Banjir Bengawan Jero Meluas, Hampir 5 Ribu Rumah Warga Lamongan Terendam

Peristiwa50 Dilihat

Kabar Lamongan – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lamongan mencatat dampak banjir akibat luapan Sungai Bengawan Jero semakin meluas dan menggenangi ribuan rumah warga di sejumlah wilayah.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pelaksana BPBD Lamongan, M. Na’im, mengatakan banjir luapan Bengawan Jero hingga 16 Januari 2026 telah berdampak pada 44 desa yang tersebar di lima kecamatan, yaitu Kalitengah, Karangbinangun, Turi, Glagah, dan Deket.

Berdasarkan data terbaru, sebanyak 4.986 rumah terendam banjir. Selain itu, tercatat 4.861 kepala keluarga atau sekitar 20.850 jiwa terdampak akibat bencana tersebut.

Meski demikian, Na’im menyebutkan hasil pemantauan di beberapa titik menunjukkan adanya penurunan tinggi muka air sekitar dua hingga tiga sentimeter. Penurunan ini terjadi karena dalam dua hari terakhir tidak turun hujan deras di wilayah tersebut.

“Per 16 Januari kami mencatat sebanyak 4.986 rumah terendam dengan 4.861 kepala keluarga atau 20.850 jiwa terdampak banjir. Namun, di beberapa titik sudah terlihat penurunan muka air sekitar dua hingga tiga sentimeter karena dua hari terakhir tidak terjadi hujan deras,” ujar Na’im, dikutip dari Antara News, Sabtu (17/01/2026).

Ia menjelaskan, banjir tidak hanya merendam permukiman warga, tetapi juga berdampak pada sektor pertanian dan pendidikan. Sekitar 7.125 hektare lahan pertanian dan tambak dilaporkan terdampak, sementara aktivitas di 92 lembaga pendidikan turut terganggu.

Seiring meluasnya dampak banjir, BPBD Lamongan terus melakukan penanganan terpadu bersama organisasi perangkat daerah (OPD) terkait. Upaya tersebut meliputi pendistribusian bantuan logistik hingga dukungan teknis dalam pengendalian banjir.

Na’im menambahkan, hingga saat ini BPBD telah menyalurkan bantuan berupa beras sebanyak 14 ton kepada warga terdampak. Adapun distribusi bantuan logistik lainnya masih terus dilakukan secara bertahap setiap hari.

“Dropping logistik dilakukan setiap hari sehingga rekapitulasi bantuan secara keseluruhan masih dalam proses,” katanya.

Selain penanganan logistik, upaya pengendalian banjir juga mendapat dukungan melalui pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Kegiatan tersebut dilakukan oleh BPBD Provinsi Jawa Timur dengan menaburkan garam menggunakan pesawat Cessna guna menekan potensi hujan di wilayah hulu.

Sementara itu, Dinas Sumber Daya Air dan Bina Konstruksi (SDABK) Kabupaten Lamongan memastikan operasi siaga banjir di Stasiun Pompa Kuro masih terus berlangsung.

Kepala SDABK Lamongan, Erwin Sulistya Pambudi, mengatakan pompa tetap dioperasikan lantaran tinggi muka air Bengawan Solo masih sekitar 120 sentimeter lebih tinggi dibandingkan muka air Kali Blawi, meskipun di wilayah hulu mulai terlihat tren penurunan.

“Sudah ada tren penurunan di hulu Bengawan Solo. Kami berharap tidak ada hujan lanjutan agar pintu air Kuro dapat segera dibuka,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *