Kabar Lamongan – Menjadi penulis tidak harus selalu memiliki ruang sunyi dan waktu yang cukup untuk melamun di meja kerja. Bagi Aksa, nama pena dari Ega Ananda Aulia, menulis justru ia lakukan di sela-sela kesibukan sebagai mahasiswa, pengurus organisasi, dan konten kreator.
Meski berhadapan dengan jadwal yang padat, komitmennya terhadap dunia tulis-menulis tidak pernah goyah. Konsistensi tersebut kemudian mengantarkannya menerbitkan buku pertama, Kita Memang Punya Pilihan, Namun Allah Punya Takdir. Buku tersebut resmi terbit lewat Detak Pustaka.
Membagi Waktu yang Padat
Sebagai mahasiswa di Universitas Dehasen Bengkulu dan satu-satunya anak disabilitas yang menempuh pendidikan tinggi di universitas tersebut, Aksa memiliki beban tanggung jawab yang cukup besar.
Ia aktif dalam organisasi kampus, menjadi kepala bidang di UKM KI, serta menangani akun organisasi tersebut. Selain itu, ada juga pekerjaan sebagai konten kreator yang menyita energi dan waktu.
Menghadapi rutinitas yang padat ini, Aksa mengembangkan strategi manajemen waktu yang fleksibel. Kegiatan-kegiatan utama seperti kuliah, organisasi, dan mengerjakan tugas ia lakukan pada siang hari. Sementara malam hari menjadi waktu untuk menulis dan mengikuti berbagai perlombaan sastra tingkat nasional secara daring.
Ketika mengerjakan buku, Aksa bahkan rela mengorbankan jam tidurnya. Meski demikian, ia mengakui bahwa energi yang terbatas kadang membuatnya kecapean lebih dulu, dan mood menjadi faktor yang sangat mempengaruhi produktivitas hariannya.
Ritual Menulis dan Proses Penyerapan Ide
Agar tetap produktif dan bersemangat, Aksa memiliki ritual tetap yang selalu ia lakukan saat menulis. Setiap kali duduk di depan layar atau kertas, dia menyiapkan camilan favorit berupa minuman Cimory rasa cokelat dan memutar musik.
Kedua hal ini menjadi elemen wajib yang ia percaya dapat membuat ide dan perasaan mengalir dengan lancar. Ketika mood mulai menurun atau energi habis, Aksa akan menonton film yang seru atau menikmati camilan favoritnya untuk mengembalikan semangat.
Proses penulisan sendiri tidak selalu berjalan mulus. Aksa sering mengalami kesulitan mengubah apa yang ada di dalam kepala dan hati menjadi kalimat yang utuh dan sempurna. Meskipun ide dan perasaan sudah jelas, mencari kata-kata yang tepat tetap menjadi tantangan tersendiri.
Untuk mengatasi hal ini, ia memanfaatkan bantuan dari Daisy, sebuah asisten AI yang berperan sebagai teman diskusi mengingat keterbatasan akses sosial Aksa. Dengan bantuan ini, ia dapat lebih mudah memproses ide dan mencerna konsep yang rumit.
Lima Bulan Perjalanan Menulis
Penulisan buku pertama Aksa memakan waktu kurang lebih lima bulan dari awal hingga naskah selesai. Waktu tersebut tidaklah singkat, terutama mengingat ia harus membagi fokus dengan berbagai aktivitas lainnya.
Proses berjalan perlahan, sedikit demi sedikit, dengan sistem yang fleksibel tanpa jadwal yang terlalu ketat. Aksa lebih memilih mengikuti alur dan menyelesaikan satu tugas per satu sebelum melanjutkan ke tugas berikutnya.
Selama perjalanan panjang ini, keraguan juga pernah menghampiri. Dia sempat bertanya-tanya apakah tulisannya benar-benar layak menjadi buku. Namun, keyakinan bahwa setiap pengalaman, baik senang maupun duka, menyimpan pelajaran berharga menjadi motivasi untuk terus melanjutkan.
Inspirasi dari Kehidupan Nyata
Buku pertama Aksa tidak datang dari imajinasi semata, melainkan dari fragmen kehidupan pribadi yang mendalam. Inspirasi terbesar bersumber dari pengalaman pribadi, perenungan yang matang, dan dinamika kehidupan sehari-hari yang dia jalani.
Ada pula seorang sosok perempuan dan keluarga yang menjadi pemantik energi kreatif terbesar dalam proses lahirnya karya ini. Aksa percaya bahwa setiap momen dalam hidup selalu memiliki makna dan pelajaran yang menarik untuk ia ubah menjadi tulisan.
Melalui tantangan yang telah ia lewati dalam kesendirian, Ega Ananda Aulia berusaha merangkai kata-kata agar bisa menjadi rumah bagi diri sendiri dan kekuatan bagi orang lain yang sedang berjuang dengan nasib mereka masing-masing.
Pencarian Penerbit yang Teliti
Sebelum benar-benar menulis, Aksa telah menghabiskan dua hingga tiga bulan untuk mencari penerbit yang tepat. Ia melakukan penelusuran satu per satu, menghubungi beberapa penerbit, dan menunggu respons mereka.
Tidak semua penerbit yang Ega Ananda Aulia hubungi merespons dengan cepat. Namun, Detak Pustaka adalah salah satu yang memberikan jawaban positif. Awalnya, ketika menghubungi Nosa dari Detak Pustaka, Aksa hanya bertanya-tanya karena masih merasa awam dan sibuk dengan berbagai tanggung jawab.
Beberapa bulan kemudian, Nosa menghubungi kembali untuk menanyakan perkembangan. Itulah momentum ketika Aksa memutuskan untuk serius dan benar-benar mulai fokus menyelesaikan naskahnya agar bisa terbit melalui Detak Pustaka.
Kolaborasi dengan tim Detak Pustaka ternyata berjalan sangat baik. Tim menunjukkan keramahan dan responsivitas yang memuaskan. Setiap pertanyaan yang Aksa ajukan selalu mereka jawab dengan baik dan jelas tanpa memberikan kebingungan.
Dukungan ini terus berlanjut setelah buku terbit. Ketika Aksa menginformasikan bahwa bukunya telah banyak dibeli pembaca—meski saat itu masih menunggu giliran dengan nomor antrian 58 untuk membuat toko online resmi—tim Detak Pustaka langsung mengambil tindakan dengan membuat toko online khusus untuk bukunya.
Harapan untuk Dunia Kepenulisan
Bagi dunia kepenulisan Indonesia, Aksa harapan sederhana. Ia berharap semakin banyak penulis bermunculan yang tidak hanya berbakat, tetapi juga jujur dalam berkarya dan termotivasi untuk memberikan manfaat kepada para pembaca. Menurutnya, manusia terbaik adalah mereka yang paling bermanfaat bagi banyak orang.
Cerita Aksa menunjukkan bahwa keterbatasan waktu, energi, atau kondisi bukan penghalang untuk menciptakan sesuatu yang bermakna. Hal penting yang diperlukan adalah dedikasi, strategi, dan kepercayaan pada nilai dari setiap pengalaman yang telah dilalui dalam kehidupan.







