Imam Syafei dan Perjuangan Menghapus Stigma Anak Putus Sekolah

Pendidikan80 Dilihat

Kabar Lamongan – Setiap tahun, isu persoalan anak putus sekolah selalu ramai diperbincangkan masyarakat. Bagi Imam Syafei, isu ini bukan sekadar topik diskusi, melainkan realitas yang ia temui langsung selama bertahun-tahun berkecimpung di dunia pendidikan.

Menurutnya, isu pendidikan tersebut menerpa anak-anak yang mengalami keterbatasan ekonomi, masalah keluarga, lingkungan sosial yang kurang mendukung, hingga tekanan pergaulan.

Melalui perbincangan hangat bersama Detak Pustaka serta beberapa karya tulisnya, ia mencoba menghadirkan sudut pandang yang lebih dekat tentang isu pendidikan. Pembahasan ini bukan hanya menyodorkan data, tetapi juga menyampaikan cerita, empati, dan solusi.

Berakar dari Perjalanan Hidup

Ketertarikan Imam pada pendidikan lahir dari pengalaman pribadinya. Ia mengaku semasa sekolah banyak mendapat bantuan dari orang lain. Pengalaman itu menumbuhkan kesadaran bahwa pendidikan memiliki peran besar dalam mengubah hidup seseorang.

Setelah menyelesaikan pendidikan di Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Gunung Djati Bandung dan Magister Manajemen Pendidikan di UNINUS Bandung, kini ia tengah menempuh program Doktoral (S3) Pendidikan Masyarakat di UPI Bandung. Namun, kiprahnya di dunia pendidikan sudah ia mulai jauh sebelum itu.

Sebelum berkeluarga, Imam pernah mengajar di sepuluh sekolah berbeda dalam satu waktu—pagi, siang, hingga sore. Sejak sekitar tahun 2001, saat mulai menetap di Bandung, ia aktif terlibat dalam berbagai kegiatan pendidikan. Dari ruang kelas itulah ia menyaksikan langsung bagaimana persoalan keluarga, ekonomi, dan perundungan bisa membuat seorang anak kehilangan semangat belajar.

“Anak yang tidak mampu bertahan di sekolah formal, jika tidak ada alternatif, akhirnya berhenti begitu saja. Mereka tidak melanjutkan, tetapi juga tidak punya arah,” ungkapnya.

Stigma dan Tekanan Sosial

Menurut Imam, faktor ekonomi memang kerap menjadi penyebab utama. Namun, persoalan tidak berhenti di situ. Lingkungan pertemanan, konflik keluarga, hingga tekanan sosial juga berkontribusi besar.

Ketika kondisi di rumah penuh masalah dan suasana sekolah tidak ramah, anak kesulitan untuk fokus belajar. Dalam situasi seperti itu, keputusan untuk berhenti sekolah sering kali dianggap sebagai jalan keluar tercepat—meski konsekuensinya panjang.

Ia juga menyoroti adanya stigma terhadap anak yang tidak melanjutkan pendidikan. Perasaan terasing dan rendah diri membuat mereka semakin jauh dari kesempatan untuk bangkit.

Menulis sebagai Media Perubahan

Berangkat dari pengalaman tersebut, Imam memilih menyalurkan kegelisahannya melalui tulisan. Salah satu bukunya, Kesetaraan Pendidikan, secara khusus membahas fenomena ketimpangan pendidikan sekaligus menawarkan solusi konkret melalui jalur nonformal seperti PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat) dan bimbingan belajar.

Ia menekankan bahwa siapa pun tetap memiliki kesempatan menyelesaikan pendidikan. Anak yang belum lulus SD, misalnya, bisa mendaftar di PKBM tingkat kecamatan dan mengikuti program kesetaraan.

Menurutnya, tulisan memiliki kekuatan membimbing pembaca secara perlahan dan mendalam. Meski era digital semakin dominan, buku—baik fisik maupun digital—tetap relevan sebagai medium yang dapat diakses banyak kalangan.

“Kalau bangsa ingin maju, pendidikan tidak boleh terhenti. Anak yang putus sekolah akan kesulitan menata hidupnya secara mandiri,” tegasnya.

Kekhawatiran Jangka Panjang

Imam menilai dampak jangka panjang dari putus sekolah tidak bisa dianggap remeh. Kemiskinan, pengangguran, hingga rendahnya kualitas sumber daya manusia adalah konsekuensi yang mungkin terjadi.

Oleh karena itu, ia berharap pemerintah terus memperluas akses pendidikan, termasuk melalui program beasiswa dan pendidikan gratis. Di sisi lain, ia menilai sistem pendidikan nasional sebenarnya telah menyediakan jalur formal dan nonformal yang cukup memadai. Tantangannya terletak pada implementasi dan pemerataan akses.

Peran Keluarga, Sekolah, dan Literasi

Dalam pandangan Imam, keluarga memegang peranan fundamental. Pendidikan informal yang diberikan orang tua sejak dini sangat menentukan arah dan motivasi anak. Dukungan emosional dan dorongan semangat dari rumah bisa menjadi benteng utama agar anak tidak mudah menyerah.

Sekolah dan guru pun memiliki tanggung jawab besar. Sekolah bukan hanya tempat memperoleh ijazah, tetapi ruang pembentukan karakter dan kualitas diri. Lingkungan belajar yang positif dapat menjadi penentu masa depan seorang anak.

Tak kalah penting, dunia literasi dan penerbitan juga punya kontribusi nyata. Anak yang gemar membaca akan lebih terbuka pada peluang dan wawasan baru. Literasi menjadi pintu untuk melihat kemungkinan-kemungkinan yang sebelumnya tak terpikirkan.

Pesan untuk Anak yang Terpaksa Berhenti

Secara pribadi, Imam menyampaikan pesan yang sederhana, tetapi cukup kuat dan menyentuh bagi anak-anak yang harus berhenti sekolah, yakni jangan menyerah.

Ia mendorong mereka untuk tidak berkecil hati, terus mencari peluang, memperluas pergaulan yang positif, dan memanfaatkan literasi sebagai sarana membangun kembali semangat belajar.

“Jangan berhenti di situ. Selalu ada jalan untuk melanjutkan pendidikan setinggi-tingginya,” pesannya.

Sebagai penulis yang sering mengangkat tema pendidikan. Imam Syafei mempunyai sederet karya yang berhasil ia terbitkan melalui Detak Pustaka. Di bawah ini adalah karya-karya tersebut yang berhasil menjangkau banyak orang karena pembahasan di dalamnya relevan dengan dunia pendidikan:

  1. Kesetaraan Pendidikan
  2. Buku Pintar Paket C Setara SMA
  3. Buku Pintar Paket B Setara SMP
  4. Buku Pintar Paket A Setara SD
  5. Jurus Ampuh Lolos Tes TNI POLRI
  6. Panduan Resmi Lolos Tes POLRI
  7. Kewirausahaan Digital: Panduan Praktis Anak Muda Lawan Pengangguran

Seluruh buku yang menjadi karya Imam Syafei  di atas bisa kamu beli di laman resmi Detak Pustaka atau kamu bisa langsung mengunjunginya di detakpustakatoko.com. Segera dapatkan bukunya sekarang juga agar wawasan kamu bertambah!

Melalui dedikasi sebagai pendidik, pendiri berbagai lembaga pendidikan, sekaligus penulis, Imam Syafei konsisten mengingatkan bahwa pendidikan bukan sekadar proses akademik, melainkan fondasi masa depan. Selama masih ada anak yang terhenti langkahnya di bangku sekolah, perjuangan untuk kesetaraan pendidikan harus terus dilanjutkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *