Ella Irawan: Antara Mood, Musik, dan Konsistensi dalam Dunia Menulis

Berita, Pendidikan140 Dilihat

Kabar Lamongan – Ella Irawan mungkin bukan nama yang asing di komunitas Halo Penulis. Perempuan yang sehari-harinya bekerja sebagai staf Humas dan Informasi di sebuah organisasi wanita ini sudah beberapa kali mengikuti lomba menulis yang platform tersebut selenggarakan.

Meski belum pernah masuk tiga besar, ia berhasil menorehkan namanya sebagai penulis terpilih di delapan batch sekaligus. Prestasi yang berhasil ia raih antara lain Lomba Menulis Batch 17, 19, 20, 21, 22, 23, 24, dan Batch 25.

Karya Paling Berkesan

Dari sekian karya yang pernah ia kirimkan, ada satu judul yang paling ia ingat dan berkesan di hatinya, yaitu Detak yang Tersisa. Judul tersebut adalah cerpen terakhirnya yang juga merupakan kisah nyata dari kehidupannya sendiri.

Dalam cerpen itu, ia menulis tentang sosok lain yang selalu hadir dalam dirinya. Sosok tersebut selalu menemaninya berbincang dan tidak pernah membuatnya merasa sendirian. Di akhir cerita, sosok itu ia gambarkan pergi. Namun, Ella mengakui dalam kenyataannya sosok itu masih ada.

Menariknya, proses penulisan cerpen itu mampu ia selesaikan hanya dalam dua hari. Ia berhasil menyelesaikannya menjelang tenggat waktu pengumpulan. Bahkan, kisah itu mampu menarik perhatian juri, meski ia garap dengan singkat.

Tantangan Terbesar dan Perjalanan Awal Jadi Penulis

Soal proses menulis, Ella tidak menampik bahwa mood menjadi tantangan terbesarnya. Ketika semangat menurun, ia biasanya mendengarkan musik dulu sebelum kembali duduk dan menulis. Baginya, kondisi perasaan yang stabil adalah kunci agar tulisan bisa mengalir dengan baik.

Kebiasaan menulis Ella sebenarnya sudah ada sejak SMA, meski waktu itu hanya sebatas catatan di buku harian. Baru setelah bekerja, ia mulai percaya diri untuk mencoba lomba. Dorongan itu juga datang dari rekan-rekannya yang berprofesi sebagai psikolog dan psikiater.

Dari obrolan bersama mereka, Ella belajar bahwa ketika masalah datang, yang perlu ia lakukan bukan terus memikirkannya, melainkan mencari aktivitas yang menjadi kekuatan diri. Bagi Ella, aktivitas itu adalah menulis.

“Dengan menulis setiap hari, aku gak fokus dengan masalah yang ada,” katanya. Menulis juga menjadi ruang baginya untuk mengekspresikan hal-hal yang di dunia nyata mungkin tidak bisa terjadi, dan di situlah imajinasinya bebas bermain.

Pengalaman Pahit Ikut Lomba

Sebelum bergabung dengan Halo Penulis, Ella sebenarnya sudah pernah mencoba beberapa lomba menulis di tempat lain. Sayangnya, tidak semua pengalaman itu menyenangkan. Ada lomba yang hasilnya tidak pernah diumumkan, ada pula yang meminta biaya di awal, namun tidak ada kelanjutannya.

Dari situ, ia jadi lebih hati-hati dalam memilih tempat untuk mengirimkan karya. Halo Penulis menjadi salah satu platform yang ia nilai amanah dan konsisten, sekaligus tempat yang menurutnya bukan hanya soal kompetisi, tetapi juga tentang belajar dan berkembang sebagai penulis.

Harapan dan Pesan

Ke depan, Ella menyimpan keinginan untuk menerbitkan buku sendiri. Namun, ia mengakui masih ada keraguan soal cara mempromosikannya, terutama karena ia masih merasa sebagai penulis yang junior. Untuk saat ini, memiliki antologi cerpen saja sudah cukup membuatnya bahagia.

Menutup perbincangan, Ella Irawan menitipkan pesan kepada siapa pun yang ingin mulai menulis. Ia berpesan akan satu hal, yakni jangan takut untuk memulai.

Menulis, menurutnya, tidak harus sempurna atau indah secara teknis. Baginya, yang penting adalah kejujuran terhadap diri sendiri, karena lewat tulisan, ada luka-luka yang akhirnya bisa pelan-pelan disembuhkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *