Kabar Lamongan – Sebelum resmi menuntaskan novel Hard to Say, Citra Gandhini Putri, lebih dulu menjalani peran sebagai ibu dari tiga anak laki-laki. Selain itu, ia juga bertugas mengurus rumah tangganya sehari-hari.
Saat masa kecil, Citra Gandhini Putri lebih akrab dengan nama Putri. Namun, setelah bukunya terbit, ia mulai memperkenalkan diri dengan nama Citra. Perjalanan menulisnya sendiri terbentang panjang, penuh jeda, dan diwarnai berbagai babak kehidupan yang berbeda.
Kesibukan Sehari-hari dan Proses Riset
Di tengah perannya sebagai ibu rumah tangga yang mengurus suami, anak, dan rumah, Citra tetap menyisihkan waktu untuk membaca dan menonton. Kegiatan ini ia lakukan sebagai bagian dari riset penulisannya. Citra mendalami latar tempat cerita, gaya busana tokoh, profesi, hingga memahami karakter-karakter yang ia ciptakan.
Hard to Say sendiri merupakan novel yang mengangkat kisah seorang perempuan berusia 30 tahun yang merasa hidupnya belum banyak berkembang.
Meski sang tokoh berlatar belakang pendidikan kedokteran gigi, kariernya belum sesuai harapan. Sang tokoh juga Citra gambarkan menjalani hubungan cinta yang tidak sederhana, serta tumbuh dalam keluarga yang kurang harmonis.
Berangkat dari Fenomena di Sekitar
Cerita ini tidak lahir dari ruang kosong. Citra mengaku terinspirasi dari kondisi nyata yang ia amati pada generasi muda saat ini. Banyak dari mereka yang di usia 30 tahun masih bergantung secara finansial pada orang tua.
Selain itu, banyak juga para gadis di usia 30 tahun belum menikah. Mereka juga belum memiliki kestabilan hidup dan masih terus mencari pekerjaan yang pas. Ironisnya, waktu tetap dan terus berjalan tanpa mereka sadari.
Naskah novel ini sebenarnya sudah ia tulis sejak usia 17 tahun. Namun ketika itu, cara pandangnya masih khas remaja, sehingga konflik-konflik dalam cerita belum tergarap dengan kuat.
Barulah setelah menginjak usia 35 tahun dan mulai kembali menemukan jati diri, Citra membuka kembali naskah lama tersebut. Ia kemudian menulis ulang dengan perspektif yang lebih dewasa, sekaligus memperkuat konfliknya agar lebih dekat dengan realitas masa kini.
Jeda Panjang di Tengah Perjalanan Hidup
Proses penulisan novel ini turut diwarnai berbagai fase hidup yang Citra lalui. Usai menuntaskan naskah pertamanya semasa remaja, ia melanjutkan pendidikan di jurusan Sastra Arab, kemudian menempuh S2 Linguistik.
Sembari menyusun tesis, ia turut bekerja di sebuah perusahaan forwarder, dan menikah pada usia 26 tahun. Pada masa itu, prosesnya berjalan tanpa hambatan berarti. Ia bahkan menjalaninya dengan santai dan penuh kesenangan.
Namun, keadaan berubah setelah ia menikah dan memiliki dua anak dengan jarak usia yang berdekatan. Keadaan itu membuatnya memutuskan untuk berhenti bekerja. Di masa inilah ia mulai merasa kehilangan arah dan jati diri.
Ia sempat berkali-kali mencoba menulis lagi, tetapi belum ada satu pun yang berhasil ia selesaikan. Kesulitan ini karena ia masih dalam proses menerima perubahan besar dalam hidupnya, baik dari sisi rutinitas maupun kondisi fisik.
Setelah semua fase itu ia lalui dan terima dengan lapang dada, barulah ia kembali membuka naskah lamanya. Sejak saat itu, kemampuannya menulis kembali terasa hidup.
Akar Kecintaan pada Dunia Tulis
Kecintaan Citra terhadap dunia menulis ternyata sudah tumbuh jauh sebelum ia menikah, tepatnya sejak masa remaja. Masa kecilnya sendiri Citra habiskan di sebuah kompleks kehutanan, di rumah yang tidak memiliki televisi.
Waktunya lebih banyak diisi dengan bermain di luar rumah dan membaca, mulai dari majalah Bobo, berbagai komik, hingga novel-novel remaja yang mulai ia gemari saat SMP dan SMA. Dari kebiasaan membaca itulah, minatnya untuk menulis kemudian tumbuh.
“Sejak masih remaja saya sudah menulis. Saya habiskan waktu dengan bermain dan membaca buku. Mulai dari majalah bobo, komik2, dan membaca novel remaja saat SMP dan SMA. Lalu saya mulai menulis,” jelasnya.
Memilih Detak Pustaka sebagai Rumah Berkarya
Dorongan terbesar yang membuat Citra memutuskan menerbitkan karyanya adalah keinginan untuk berdiri di atas nama sendiri, menjadikan Citra Gandhini Putri sebagai sosok yang memiliki karya nyata. Setelah menjajaki beberapa pilihan penerbit, ia menemukan Detak Pustaka melalui Instagram.
Baginya, Detak Pustaka mampu memenuhi kebutuhan proses penerbitan, memberikan respons cepat, serta memberi keleluasaan bagi penulis dalam mempromosikan karya, tanpa melepaskan dukungan dalam aspek penjualan.
Pesan untuk Pembaca
Melalui novelnya, Citra berharap para pembaca dapat berdamai dengan luka-luka masa lalu, mengikhlaskan apa yang sudah terjadi, dan menemukan jalannya masing-masing untuk mencapai tujuan hidup.
Ia berpesan agar tidak perlu terburu-buru atau terpaku pada ekspektasi orang lain, melainkan mengikuti kata hati sendiri sambil tetap menjaga fokus dalam menjalani prosesnya. Ke depan, Citra menyatakan tekadnya untuk terus berkarya. Bahkan, saat ini ia tengah menggarap novel keduanya yang mengangkat tema slice of life.
“InsyaAllah saya akan terus menulis. Untuk novel kedua sedang proses pengerjaan dengan tema slice of life,” tutup Citra.







