Ayu Rismayanti dan Perjuangan Menulis hingga Dua Kali Ukir Prestasi Lewat Antologi

Berita77 Dilihat

Kabar Lamongan – Perjalanan panjang di dunia tulis-menulis datang dari Ayu Rismayanti. Sebagian orang sering kali menganggap menulis membutuhkan waktu senggang yang panjang. Namun, bagi Ayu Rismayanti, menulis bisa ia lakukan di tengah kesibukan sehari-hari.

Di sela perannya sebagai ibu rumah tangga sekaligus staf tata usaha di sebuah SD swasta, ia tetap menyempatkan diri menulis hingga karyanya berhasil masuk dalam dua buku antologi terbitan Halo Penulis. Perempuan berusia 28 tahun itu membuktikan bahwa banyaknya kesibukan tak membuat perjalanannya terhenti.

Menulis di Sela Rutinitas Padat

Sehari-hari, Ayu menjalani kehidupan dengan berbagai aktivitas. Pagi hingga pukul tiga sore, waktunya tersita untuk bekerja di sekolah. Sepulang kerja, ia masih melanjutkan usaha sampingan menjahit kebaya. Baru pada malam hari, ia mengalokasikan waktu untuk membaca, meski harus memaksakan diri di tengah lelahnya beraktivitas seharian.

Minat Ayu terhadap dunia tulis-menulis sesungguhnya telah lama tumbuh. Meski begitu, ia sempat merasa kurang percaya diri dengan gaya bahasanya sendiri, yang menurutnya terkesan monoton.

Menurutnya, kondisi ini berkaitan dengan minimnya kebiasaan membaca. Ia bahkan mengaku lebih memilih membaca komik daripada novel, karena bentuk tulisan berparagraf panjang cenderung membuatnya mengantuk.

Menulis diary menjadi kebiasaan yang telah lama ia jalani, tempat ia mencurahkan berbagai perasaan apa adanya. Kebiasaan inilah yang kemudian menjadi bekal ketika ia mengetahui ajang lomba menulis Halo Penulis dari media sosial TikTok dan Instagram. Dari sana, ia memutuskan untuk mencoba peruntungan.

Menjadi Penulis Terpilih

Keputusan Ayu Rismayanti untuk ikut serta membuahkan hasil yang tak ia sangka. Pada gelaran LM-Batch 6 Vol 3, karyanya berhasil menarik perhatian tim Halo Penulis dan menjadi buku antologi berjudul Bingkai Cerita Kita jilid 5.

Momen ini menjadi bukti nyata baginya bahwa ketakutannya selama ini terhadap kemampuan menulis tidak sepenuhnya benar. Tidak berhenti di pencapaian pertama, Ayu kembali mengikuti ajang LM-Batch 7 Vol 3 dan kembali menjadi penulis terpilih melalui buku Akhir Sebuah Cerita edisi jilid 3.

“Sungguh ini merupakan perjalanan yang baik dan juga pencapaian yang sangat tidak pernah saya bayangkan sebelumnya,” ungkap Ayu.

Meramu Kisah Pribadi Menjadi Cerita Fiksi

Soal sumber inspirasi, Ayu menjelaskan bahwa tulisannya lahir dari perpaduan antara pengalaman pribadi dan imajinasi. Ayu mengaku kesulitan menjaga alur cerita apabila tidak berpijak pada kisah nyata yang pernah ia alami sendiri.

Meski begitu, ia tidak menuliskan seluruh detail kisah aslinya secara utuh. Sejumlah bagian yang terasa terlalu terbuka sengaja ia ubah.

Tujuannya agar sosok yang menjadi inspirasi cerita tidak merasa kisahnya diceritakan secara gamblang. Apalagi, saat karya tersebut resmi terbit dalam bentuk buku dan berpotensi dibaca oleh orang-orang terdekatnya.

Sebagai penulis yang masih tergolong baru, Ayu turut menghadapi tantangan dalam membangun suasana cerita agar tidak terasa datar.

Ia mencontohkan kesulitannya menggambarkan emosi seperti kemarahan tokoh, yang biasanya penulis lain visualisasikan lewat dialog atau tindakan. Ini adalah sesuatu yang masih menjadi proses belajar hingga kini.

Ide Datang di Jam Tiga Pagi

Uniknya, inspirasi menulis bagi Ayu kerap muncul pada dini hari, tepatnya sekitar pukul tiga pagi. Di luar waktu tersebut, ia juga memanfaatkan jeda waktu di sekolah untuk membaca novel. Begitu ide muncul, ia terbiasa langsung menuliskannya tanpa menunggu waktu lain.

Adapun yang mendorongnya terus mengikuti berbagai lomba menulis adalah keinginan untuk mengetahui sejauh mana kemampuan dan perkembangannya dalam bidang kepenulisan.

“Saya ingin melihat kemampuan dan pencapaian saya dalam dunia menulis,” katanya.

Ruang Belajar bagi Penulis Pemula

Menurut Ayu, berbagai ajang di Halo Penulis memberi kesempatan bagi siapa pun untuk menyuarakan kisahnya, termasuk mereka yang selama ini ragu menampilkan karya meski sebenarnya memiliki kemampuan. Ajang-ajang tersebut, menurutnya, turut menumbuhkan semangat para penulis pemula sepertinya untuk terus belajar.

Ia menambahkan, tidak sedikit penulis yang awalnya hanya berstatus penulis terpilih kemudian termotivasi untuk mengejar predikat penulis juara. Karya yang berhasil jadi buku, menurutnya, merupakan kebanggaan tersendiri, baik bagi penulisnya maupun orang-orang di sekitarnya.

Pesan untuk yang Masih Ragu Mengirim Karya

Di akhir perbincangan, Ayu menitipkan pesan bagi penulis pemula yang masih ragu mengirimkan karyanya ke ajang lomba. Baginya, menjadi penulis hebat bukan semata tentang menghadirkan cerita yang terasa nyata bagi pembaca.

Penulis hebat adalah mereka yang tumbuh dari tekad dan keyakinan bahwa setiap proses menulis serta setiap kata yang tertuang memiliki makna tersendiri.

“Penulis hebat itu lahir dari tekad dan keyakinan,” tegas Ayu Rismayanti.

Ia meyakini, langkah sekecil apa pun sudah cukup untuk melahirkan sebuah karya. Sebab menurutnya, di balik setiap kata yang tertulis, selalu tersimpan perasaan yang benar-benar nyata untuk dirasakan dan diceritakan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *