Kabar Lamongan – Nama aslinya Arum Weni Yekti Lestari, tetapi di dunia kepenulisan ia lebih dikenal sebagai Arum Abygail. Kesehariannya adalah menjadi seorang ibu rumah tangga sekaligus pengajar bahasa Korea secara daring dan privat di rumah. Di sela kesibukan itu, ia tetap meluangkan waktu untuk menulis.
Hingga kini, dua buku telah ia terbitkan bersama Detak Pustaka. Buku pertama adalah Kopi dan Narasi, sebuah karya yang ia tulis bersama rekan sesama penulis. Sedangkan, buku kedua adalah Memeluk Trauma hingga Tenang, yang merupakan buku solonya.
Memoar yang Lahir dari Pengalaman
Memeluk Trauma hingga Tenang adalah memoar reflektif. Buku ini bercerita tentang perjalanan seseorang dalam proses menerima luka-luka psikologis yang terus menghantui.
Arum Abygail tidak menulisnya sebagai panduan yang menjanjikan kesembuhan cepat, melainkan sebagai teman bagi pembaca yang sedang belajar memahami diri, menerima masa lalu, dan menemukan ketenangan secara bertahap.
Inspirasinya datang langsung dari hidupnya sendiri, dari berbagai fase kehilangan, kekecewaan, dan pergulatan batin yang panjang.
Dari proses itu, ia sampai pada satu kesadaran, bahwa seseorang tidak perlu memaksakan diri untuk terlihat baik-baik saja. Namun, seseorang hanya butuh keberanian untuk mengakui bahwa ada bagian dari dirinya yang terluka dan selama ini disembunyikan.
“Setelah kita berani melihatnya, penerimaan itu hadir dengan memeluk luka itu secara penuh kesadaran,” tuturnya.
Dari situlah judul buku ini lahir, dengan keyakinan bahwa ketenangan bukan berarti melupakan luka, tetapi belajar hidup berdampingan dengannya dengan lebih sehat.
Perjalanan 14 Bulan
Proses menulis buku ini memakan waktu sekitar 14 hingga 15 bulan, dari sejak tahap pengumpulan ide hingga naskah akhirnya terbit. Namun, waktu sepanjang itu tidak selalu Arum isi dengan menulis. Arum justru banyak mengambil jeda di tengah prosesnya.
Ternyata, tantangan terbesar bukan soal teknis kepenulisan. Hal terberat adalah keberanian untuk kembali melihat ke belakang, dengan mengingat dan menuliskan bagaimana luka itu terjadi.
Oleh karena itu, Arum Abygail mengaku harus menjaga kondisi psikologisnya dari berbagai pemicu yang muncul selama proses penulisan, termasuk menjalani konseling bersama psikolog.
Selain itu, ia juga sempat mempertanyakan apakah ceritanya cukup berarti bagi pembaca, apakah ia sudah siap membuka bagian paling personal dari hidupnya, dan apakah buku ini nantinya bisa berdampak buruk bagi putrinya.
Bagi Arum, menulis buku ini terasa seperti melepaskan semua topeng yang biasa ia kenakan saat berhadapan dengan orang lain. Hal lain yang juga menjadi pertimbangan adalah menjaga privasi orang-orang yang pernah hadir dalam hidupnya.
Namun, motivasi dari orang-orang terdekatnya membuat ia memilih untuk melanjutkan. Satu pesan yang ia pegang adalah menjadikan proses menulis sebagai bagian dari perjalanan pulih. Luka tidak harus selalu ia tutupi, karena mungkin saja ada orang lain di luar sana yang bisa belajar dari pengalaman yang sama.
Menulis di Sela Kesibukan
Arum bukan tipe penulis yang menetapkan jam menulis secara ketat setiap harinya. Dengan tanggung jawab sebagai ibu, pengajar, dan berbagai kegiatan pribadi lainnya, ia memilih pendekatan yang lebih fleksibel. Ia memanfaatkan waktu luang yang ada, meskipun hanya satu atau dua jam sehari.
Ia juga tidak menulis dalam kondisi apa pun. Baginya, menulis membutuhkan suasana hati dan pikiran yang cukup tenang, karena prosesnya bukan sekadar menyusun kalimat, tetapi juga mengolah pengalaman dan emosi.
Meski fleksibel, ia tetap menjaga agar tulisannya terus berkembang sedikit demi sedikit. Prioritas harian ia susun dengan jelas, dan menulis selalu ada di dalamnya.
Alasan Kembali ke Detak Pustaka
Untuk buku keduanya, Arum memilih untuk kembali ke Detak Pustaka. Pengalaman positif dari proses penerbitan buku pertama menjadi alasan utamanya. Ia merasa mendapat ruang untuk menyampaikan ide dan mempertahankan karakter tulisannya tanpa kehilangan identitasnya dalam proses penerbitan.
Selain itu, keselarasan visi juga menjadi pertimbangan. Ini karena Memeluk Trauma hingga Tenang lahir dari refleksi yang sangat personal, sehingga ia membutuhkan penerbit yang bisa memahami nilai dan tujuan dari naskah tersebut.
“Kalau diibaratkan, saya sudah menemukan rumah yang nyaman untuk bertumbuh sebagai penulis,” ujarnya.
Untuk Mereka yang Masih Ragu
Di akhir perbincangan, Arum menitipkan pesan bagi para penulis yang ingin mengangkat tema trauma atau kesedihan, namun masih merasa ragu.
Pesannya adalah tidak terburu-buru menulis untuk menyembuhkan orang lain sebelum memberi ruang bagi diri sendiri untuk memahami apa yang sedang terasa dalam hati. Menulis tentang luka tidak mengharuskan seseorang sudah sepenuhnya sembuh, tetapi setidaknya perlu ada jarak yang cukup untuk bisa melihat pengalaman itu dengan lebih jernih.
“Ketika kita menulis dari luka yang masih sangat terbuka, sering kali yang keluar adalah rasa sakitnya. Tetapi ketika kita menulis dari proses memahami luka, yang lahir adalah makna,” katanya.
Ia juga mengingatkan bahwa tidak semua cerita harus segera dibagikan. Menulis di buku harian atau catatan pribadi pun tetap punya nilai. Dan jangan pernah meremehkan seberapa jauh sebuah cerita bisa menjangkau orang lain, sebab bisa jadi, satu kalimat yang kita tulis menjadi penghiburan bagi seseorang yang sedang berjuang sendirian.
Bagi Arum, pertanyaan yang perlu diajukan bukan “Apakah tulisan saya sudah cukup baik?” melainkan “Apakah ada kebenaran yang ingin saya sampaikan?” Karena keberanian untuk jujur, ia percaya, adalah titik awal dari lahirnya karya yang benar-benar bermakna.







