Kabar Lamongan – Ahmad Dimyati merupakan penulis muda yang berhasil menerbitkan buku berjudul Menua Bersamanya. Novel setebal 293 halaman itu kini tersedia di Detak Pustaka Toko seharga Rp77.000.
Dalam karyanya, penulis ingin menyampaikan bahwa tidak semua orang yang tampak sibuk sedang mengejar kesuksesan. Ada kalanya, kesibukan yang paling melelahkan justru datang dari dalam diri sendiri. Misalnya, dari upaya seseorang menyusun kembali serpihan hatinya yang berantakan sendirian.
Novel ini mengikuti perjalanan hidup Rafa, seorang tokoh yang harus menghadapi dua perpisahan besar dalam hidupnya. Bukan sekadar kisah patah hati biasa, Buku Menua Bersamanya merekam proses transformasi batin yang berlangsung dalam dua babak berbeda.
Pada fase pertama, Rafa berhadapan dengan kekalahan di tangan takdir, dan dari sana, ia belajar tentang keikhlasan. Pada fase kedua, ia kembali terguncang, kali ini oleh keadaan yang memaksanya mempertanyakan nilai dirinya sendiri. Namun, justru dari titik paling bawah itulah, ia menemukan makna kelayakan diri.
Ketika realita memaksanya berjalan sendirian, Rafa tidak diam. Ia berlari mengejar mimpi menjadi penulis, musisi, hingga akademisi. Perlahan, masa lalu yang dulu terasa menyakitkan mulai berubah wajah, dari beban menjadi kebanggaan.
Inilah inti dari pesan yang ingin penulis sampaikan, bahwa berdamai dengan kenangan bukan berarti melupakan. Namun, berdamai adalah untuk melainkan belajar menjemput masa depan tanpa terus-menerus menoleh ke belakang dengan rasa sakit.
Menua Bersamanya bukan hanya novel tentang Rafa. Ia adalah undangan bagi siapa saja yang pernah merasa sendiri, namun tetap memilih untuk bertahan dan bangkit.
Di halaman-halamannya, pembaca mungkin akan menemukan potongan kisah mereka sendiri, tentang bagaimana tetap hidup setelah kehilangan, dan bagaimana sukses bisa lahir justru dari penghinaan. Satu kebangkitan, dari dua luka. Itulah Menua Bersamanya.







