Indri Wulandari Chayaningsih Raih Juara 1 Halo Penyair, Kesibukan Jadi Pelajar Bukan Halangan

Berita, Nasional55 Dilihat

Kabar Lamongan – Di tengah kesibukannya sebagai pelajar sekolah menengah kejuruan, Indri Wulandari Chayaningsih menyempatkan diri menekuni dunia kepenulisan, khususnya puisi. Selain menulis, ia juga aktif menari, mengikuti berbagai kegiatan sekolah, serta mengasah kemampuan di bidang teknologi desain.

Kesibukan yang beragam itu rupanya tidak menyurutkan langkahnya untuk terus berkarya lewat kata. Perjalanan Indri di ajang Halo Penyair sudah terbilang panjang. Ia tercatat pernah berpartisipasi dalam beberapa batch. Pertama, dalam puisi berjudul “Bahasa Cinta Untukmu” pada Batch 21 yang menempati urutan ke-50 jilid 2.

Selanjutnya pada puisi “Sebait Nama Tersimpan” di Batch 22 pada urutan ke-81. Terakhir, pada ajang puisi “Sajak untuk Esok” di Batch 24 yang berhasil membawanya meraih gelar Juara 1.

Bagi Indri, setiap kesempatan lomba selalu memberi hasil yang berbeda-beda, namun makna yang ia dapatkan tetap sama. Bukan semata soal penghargaan, melainkan proses belajar, mengasah kemampuan menulis, dan memahami bagaimana karyanya diterima oleh pembaca.

Awal Mula Terjun ke Dunia Lomba Menulis

Ketertarikan Indri pada lomba menulis bermula dari keinginan sederhana untuk mencoba dan menuangkan isi pikiran serta perasaannya ke dalam kata-kata. Setelah karya pertamanya masuk noominasi, ia mulai rutin meluangkan waktu untuk membuat puisi. Tujuannya, agar puisi bisa ia kirim dan terbit menjadi buku.

“Saya awalnya hanya ingin mencoba serta ingin menuangkan apa yang ada di pikiran dan perasaan saya,” katanya.

Keputusan itu bukan tanpa alasan. Baginya, mengikuti lomba adalah salah satu cara belajar yang efektif. Dari setiap karya yang ia kirimkan, Indri mengaku bisa memperbaiki pilihan diksi. Selain itu, ia juga belajar memperkuat makna tulisan dan menjadi lebih teliti dalam menyusun sebuah karya.

Menyiasati Waktu di Tengah Kesibukan

Sebagai pelajar, membagi waktu antara menulis dan aktivitas sehari-hari tentu bukan perkara mudah. Indri mengaku strateginya adalah membuat skala prioritas. Kewajiban utama seperti sekolah dan kegiatan lainnya selalu ia selesaikan lebih dulu. Barulah ia menyisihkan waktu khusus untuk menulis puisi, meski hanya sebentar.

“Untuk membagi waktu dalam menulis untuk lomba dan kegiatan sehari-hari adalah membuat skala prioritas terlebih dahulu,” ungkap Indri.

Menurutnya, kunci utamanya bukan terletak pada durasi menulis dalam sehari, melainkan pada konsistensi menyisihkan waktu. Dengan cara itu, kegiatan menulis tetap berjalan tanpa mengganggu tanggung jawab hariannya.

Kesalahan yang Kerap Terjadi dalam Menulis Puisi

Dari pengalamannya, Indri melihat ada beberapa kesalahan yang sering penulis lakukan, termasuk dirinya sendiri, saat menulis puisi. Salah satunya adalah terlalu fokus mengejar kata-kata indah hingga lupa bahwa puisi juga perlu memiliki makna dan pesan yang kuat.

Diksi yang jarang digunakan memang dapat memperkaya sebuah puisi, tetapi tetap harus sesuai konteks agar tidak terkesan dipaksakan. Selain itu, Indri Wulandari Chayaningsih juga menyoroti kebiasaan kurang melakukan self-editing.

Tak jarang, setelah selesai menulis, seorang penulis merasa karyanya sudah cukup baik sehingga langsung mengirimkannya tanpa membaca ulang terlebih dahulu. Indri juga mengingatkan pentingnya menghindari kebiasaan menjelaskan perasaan secara terlalu langsung dalam puisi.

Karya yang Paling Berkesan

Di antara sekian banyak karya yang pernah ia kirimkan, puisi berjudul Harapan (Niskala yang Menjanjikan Fajar)—yang mengantarkannya meraih Juara 1—menjadi yang paling berkesan baginya.

Alasannya adalah puisi tersebut terasa dekat dengan dirinya, karena menggambarkan bagaimana seseorang harus tetap berusaha mempertahankan harapan, sekalipun pernah berada dalam keadaan yang tidak mudah.

Baginya, harapan terkadang hanya berupa keberanian untuk kembali melangkah setelah mengalami kegagalan. Karya itu bukan sekadar tulisan, melainkan juga pengingat bahwa selama masih ada kemauan untuk berusaha, selalu ada kemungkinan untuk menemukan jalan.

Sumber Inspirasi yang Tak Pernah Habis

Tentang dari mana inspirasi menulisnya berasal, Indri mengatakan bahwa imajinasi dan hal-hal sederhana dalam kehidupan sehari-hari justru sering menjadi sumber ide. Pengalaman pribadi, suasana sekitar, percakapan, alam, hingga perasaan yang sedang ia rasakan, semuanya bisa menjadi pemicu gagasan.

Terkadang sebuah kata, kejadian kecil, atau suasana tertentu saja sudah cukup untuk memunculkan ide baru, yang kemudian ia olah menjadi sesuatu yang lebih bermakna lewat diksi, metafora, dan imajinasi.

Tak hanya itu, membaca karya penulis lain juga menjadi salah satu sumber inspirasinya. Bukan untuk meniru karya, melainkan untuk memperluas cara pandang dan menemukan kemungkinan baru dalam menyampaikan sebuah gagasan.

Kesan dan Harapan untuk Halo Penyair

Menutup perbincangan, Indri Wulandari Chayaningsih menyampaikan kesan positifnya selama mengikuti berbagai kegiatan di Halo Penyair. Ia merasa senang karena platform ini menjadi salah satu ruang bagi para penulis untuk berani menunjukkan karya, sekaligus belajar dan berkembang bersama penulis lainnya.

Baginya, mengikuti kegiatan semacam ini bukan hanya soal penghargaan, tetapi juga soal pengalaman, keberanian, dan kesempatan untuk terus mengasah kemampuan menulis.

Sebagai penutup, Indri berharap Halo Penyair dapat terus mempertahankan kegiatan-kegiatan yang menjadi wadah bagi para penulis, khususnya penulis pemula, untuk berkarya dan mendapatkan apresiasi.

Ia juga berharap ke depannya semakin banyak tema dan kegiatan menarik yang bisa diikuti, serta penilaian yang objektif dan membangun tetap dipertahankan bagi para peserta.

Tak lupa, ia mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan kesempatan bagi para penulis untuk berkarya, dengan harapan Halo Penyair terus berkembang menjadi ruang yang menumbuhkan penulis-penulis baru.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *