Kabar Lamongan – Di sela pekerjaan kantor dan mengurus anak, Isal Yuliyana Putri, menemukan waktunya untuk menulis. Ibu satu anak ini sudah tiga kali menjadi penulis terpilih dalam lomba menulis Halo Penulis. Dalam kesempatan wawancara, ia berbagi cerita tentang proses kepenulisan hingga mimpinya di dunia kepenulisan.
Selain menulis, Isal bekerja di perusahaan swasta. Ia juga mendesain dan menjual merchandise K-pop fans buatan tangan. Di Halo Penulis, ia telah mengikuti LM Batch 8, LM Batch 11, dan LP Batch 23, dan ketiganya membawa Isal menjadi penulis terpilih.
Membagi Waktu di Tengah Kesibukan
Di tengah padatnya rutinitas harian, Isal mengaku membagi waktu menulisnya di sela jam kantor dan pada malam hari setelah anaknya tidur. Ia terbiasa mengetik lewat ponsel, sehingga bisa menulis sambil bersantai. Baginya, kegiatan ini juga terasa seperti healing.
“Alhamdulillah pekerjaan aku benar-benar fleksibel. Jadi, hanya di jam-jam tertentu saja sibuk di kantor,” bebernya.
Semangat yang Naik Turun dan Dukungan Orang Terdekat
Tantangan yang paling sering ia hadapi adalah semangat yang mudah turun dan keraguan mendadak terhadap kualitas tulisannya. Saat itu terjadi, ia memilih berhenti sejenak.
Ia juga suka mengobrol dengan teman yang punya hobi sama untuk meminta saran, atau meminta sedikit semangat dari suaminya, yang tertarik pada dunia membaca dan menulis.
Awalnya, orang di sekitarnya hanya tahu bahwa Isal hobi menulis. Ia sendiri mengaku malu membagikan ceritanya di media sosial dengan identitas asli. Setelah tahu karyanya berhasil terpilih dalam lomba, mereka justru lebih terbuka menunjukkan dukungan.
Berani Bersuara lewat Kisah Nyata
Tulisan pertama yang berani ia tunjukkan mengangkat tema mental illness dari kisah nyata pribadinya. Banyak orang di sekitarnya merasa relate, dan sesekali ada yang meminta dibuatkan tulisan tentang kisah mereka.
Menurut Isal, mungkin karena ia berani bersuara, orang-orang jadi melihat bahwa berdamai dengan pengalaman seperti itu bukan soal takut dan malu, melainkan soal menunjukkannya dengan berani.
“Mungkin karena aku berani speak-up jadi mereka merasa bentuk berdamai memang begitu. Bukan takut dan malu, tetapi nunjukin secara berani,” katanya.
Inspirasi dari Kisah Pribadi dan Cerita Seorang Teman
Soal inspirasi, Isal mengaku bahwa karya untuk lomba pertama ia angkat dari kehidupan pribadinya. Isal berharap kisah itu abadi dan terus teringat tanpa rasa sesal. Untuk lomba kedua, Isal belum punya ide. Ia iseng memasang story di WhatsApp dan mendapat balasan dari seorang teman yang baru dekat.
Isal dan temannya ternyata sama-sama suka membaca dan pernah mendengar stigma bahwa “mental illness itu aib dan terlalu drama”. Teman itu kemudian menceritakan kisah hidupnya secara terbuka dan meminta dibuatkan tulisan sebagai hadiah ulang tahun.
“Dan berharap bisa ikut lomba kisahnya. Jadilah buku itu nantinya aku berikan sebagai hadiah dia setelah terbit.” ungkapnya.
Di samping itu, proses menulisnya juga tidak mudah. Isal sempat merasa tidak kuat karena mendalami tema itu ternyata sangat menyakitkan. Namun, melihat keberanian temannya bercerita setelah lama menyembunyikannya dari banyak orang, ia memilih tetap membantu mengabadikan kisah tersebut.
Dari Pembaca Novel hingga Penulis Sajak
Isal Yuliyana Putri mengaku awalnya tidak langsung menyukai menulis. Ia lebih dulu gemar membaca novel dan cerita yang diunggah di Facebook, serta mengikuti para penulis di Twitter.
Dari sana ia mulai mencoba menulis, meski belum berani mengunggahnya. Setelah lulus, minatnya meluas dari cerita fiksi ke sajak. Perkenalannya dengan sang suami pun ikut berperan, sebab mereka sering berkirim puisi hingga akhirnya saling berbalas sajak.
Dorongan utamanya mengikuti lomba adalah kesempatan berbagi kisah yang tidak banyak orang tahu. Isal mengaku bukan orang yang mudah menulis kisah nyata. Namun, karena bagian itu adalah yang paling menyakitkan sekaligus penuh hikmah, ia memutuskan ikut lomba sebagai bentuk penerimaan terhadap hidupnya yang sekarang.
Kesan terhadap Halo Penulis dan Mimpi ke Depan
Di akhir wawancara, Isal Yuliyana Putri berterima kasih kepada Halo Penulis karena telah menjadi wadah baginya yang pemalu. Ia menilai kehadiran penerbit seperti Halo Penulis menjadi jalan untuk membangun kepercayaan diri agar tetap menulis.
Mimpinya sendiri sangat sederhana. Ia ingin satu tulisannya dapat terbit sebagai jejak bahwa ia pernah menulis dan bisa memberi manfaat bagi pembaca.
Isal Yuliyana Putri juga ingin menerbitkan buku solo. Begitu tahu karyanya menjadi penulis terpilih, ia langsung mengabari suaminya, yang menanggapinya dengan kalimat, “Jadi kangen nulis lagi”. Keduanya pun sepakat untuk bisa menerbitkan buku solo berisi sajak-sajak yang mereka tulis bersama.







