Andi Hasana dan Kebiasaan Kecilnya yang Berbuah Prestasi Besar

Pendidikan75 Dilihat

Kabar Lamongan – Tidak semua penulis lahir dari panggung lomba. Sebagian besar justru bermula dari kebiasaan kecil yang dilakukan diam-diam, seperti menulis tanpa tujuan, tanpa pembaca, tanpa hadiah. Begitu pula Andi Hasana, siswi SMA yang kini dikenal sebagai salah satu penulis aktif di komunitas Halo Penulis.

Andi Hasana adalah penulis muda yang berhasil meraih sederet prestasi, mulai dari kategori cerpen, puisi, hingga surat. Prestasi terbarunya adalah saat ia berhasil menjadi juara kedua dalam Lomba Menulis Batch 19 Volume 2 dari Halo Penulis.

Berawal dari Suka, Bukan dari Target

Andi tidak ingat persis kapan pertama kali ia jatuh cinta pada tulisan. Yang ia tahu, kebiasaan itu sudah ada sejak sekolah dasar, dan tumbuh berdampingan dengan kegemarannya mengoleksi dan membaca novel.

Dari buku-buku yang ia baca, perlahan muncul keinginan untuk tidak hanya menjadi pembaca, tetapi juga pencipta cerita. Oleh karena itu, sejak duduk di bangku SMP, ia mulai serius menulis karyanya sendiri.

Lingkungan sekolahnya turut mendukung. Andi menghabiskan masa SMP di pondok pesantren yang setiap tahunnya menerbitkan kumpulan karya santri. Prosesnya tidak rumit, karena siapa pun yang berminat bisa ikut, dibimbing oleh guru, dan karyanya akan dicetak menjadi buku.

Pengalaman melihat tulisannya benar-benar tercetak dan bisa ia pegang itulah yang menjadi salah satu momen penting dalam perjalanannya sebagai penulis muda.

Meski begitu, dunia lomba kepenulisan baru ia masuki jauh setelahnya. Perjalanan itu ia mulai pada November tahun lalu. Saat itu, Andi memberanikan diri untuk pertama kalinya mengikuti lomba menulis cerpen. Dari sana, satu langkah membawanya ke langkah berikutnya.

Prestasi yang Datang Bersama Keberanian

Dalam waktu yang relatif singkat, nama Andi Hasana mulai sering muncul di berbagai kategori lomba Halo Penulis. Di ranah cerpen, ia meraih Juara 2 di LM_BATCH19 dan Juara 3 di LM_BATCH21, serta berkali-kali mendapat predikat Penulis Terpilih di batch-batch lainnya.

Di kategori puisi, ia konsisten masuk sebagai Penulis Terpilih dari LP_BATCH6 hingga LP_BATCH13, dan delapan batch berturut-turut. Sementara di lomba menulis surat, ia bahkan berhasil meraih Juara 1 di LS_BATCH8.

Namun, yang paling ia kenang dari semua pencapaian itu bukan soal peringkat. Kemenangan pertamanya terasa begitu berarti justru karena sebelumnya ia adalah seseorang yang kurang percaya diri untuk menunjukkan karyanya kepada orang lain.

Belajar dari yang Tidak Berhasil

Perjalanan Andi tentu tidak selalu berujung kemenangan. Ia pernah gagal, dan ia tidak menyangkal itu. Namun alih-alih berhenti, ia memilih cara yang paling sederhana untuk bangkit, dengan terus belajar. Membaca lebih banyak, menulis lebih sering, dan meyakini bahwa kegagalan bukan akhir segalanya.

Prinsip itu juga yang ia pegang saat menghadapi writer’s block–sesuatu yang ia akui kerap datang tanpa permisi. Ketika ide tiba-tiba buntu di tengah jalan, Andi tidak memaksakan diri untuk terus menulis.

“Kalau memang udah kayak gitu ya biasanya saya langsung berhenti dulu, karena kalau misalnya saya nulis tetap lanjut nanti ujung-ujungnya waktu saya udah merasa oke terus saya cek lagi saya nggak suka. Jadi, biasanya saya berhenti dulu baru nanti waktu mood nya udah bagus lanjut nulis,” ungkapnya.

Ia tahu betul bahwa tulisan yang ia paksakan hampir selalu berakhir mengecewakan saat ia baca ulang. Oleh sebab itu, ia memilih berhenti sejenak, pergi jalan-jalan, menghabiskan waktu bersama teman-teman, dan membiarkan pikiran beristirahat.

Ritual Malam yang Sunyi

Ada kebiasaan unik setiap kali Andi menulis. Ia paling produktif di malam hari, ketika suasana rumah sudah senyap, karena kata-kata bisa mengalir begitu saja. Saat seperti ini, ia tahu harus memulai dari mana, tahu bagaimana setiap paragraf harus berjalan.

Soal persiapan sebelum menulis untuk lomba, Andi punya kebiasaan yang cukup terstruktur. Ia tidak langsung menulis begitu tema diumumkan.

Sebaliknya, ia meluangkan waktu untuk mematangkan ide terlebih dahulu, mencari referensi, bahkan tidak jarang mengajak teman berdiskusi untuk menggali sudut pandang yang berbeda. Baru setelah merasa idenya cukup kuat, ia mulai mengetik.

Lomba yang Tak Terlupakan

Di antara semua lomba yang pernah ia ikuti, satu nama tersemat paling dalam di ingatannya, yaitu FLS3N atau Festival dan Lomba Seni Sastra Siswa Nasional. Andi sudah lama mengincar kompetisi bergengsi itu.

Ketika akhirnya terpilih untuk mewakili sekolahnya, ia merasakan kebanggaan yang berbeda, bukan kebanggaan atas trofi, melainkan atas kepercayaan.

“Karena kan udah lama ngincar walaupun nggak menang tapi seneng udah bisa wakilin sekolah,” katanya.

Meski tidak membawa pulang juara, pengalaman itu justru menjadi salah satu momen paling berkesan dalam perjalanan menulisnya.

Untuk yang Masih Menimbang

Kepada para penulis pemula yang masih ragu-ragu untuk mencoba lomba, Andi tidak memberikan pesan yang cukup menginspirasi.

“Kadang memang ada beberapa orang yang merasa karyanya nggak bagus, bukan berarti karya itu nggak bagus. Ada orang bilang karya kalian bagus. Jadi, percaya diri aja nggak mungkin nggak ada yang suka. Jangan pernah merasa nggak ada yg suka,” pesannya.

Setiap karya akan selalu menemukan orang yang mengapresiasinya. Mungkin tidak semua orang akan menyukainya, tetapi selalu ada yang akan menyukai. Maka, satu hal yang ia tekankan, jangan pernah berhenti sebelum mencoba, hanya karena takut tidak ada yang suka.

Sementara, untuk komunitas Halo Penulis yang telah menjadi rumah bagi perjalanannya, Andi menitipkan harapan agar terus tumbuh dan mampu menampung lebih banyak suara dari para penulis di luar sana.

Andi Hasana adalah pengingat bahwa prestasi terbaik sering kali bukan yang paling keras kamu kejar, melainkan yang tumbuh pelan-pelan dari kebiasaan sederhana, seperti membaca, menulis, dan berani menunjukkan karya kepada dunia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *