Bupati Lamongan Siapkan Strategi Hadapi Musim Kemarau 2026

Peristiwa61 Dilihat

Kabar Lamongan – Bupati Lamongan, Yuhronur Efendi, turut hadir dalam Rapat Koordinasi Penanganan Dampak Hidrometeorologi dan Potensi Bencana Musim Kemarau Jawa Timur 2026, yang digelar Selasa (07/04/2026) di Dyandra Convention Center, Surabaya.

Forum lintas sektor ini menjadi ajang penting bagi berbagai pihak untuk bersama-sama merancang respons terhadap potensi kemarau yang diprediksi akan berdampak serius pada sektor pertanian dan ketersediaan air bersih.

Dalam rapat tersebut terungkap bahwa fenomena El Nino berpotensi menekan curah hujan hingga 20–40 persen dari kondisi normal. Puncak kekeringan diperkirakan terjadi pada Agustus hingga September 2026, sehingga langkah antisipatif yang terukur dan terintegrasi dinilai perlu dimulai sedini mungkin.

Beberapa strategi utama pun mulai dirumuskan. Di antaranya pemetaan kawasan rawan kekeringan dan penguatan sistem peringatan dini, rehabilitasi jaringan irigasi, embung, dan sumur air, serta pemanfaatan pompanisasi dan irigasi perpompaan untuk mengoptimalkan pengelolaan sumber daya air yang ada.

Percepatan masa tanam juga masuk dalam agenda, guna memanfaatkan sisa curah hujan sebelum musim kering benar-benar tiba. Penggunaan varietas tanaman yang tahan kekeringan turut didorong sebagai bagian dari adaptasi di lapangan.

Selain itu, peningkatan ketersediaan alat dan mesin pertanian (alsintan) juga menjadi fokus demi mendukung percepatan tanam dan efisiensi produksi. Koordinasi lintas sektor pun diperkuat, termasuk soal pengaturan distribusi air irigasi dan penyediaan sarana produksi pertanian.

Dari sisi penanganan bencana, berbagai lembaga terkait disiapkan untuk mendukung operasi modifikasi cuaca, menangani potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melalui dukungan sarana operasi udara, serta menyiagakan sistem pompanisasi untuk mengairi lahan yang terdampak kekeringan.

Bupati Lamongan yang akrab disapa Pak Yes menegaskan bahwa seluruh langkah tersebut merupakan bagian penting dari upaya menjaga stabilitas produksi pangan di tengah tekanan perubahan iklim yang kian nyata. Ia memastikan semua strategi itu akan diterapkan di Kabupaten Lamongan sebagai salah satu lumbung pangan nasional.

“Upaya ini tidak hanya untuk mitigasi bencana, tetapi juga memastikan produksi pertanian tetap optimal sehingga swasembada pangan dapat terjaga secara berkelanjutan,” tegasnya.

Dengan tersusunnya strategi yang terintegrasi ini, seluruh daerah, termasuk Kabupaten Lamongan, diharapkan mampu meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau 2026, sekaligus memperkuat ketahanan pangan dan melindungi masyarakat dari risiko bencana hidrometeorologi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *