Buku Manusia dan Dukanya: Suara Hati Tari tentang Luka dan Keikhlasan

Berita, Pendidikan106 Dilihat

Kabar Lamongan – Dwi Ayu Lestari atau akrab dipanggil Tari, merupakan penulis buku Manusia dan Dukanya. Selain aktif menulis, ia juga sibuk menjadi mahasiswi semester akhir UIN Sunan Kudus. Penulis muda asal Sumatera Utara ini memulai perjalanan menulisnya pada 2022.

Pada saat itu, ia aktif mengikuti berbagai lomba puisi tingkat nasional secara daring dan beberapa kali meraih nominasi sebagai penulis terbaik dan penulis terpilih. Hingga saat ini, ia telah menghasilkan 10 karya buku dalam berbagai bentuk, baik antologi maupun buku solo.

Lebih dari Sekadar Kesedihan

Buku yang ia tulis adalah kumpulan prosa dan puisi yang mengajak pembaca masuk ke dalam sisi paling jujur dari pengalaman berduka.

Tari menjelaskan bahwa duka yang ia maksud tidak terbatas pada kematian semata, melainkan segala bentuk kehilangan yang bisa manusia alami. Kehilangan itu mulai dari patah hati, hilangnya harapan, hingga kegagalan meraih sesuatu yang sangat diinginkan.

Salah satu pesan yang paling ingin ia sampaikan lewat buku ini adalah bahwa tidak apa-apa untuk tidak baik-baik saja. Ia sadar ada banyak orang yang terbiasa dipaksa oleh lingkungan sekitarnya untuk terus terlihat kuat, padahal di dalam mereka sedang sangat kelelahan.

Lewat narasi yang ia bangun, Tari ingin menjadi pengingat bahwa merasa hancur dan menangis adalah hal yang manusiawi dan tidak perlu ada tuntutan untuk segera pulih.

Buku ini juga membawa pembaca pada dialog yang lebih personal dengan diri sendiri. Banyak bagian di dalamnya terasa seperti percakapan antara seseorang dengan jiwanya yang terluka.

Selain itu, buku ini juga mengajak pembaca untuk berhenti menyalahkan diri atas duka yang datang. Tari juga ingin pembaca memahami bahwa setiap orang punya porsi dan waktu sembuhnya masing-masing.

Pada bagian akhir, narasi dalam buku ini perlahan bergerak ke arah penerimaan. Ini menggambarkan bagaimana duka yang dihadapi dengan jujur bisa bertransformasi menjadi kedewasaan dan rasa empati yang lebih dalam terhadap sesama.

Luka yang Mendorong Pena Kembali Bergerak

Tari mengaku, menyelesaikan buku ini dalam waktu sekitar dua bulan. Namun, perjalanan ke titik itu tidaklah singkat. Kesibukannya sebagai mahasiswi semester akhir sempat membuatnya benar-benar berhenti menulis selama lebih dari satu tahun akibat writer’s block.

Pada akhirnya, yang membuatnya menulis kembali adalah sebuah kehilangan. Ia kehilangan seseorang yang sangat ia sayangi, dan lebih menyakitkan lagi, ia tidak sempat hadir untuk menemaninya di hari terakhir.

Duka itulah yang kemudian menjadi bahan bakar untuk menyelesaikan buku Manusia dan Dukanya, setelah ia sendiri berhasil sampai pada fase penerimaan.

Selain pengalaman pribadi, dorongan menulis juga datang dari banyaknya cerita yang ia terima dari orang-orang terdekatnya. Mereka bercerita tentang kehilangan, kegagalan, dan berbagai bentuk kesedihan yang ada. Semua itu akhirnya bertemu dan mengendap, lalu mengalir menjadi tulisan.

Dari seluruh bagian buku, ada satu yang paling membekas baginya secara pribadi, yakni Chapter II Hening, bagian Doa tanpa Nama. Baginya, pesan yang paling ingin ia titipkan di sana adalah bahwa sesuatu yang jauh lebih besar dari duka itu sendiri merupakan kemauan untuk tetap berdoa di tengahnya.

Memilih Detak Pustaka sebagai Perantara

Keputusan Tari untuk menerbitkan buku ini bersama Detak Pustaka bukan tanpa alasan. Ia melihat Detak Pustaka bukan sekadar tempat menerbitkan naskah, melainkan ruang yang benar-benar memberi tempat bagi penulis-penulis muda untuk tumbuh dan berani berkarya.

Pengalaman menerbitkan bersama Detak Pustaka juga ia rasakan sebagai sesuatu yang menyenangkan. Ini karena tim Detak Pustaka selalu bersikap ramah, responsif, dan mendukung penuh prosesnya sebagai penulis.

Ia juga mengungkapkan rasa terima kasihnya secara tulus, karena Detak Pustaka hadir di saat ia sedang keluar dari kebuntuan menulis yang cukup panjang.

Sebuah Pelukan untuk yang Sedang Berduka

Harapan terbesar Tari dari buku ini sederhana. Ia ingin pembaca tidak lagi merasa sendirian dalam dukanya. Karena duka sering kali menjadi ruang yang tertutup rapat.

Oleh karena itu, buku ini hadir sebagai upaya untuk meruntuhkan sekat tersebut agar siapa pun yang membacanya bisa merasa punya ruang bernapas yang lebih lega, dan melihat duka bukan sebagai musuh yang harus segera dilenyapkan, melainkan sebagai bagian dari proses yang wajar dan manusiawi.

Kepada siapa pun yang sedang berada dalam fase berduka, Tari menitipkan pesan. “Terimalah kehadiran duka itu, mulailah dari langkah paling kecil yang kamu mampu, dan berhentilah menyalahkan diri sendiri atas hal-hal yang memang di luar kendalimu,” pesannya.

Ia juga menambahkan, jika terasa terlalu berat untuk ditanggung sendirian, bicaralah dengan orang yang kamu percaya. Dan yang paling penting, teruslah berdoa mintalah keikhlasan, kesabaran, dan kekuatan kepada yang memberikan duka itu.

“Duka itu tidak akan hilang total, tapi lama-lama dia akan mengecil, dan kamu akan jadi lebih kuat untuk membawanya,” katanya.

Ke depan, Tari masih punya banyak yang ingin ia tulis. Salah satu impian yang sedang ia simpan adalah mencoba menulis novel, meski ia mengakui masih ingin belajar lebih dulu sebelum benar-benar melangkah ke sana. Yang jelas, perempuan yang menemukan caranya berbicara lewat tulisan ini belum berniat untuk berhenti.

Buku karya Tari dengan judul Manusia dan Dukanya ini bisa kamu temukan di laman resmi Detak Pustaka atau kamu juga bisa membelinya lewat laman detakpustakatoko.com.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *