Ayu Lina Pertiwi: Dua Peran, Satu Passion sebagai Guru dan Penulis

Berita, Pendidikan87 Dilihat

Kabar Lamongan – Kesibukan sehari-hari tidak membuat Ayu Lina Pertiwi berhenti berkarya. Di balik profesinya sebagai guru SD, ia juga aktif sebagai salah satu penulis di platform Halo Penulis. Dua peran yang berbeda, namun ia jalani dengan cara yang tenang dan teratur.

Minat Ayu terhadap dunia menulis sudah muncul sejak masa sekolah menengah. Waktu itu, menulis ia lakukan semata sebagai hobi pribadi, belum ada dorongan untuk menampilkannya kepada orang lain. Kebiasaan itu kemudian terhenti cukup lama, hingga akhirnya pada tahun 2023 ia memutuskan untuk aktif kembali.

Langkah pertamanya adalah mengirimkan tulisan ke Halo Penulis. Karya itu berjudul Menunggu Sebuah Jawaban, sebuah cerita tentang pertemuan tak terduga antara dua orang yang akhirnya dihubungkan oleh takdir. Bagi Ayu, karya ini memiliki tempat tersendiri di hatinya karena menjadi penanda kebangkitannya setelah lama tidak menulis.

Tujuh Karya dengan Cerita Masing-Masing

Setelah karya pertamanya, Ayu terus aktif mengikuti berbagai kegiatan di Halo Penulis. Ia berpartisipasi dalam program Menulis Bareng di batch 10, 14, dan 15, dengan judul Menunggu Sebuah Jawaban, Dari Aku Untuk Aku, dan Kisah di Balik Pertemuan.

Selain itu, ia juga mengikuti sejumlah lomba menulis dan menghasilkan karya seperti Kamu dan Segala Kenangan, Harapan di Tengah Penantian, Saat Semesta Mempertemukan Kita, serta Kamu dan Langkah yang Menjauh.

Setiap karya, menurutnya, membawa kesan yang berbeda-beda. Namun, Menunggu Sebuah Jawaban tetap yang paling membekas karena menjadi titik awal perjalanannya kembali ke dunia kepenulisan.

Buntu, Gagal, dan Bangkit Lagi

Seperti penulis pada umumnya, Ayu juga akrab dengan momen kebuntuan. Ada kalanya ide tidak langsung datang dan pikiran terasa kosong. Ketika itu terjadi, ia biasanya memilih untuk sejenak menjauh dari layar, berjalan-jalan, membaca tulisan orang lain, atau membuka kembali karya-karyanya terdahulu untuk mendapatkan kembali ritme menulis.

Ia juga pernah mengalami kegagalan dalam lomba. Bukan karena tulisannya bermasalah, melainkan karena ia kurang cermat membaca persyaratan yang berlaku. Pengalaman itu tidak ia sesali berlebihan. Justru, dari sana ia belajar untuk lebih sabar dan tidak terburu-buru dalam proses menulis.

Menyeimbangkan Dua Kesibukan

Menjadi guru sekaligus penulis tentu membutuhkan pengaturan waktu yang baik. Ayu mengatasinya dengan cara yang praktis. Kegiatan menulis ia lakukan di luar jam mengajar, sehingga tidak ada yang terganggu satu sama lain. Keduanya berjalan di jalurnya masing-masing.

Dari posisinya yang bersinggungan langsung dengan dunia pendidikan, Ayu memiliki harapan sederhana untuk literasi Indonesia. Ia ingin semakin banyak karya sastra yang ramah dan berpihak pada anak-anak.

Di tempat ia mengajar, buku-buku semacam itu masih sulit ditemukan. Ke depannya, ia berharap bisa ikut berkontribusi untuk mengisi kekosongan tersebut melalui tulisannya.

Ruang Berkarya yang Terasa Aman

Adapun yang membuat Ayu Lina Pertiwi bertahan dan terus aktif di Halo Penulis adalah atmosfer yang ia rasakan. Sebagai penulis yang kadang masih diselimuti keraguan soal kualitas karyanya sendiri, ia menemukan bahwa Halo Penulis adalah tempat yang tidak menghakimi.

Rasa ragu yang dulu kerap menghantui perlahan berkurang seiring ia terus mengirimkan karya dan mengikuti berbagai event. Baginya, Halo Penulis bukan hanya soal lomba atau publikasi. Lebih dari itu, platform ini memberinya kembali keberanian untuk merangkai kata dan mau berbagi tulisan kepada orang lain.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *