Outlet dan beberapa menu yang tersedia di Gooramie. (Dok. narasumber).Kabar Lamongan – Pandemi Covid-19 menjadi masa sulit bagi banyak orang. Aktivitas terhenti, pekerjaan tertunda, dan penghasilan tak lagi pasti. Namun, di tengah keterbatasan itulah, peluang sering kali lahir. Hal itu pula yang dialami Firman Naluriramah, pendiri usaha kuliner Gooramie, yang kini dikenal sebagai salah satu penyaji mie pedas kekinian di Lamongan.
Berawal dari profesinya sebagai tenaga pengajar bimbingan belajar, Firman harus menerima kenyataan bahwa seluruh kegiatan mengajar terhenti saat pandemi melanda. Tidak ingin berdiam diri, ia pun mulai memutar otak untuk tetap memiliki penghasilan. Dari situlah, ide bisnis kuliner muncul.
Firman mengungkapkan, proses awal Gooramie dimulai sejak pertengahan tahun 2020. Saat itu, ia mencoba berjualan dari rumah dengan peralatan seadanya. Produk terus dikembangkan melalui proses riset dan pengembangan (R&D) yang cukup panjang hingga akhirnya merasa yakin untuk menjualnya secara lebih serius.
“Baru awal tahun 2021 kami benar-benar yakin produknya sudah pantas dijual,” ujarnya.
Sejak saat itu, Gooramie resmi berjalan dan kini telah memasuki tahun kelima perjalanannya. Sebuah capaian yang tidak mudah di tengah ketatnya persaingan bisnis kuliner.
Di balik nama Gooramie, tersimpan cerita sederhana, namun menarik. Firman mengaku sempat kebingungan menentukan nama usaha, mengingat banyaknya bisnis mie pedas dengan nama serupa di pasaran.
Akhirnya, ia memilih nama yang berakhiran “-mie”, agar mudah diplesetkan menjadi “mi”. Pilihan itu jatuh pada kata Gooramie, yang terinspirasi dari nama ikan gurame. Selain terdengar unik, nama tersebut juga belum digunakan di media sosial saat itu.
Dalam perjalanannya, tantangan tentu tak terhindarkan. Namun bagi Firman, tantangan paling berat bukanlah soal persaingan, melainkan menjaga konsistensi.
“Konsistensi dalam produk, pelayanan, dan mental diri sendiri,” katanya.
Dengan modal awal yang sangat terbatas—mengandalkan peralatan rumah dan keuntungan harian untuk modal esok hari—Firman dan tim harus bersabar dan menahan diri untuk tidak langsung menikmati hasil. Proses panjang itu justru membentuk fondasi usaha yang kuat.
Hingga kini, Gooramie masih dikelola langsung oleh Firman dan keluarga. Dalam operasional sehari-hari, mereka dibantu empat orang karyawan yang bekerja dalam dua shift. Keterlibatan langsung pemilik menjadi salah satu kunci dalam menjaga kualitas dan kedekatan dengan pelanggan.
Saat ini, produksi dan penjualan Gooramie masih terpusat di satu outlet yang berlokasi di Desa Tugu, RT 01 RW 02, Kecamatan Mantup, Kabupaten Lamongan. Meski baru satu outlet yang berjalan, Firman menyebut target ke depan adalah membuka outlet lain secara bertahap.
“Doanya semoga outlet yang lain bisa segera disegerakan,” ucapnya.
Untuk menjaga kualitas produk, Gooramie sangat selektif dalam memilih bahan baku dan supplier. Seluruh bumbu diproduksi secara terpusat oleh pemilik, sehingga cita rasa tetap konsisten.
Selain itu, juru masak dipilih secara khusus dengan standar yang telah ditetapkan setiap shiftnya. Hal tersebut dilakukan agar rasa tetap konsisten dan terjamin. Dari sisi penjualan, mie pedas menjadi produk paling laris, disusul oleh seblak sebagai menu favorit pelanggan.
Menariknya, hingga kini Gooramie masih mengandalkan penjualan offline. Pemesanan online hanya melayani take away atau reservasi dine in melalui WhatsApp, dan belum masuk ke platform seperti GoFood atau ShopeeFood.
Dalam menghadapi persaingan kuliner yang kian dinamis, Firman memilih strategi yang sederhana dan efektif, yakni membangun hubungan dengan pelanggan. Ini karena sekitar 80 persen pelanggan Gooramie merupakan repeat customer.
“Kami merawat mereka dengan promo, menjaga kedekatan emosional, menyapa, bahkan membalas story mereka,” jelasnya.
Tidak hanya itu, penanganan komplain pun dilakukan dengan cepat dan solutif. Bagi Firman, pelayanan maksimal menjadi nilai lebih, meskipun tempat usaha miliknya belum semewah kompetitor di kota besar.
Sebagai upaya memperluas jangkauan brand, Gooramie rutin membuka lapak mingguan di area alun-alun Lamongan. Menariknya, produk yang mereka bawa bukan menu utama, melainkan es teler dan alpukat kocok. Tujuannya bukan semata penjualan, melainkan brand activation dan exposure melalui konten media sosial.
“Dari konten itu, orang jadi tahu produk kami yang lain,” ujarnya.
Tentunya, pertumbuhan Gooramie juga tak lepas dari peran media sosial. Di awal berdiri hingga tahun kedua, usaha ini tumbuh secara organik. Memasuki tahun berikutnya, bantuan promosi dari teman-teman yang berkecimpung di dunia media sosial membuat Gooramie semakin dikenal luas.
Dari dapur rumah di masa pandemi hingga bertahan lima tahun dengan satu outlet yang solid, Gooramie membuktikan bahwa konsistensi, kualitas, dan pelayanan yang tulus mampu menjadi fondasi kuat dalam membangun usaha kuliner berkelanjutan.
Informasi lengkap tentang Gooramie, mulai dari menu, harga, hingga promo menarik bisa kamu jumpai di akun resmi media sosial Instagram dan TikTok mereka @gooramie. Kunjungi sekarang dan nikmati cita rasa kekinian yang mengenyangkan!
Tidak ada komentar