Menulis di Tengah Keterbatasan
Proses penulisan buku ini tidak berjalan tanpa hambatan. Sebagai penghuni asrama, Juliari tidak bisa bebas menggunakan ponsel maupun laptop. Untuk sekadar mengetik naskah, ia harus mengantre di laboratorium komputer kampus dengan jatah waktu satu hingga dua jam per hari, itupun harus izin terlebih dahulu.
Di luar soal fasilitas, kebuntuan ide juga sesekali datang. Cara Juliari Agustian mengatasinya cukup sederhana, dengan membaca buku atau berdiskusi dengan teman. Menurutnya, kondisi buntu itu biasanya hanya berlangsung beberapa hari sebelum ia bisa kembali menulis.
Bagian Paling Berkesan
Dari seluruh isi buku, ada satu tulisan yang paling membekas bagi Juliari secara pribadi, yakni bagian berjudul Masihkah Engkau Merasakan Keberadaanku. Tulisan itu berbicara tentang seseorang yang keberadaannya tak pernah dianggap oleh orang-orang di sekitarnya.
Di bagian akhirnya, Juliari menyisipkan refleksi, bahwa jika manusia saja merasa marah ketika keberadaannya tidak dihargai, apalagi Tuhan yang sepantasnya selalu kita sadari. Baginya, tulisan itu terasa istimewa karena ia sendiri pernah merasakannya.
Ketika buku itu akhirnya terbit, respons orang-orang terdekatnya beragam. Banyak dari mereka yang bangga, tetapi tak sedikit yang kaget. Sebagai seseorang yang introvert, penerbitan buku ini memang menjadi kejutan tersendiri bagi lingkungan sekitarnya.
Pesan dan Langkah ke Depan
Juliari mengaku bahwa terbitnya buku pertama justru membuatnya semakin ingin menulis. Ke depan, ia berencana menggarap novel inspiratif dengan nuansa islami. Rencananya, novel ini akan memiliki format yang berbeda dari buku pertamanya, namun tetap membawa pesan yang menurutnya harus lebih jujur dan lebih matang.
Untuk para penulis yang masih ragu melangkah, pesannya lugas, yakni jangan menunggu momen yang sempurna, karena kondisi siap itu tidak akan pernah benar-benar tiba.
“Tulis apa yang benar-benar ingin kamu katakan, bukan apa yang menurutmu harus sempurna. Setiap tulisan ada pembacanya sendiri,” ujarnya.
Ia juga berterima kasih kepada Detak Pustaka dan berharap agar penerbit ini terus menjadi tempat yang mendukung para penulis untuk berkembang.
“Harapan saya untuk Detak Pustaka, semoga bisa terus menjadi tempat yang mendukung para penulis untuk berkembang dan berkarya. Terima kasih sudah membantu saya sejauh ini,” katanya.
Selain itu, harapan juga ia sampaikan untuk dunia literasi Indonesia. Ia ingin agar semakin banyak orang yang berani menulis, membaca, dan membagikan ceritanya. Karena baginya, satu tulisan kecil pun bisa membawa banyak kebaikan.







