Kabar Lamongan – Bagaimana rasanya merindukan seseorang yang bahkan tak pernah benar-benar kamu temui? Pertanyaan sederhana itu menjadi pintu awal bagi pembaca untuk menyelami emosi terdalam dalam buku Sepotong Rindu untuk Ibu: Sebuah Rindu yang Tak Kunjung Temu.
Buku ini mengangkat kisah nyata tentang kerinduan seorang anak kepada sang ibu. Bukan sekadar cerita tentang kehilangan, melainkan tentang rasa rindu yang tumbuh pelan-pelan bersama waktu—meski tanpa wajah yang bisa dipandang serta tanpa tatapan yang bisa dikenang.
Penulis buku ini bercerita soal keberadaan ruang kosong yang tak pernah terisi. Namun, hal itu justru membuat rasa rindu menemukan bentuk sebenarnya. Seiring berjalannya waktu, kerinduan itu tidak memudar. Sebaliknya, ia mengakar semakin dalam.
Dalam setiap langkah kehidupan sang anak, doa menjadi satu-satunya cara untuk menyapa. Tidak ada percakapan langsung, tidak ada pelukan hangat, namun doa menjelma jembatan sunyi yang menghubungkan hati.
Sementara itu, kenangan—meski mungkin hanya serpihan cerita dan bayangan—menjadi ruang paling aman untuk berbicara dan menghidupkan kembali sosok yang ia rindukan.
Melalui narasi yang menyentuh, buku Sepotong Rindu untuk Ibu membawa pembaca masuk ke pusaran emosi yang begitu personal. Tentang sebuah kehilangan yang tak terucap, cinta anak yang tak pernah surut, serta rindu yang tak lekang oleh waktu.
Buku ini tidak hanya bercerita tentang duka, tetapi juga tentang keteguhan hati dalam mencintai seseorang yang kehadirannya tak lagi bisa tersentuh. Jika kamu penasaran dengan buku ini, kamu bisa mendapatkannya dengan berkunjung langsung ke laman resmi detakpustakatoko.com.
Pada akhirnya, karya ini mengajak kamu memahami bahwa rindu tidak selalu tentang pertemuan. Terkadang, rindu justru hidup paling lama dalam doa dan kenangan. Dan di sanalah, cinta seorang anak kepada ibunya tetap abadi—meski tak pernah benar-benar bertemu.







