Amanda Destya Maharani Bagikan Perjalanan dan Proses Kreatifnya di Halo Penyair

Berita90 Dilihat

Kabar Lamongan – Amanda Destya Maharani atau akrab disapa Manda, merupakan salah satu penulis muda yang telah mengikuti ajang Halo Penyair sebanyak dua kali, yakni pada batch 21 dan batch 22. Di luar aktivitas menulis, Manda mengisi waktunya dengan membaca buku, bernyanyi, dan belajar baking.

Kecintaan Manda terhadap dunia tulis-menulis sudah tumbuh sejak ia duduk di bangku kelas 5 SD. Keputusannya untuk mengirimkan karya ke ajang perlombaan pun bukan tanpa alasan. Ia mengungkapkan bahwa dorongan utamanya adalah keinginan mendapatkan pengalaman baru sekaligus memperluas relasi.

Selain itu, banyaknya tulisan yang selama ini hanya tersimpan tanpa tersalurkan membuatnya tergerak untuk mengikutsertakannya dalam kompetisi. Tak kalah penting, Manda juga ingin menguji kemampuannya sekaligus berharap orang-orang membaca karyanya.

Kisah Sahabat yang Menjadi Sumber Inspirasi

Berbicara soal inspirasi, Manda bercerita bahwa puisi yang ia kirimkan ke Halo Penyair lahir dari kisah nyata sahabatnya sendiri. Sahabatnya itu memiliki hubungan dekat dengan seorang teman laki-laki, hingga tanpa ia sadari muncul perasaan suka yang tumbuh perlahan.

Namun, perasaan tersebut hanya terpendam dalam hati diam-diam, kadang muncul, kadang mereda, dan terkadang justru menyala begitu kuat. Dari cerita yang berulang kali sahabatnya sampaikan itulah, Manda menemukan inspirasi untuk karyanya.

“Inspirasi itu muncul dari kisah sahabatku, dia memiliki sahabat laki-laki yang sangat dekat. Dari situlah saya akhirnya mendapatkan inspirasi karena sahabat saya selalu menceritakan itu,” jelasnya.

Ketika kesempatan lomba dari Halo Penyair datang dan Manda merasa cocok dengan kisah tersebut, ia pun meminta izin kepada sahabatnya untuk menuangkan kisah itu ke dalam bentuk puisi.

Tantangan dalam Proses Kreatif

Meski begitu, proses menulis tidak selalu berjalan mulus. Manda mengaku kendala yang paling sering ia hadapi adalah munculnya kebuntuan saat menulis, di mana ide yang semula sudah ada tiba-tiba menghilang begitu saja. Selain itu, Manda juga kerap terganggu dengan ponsel, sehingga kerap membuat proses menulisnya tertunda.

Untuk mengatasi hal tersebut, Manda memiliki caranya sendiri, yakni dengan mencatat ide segera setelah muncul, menjauhkan diri dari ponsel, serta mencari tempat yang nyaman untuk berkonsentrasi.

Selain aktif menulis puisi, Manda ternyata juga memiliki karya dalam bentuk cerita pendek. Salah satu karyanya berjudul “Jarak Selembar Seng” telah tertulis dalam sebuah buku antologi bertajuk Bingkai Cerita Kita.

Proses Menulis Tanpa Formula Khusus

Soal tips menulis, Manda mengaku tidak memiliki cara khusus. Ia biasanya menulis berdasarkan apa yang terasa di hati, kemudian melakukan proses penyuntingan dan perapian hingga tulisan tersebut nyaman dibaca. Ia juga selalu berupaya membuat tulisannya semenarik mungkin, mulai dari pemilihan judul hingga isi ceritanya.

“Saya gak punya cara khusus. Biasanya saya akan nulis sesuai apa yang saya rasakan, terus saya edit dan rapikan,” kata Manda.

Kesan dan Harapan untuk Literasi Indonesia

Di penghujung perbincangan, Amanda Destya Maharani menyampaikan kesan positifnya terhadap program Halo Penyair. Menurutnya, program ini memberikan ruang yang sangat baik bagi para penulis muda dan pemula untuk berkembang serta mendapatkan apresiasi atas karya mereka.

Harapannya untuk dunia literasi Indonesia pun sederhana. Manda berharap suatu saat buku tidak lagi menjadi barang mewah, dan menulis bukan lagi sekadar bakat, melainkan menjadi sebuah kebutuhan. Ia juga berharap setiap sudut di Indonesia memiliki ceritanya masing-masing, serta selalu ada telinga yang mau mendengarkannya.

“Semoga setiap sudut di Indonesia punya ceritanya tersendiri dan ada yang mau mendengarkan,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *