Inggrid Ivonne: Mengangkat Luka Nyata Jadi Fiksi yang Menggugah

Berita, Pendidikan236 Dilihat

Kabar Lamongan – Inggrid Ivonne Susan Truly Sagune merupakan penulis buku Tangisan Terakhir yang kini menetap di Los Angeles, California, Amerika Serikat. Saat ini, ia sehari-hari bekerja sebagai penulis skenario film, sambil tetap menjalankan sejumlah pekerjaan secara daring untuk Indonesia.

Dunia fiksi panjang memang bukan habitatnya sejak awal, namun sebuah kisah yang ia simpan bertahun-tahun akhirnya mendorongnya untuk mencoba genre baru.

Perjalanan dari 2016

Ide untuk Tangisan Terakhir sebenarnya sudah ada sejak 2016. Kala itu, Inggrid mendapatkan cerita dari seorang narasumber dan mulai menuliskannya, meski bentuknya masih menyerupai buku harian.

Ia sendiri belum yakin apakah tulisan itu bisa disebut novel atau bukan, karena latar belakangnya sebagai penulis skrip membuat ia asing dengan format tersebut.

Selama bertahun-tahun, tulisan itu terhenti karena narasumbernya pun belum jelas arahnya. Baru pada 2023, ketika narasumber tersebut menjadi viral dan ceritanya menemukan titik terang, Inggrid memutuskan untuk menyelesaikan apa yang sudah ia mulai tujuh tahun sebelumnya.

Kisah dalam buku ini berbasis kejadian nyata, tetapi Inggrid menegaskan bahwa ceritanya telah ia samarkan dan tidak ia buat persis seperti aslinya. Idenya memang datang dari kenyataan, namun pengolahannya adalah sepenuhnya karya fiksi.

Kisah dalam Buku Tangisan Terakhir

Tangisan Terakhir bercerita tentang seorang perempuan bernama Ine yang dikhianati suaminya, yakni Sammy. Kehidupan rumah tangga Ine berubah menjadi medan tempur antara kesabaran dan rasa sakit.

Namun, konflik utama bukan hanya soal perselingkuhan, tetapi juga pergulatan batin sang tokoh yang berusaha mempertahankan pernikahannya karena keyakinan agama Kristennya.

Dalam pemahamannya, perceraian bukan pilihan yang ajaran agama benarkan, sehingga ia memilih bertahan meski tersiksa. Namun, pada akhirnya, ia memilih bercerai meski harus menghadapi tentangan dari keluarga.

Pesan yang ingin Inggrid Ivonne sampaikan cukup jelas. Ia ingin pembaca tidak menjadikan agama sebagai alasan untuk bertahan dalam hubungan yang justru menyakiti diri sendiri.

“Harapannya membaca Tangisan Terakhir tidak ada ketakutan lagi untuk bercerai demi kebaikan, demi kewarasan,” ungkapnya.

Ia juga menyinggung bahwa dalam ajaran Kristen, perceraian sebenarnya boleh dilakukan, meski dengan aturan tertentu, dan stigma itulah yang ingin ia luruskan lewat buku ini.

Soal Ending yang Sempat Jadi Perdebatan

Menulis bagian akhir cerita ternyata menjadi tantangan tersendiri bagi Inggrid. Ia dan teman yang berperan sebagai editor sempat berbeda pendapat. Sang editor menyarankan agar ending tetap menggantung supaya ada kemungkinan kelanjutan cerita. Sementara, Inggrid sendiri ingin cerita ini selesai sepenuhnya tanpa rencana sekuel.

Perdebatan itu sempat membuatnya stres, tetapi akhirnya terlewati juga. Ketika buku terbit, reaksi pembaca pun beragam. Banyak yang memprotes ending-nya, ada yang kagum dengan keberanian tokoh utamanya, namun ada pula yang bertanya-tanya mengapa tokoh itu harus melalui penderitaan yang begitu panjang sebelum akhirnya memilih bercerai.

Perjalanan Penerbitan yang Tidak Mudah

Sebelum akhirnya terbit dalam kondisi lengkap dan layak, buku ini melewati proses penerbitan yang cukup berliku. Cetakan pertama yang terbit melalui sebuah penerbit yang bermasalah antara kantor cabang dan pusatnya. Bahkan, ISBN tidak beres, pesanan tidak terpenuhi, dan kerja sama akhirnya terputus.

Cetakan kedua dan ketiga pun tak lepas dari masalah. Cetakan ketiga bahkan tercetak tanpa pengecekan ulang yang memadai, sehingga akhirnya terjadi pembatasan. Kondisi ini semakin terasa mendesak karena Tangisan Terakhir sedang dalam proses penjajakan untuk diangkat menjadi film.

Inggrid kemudian mencoba Detak Pustaka, dan di sinilah prosesnya berjalan dengan baik. Penerbit mengecek naskah dengan teliti, cover mereka kerjakan dengan serius, dan kelengkapan seperti ISBN serta HAKI terpenuhi dengan benar.

“Saya puas di Detak karena saya sempet hopeless,” katanya, mengingat betapa panjang jalan yang sudah ia tempuh sebelum sampai di titik ini.

Masih Banyak yang Ingin Ia tulis

Tangisan Terakhir memang novel pertama Inggrid, tetapi bukan berarti ia baru memulai. Ia mengaku sudah menerbitkan tujuh naskah buku lainnya, dan buku kedelapannya kini tengah dalam tahap persiapan. Bahkan, di tahun ini saja, ia sudah menerbitkan tiga buku sekaligus.

Dari seorang penulis skenario yang sempat ragu apakah tulisannya layak disebut novel, Inggrid kini melangkah dengan lebih pasti di dunia kepenulisan fiksi. Perjalanan panjangnya ini membuahkan hasil yang memuaskan, meski harus mengalami kesulitan terlebih dahulu.

Buku karya Inggrid Ivonne ini bisa kamu dapatkan lewat marketplace resmi Detak Pustaka Toko. Selain itu, kamu juga bisa langsung mengaksesnya lewat sini: Buku Inggrid.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *