Kabar Lamongan – Menulis dan mengajar adalah dua aktivitas yang bersaing memperebutkan waktu dan tenaga. Namun, bagi Alfatah Hidayat, keduanya justru berjalan beriringan. Keduanya mampu membawanya pada keberhasilan dalam lomba nasional.
Sejak bulan Maret, guru SMK di Kota Batam ini rutin mengikuti berbagai kompetisi sastra tingkat nasional. Ia kerap mengirim tulisan ke perlombaan cerpen dan puisi. Semua itu ia lakukan di sela padatnya jadwal mengajar.
Menulis yang Bermula dari Kesibukan Sampingan
Tidak ada rencana besar di balik langkah awal Alfatah Hidayat menekuni dunia kepenulisan. Semuanya berangkat dari niat sederhana untuk mengisi waktu luang agar memiliki kesibukan tersendiri.
Ia mulai menulis sebuah novel untuk para siswanya yang akan lulus pada tahun 2026. Pada awalnya, karya itu hanya beredar di kalangan terbatas, yakni ia dan murid-muridnya.
Namun, keadaan berubah setelah seorang rekan kerja membaca naskah tersebut. Sang rekan meyakinkan bahwa tulisan itu memiliki daya tarik dan sayang jika hanya berhenti di lingkaran kecil. Dari situlah keberanian Alfatah tumbuh untuk keluar dari zona nyaman dan mencoba peruntungan di festival sastra.
Langkah itu ternyata membawa hasil yang konsisten. Alfatah tercatat telah mengikuti ajang Halo Penulis, mulai dari batch 5 hingga batch 9. Karya-karyanya di batch 5 dan 6 terkumpul dalam Buku 1.
Kemudian di batch 7 karya masuk ke dalam Buku 2, sedangkan batch 8 dan 9 menjadi bagian dari Buku 3. Ia bahkan pernah mendapat predikat sebagai peserta teraktif pada malam ulang tahun Halo Penulis.
Menaklukkan Hambatan
Konsistensi berkarya bukan berarti tanpa rintangan. Alfatah Hidayat mengakui, ada beberapa kesulitan yang kerap ia hadapi selama proses menulis. Ia kerap berhadapan dengan ide yang mendadak buntu serta waktu yang terbatas akibat jam mengajar hingga sore hari.
Selain itu, rasa percaya diri yang kadang menurun dan proses riset yang membutuhkan waktu tersendiri juga jadi tantangan. Untuk mengatasi kebuntuan ide, ia biasa mencari inspirasi lewat bepergian, menyimak berita, atau memperhatikan realita di sekelilingnya.
Persoalan waktu ia siasati dengan menyisihkan sekitar dua jam pada malam hari untuk fokus menulis. Sementara itu, untuk mengatasi rasa kurang percaya diri, Alfatah lebih dulu menyelesaikan tulisannya. Barulah ia meminta pendapat rekan kerja maupun murid-muridnya yang gemar membaca karyanya, apakah perlu ada revisi atau tidak.
Dukungan dari lingkungan kerja menjadi salah satu faktor yang membuatnya bertahan. Ia masih mengingat jelas ucapan rekan satu ruangannya, yang mempertanyakan untuk apa sebuah karya hanya tersimpan di laptop. Padahal, akan lebih bermakna jika dijadikan buku dan dibaca banyak orang.
Alasan di Balik Pilihan pada Halo Penulis
Pilihan Alfatah untuk bergabung dengan Halo Penulis bukan tanpa pertimbangan. Ia menilai ekosistem yang platform ini tawarkan sangat mendukung perkembangan seorang penulis. Mulai dari perlombaan sastra yang rutin hingga peluang bagi karya-karya terpilih untuk terbit resmi menjadi buku cetak ber-ISBN.
“Keputusan untuk memilih Halo Penulis atau Halo Group didasari oleh ekosistemnya yang sangat mendukung pengembangan penulis,” katanya.
Selain proses penerbitan dan pendampingan yang ia nilai profesional, Alfatah juga melihat platform ini memberi nilai lebih berupa legalitas portofolio serta akses untuk menjangkau pembaca yang lebih luas dan terhubung dengan komunitas penulis dari berbagai daerah di Indonesia.
Kisah di Balik “Peron yang Tak Pernah Kosong”
Di antara sekian banyak karyanya, ada satu yang paling melekat di hati Alfatah, yakni cerpen berjudul “Peron yang Tak Pernah Kosong”. Cerita ini, menurutnya, berhasil menghadirkan gambaran kasih sayang seorang ayah yang sunyi, namun menyayat hati.
Momen paling menyentuh dalam cerpen ini hadir lewat penemuan puluhan tiket kereta yang tidak pernah digunakan serta sebuah catatan harian bersampul cokelat peninggalan sang ayah.
Fakta bahwa sang ayah selalu membeli dua tiket setiap kali menanti, semata agar anaknya tidak perlu pulang sendirian, menjadi simbol kasih sayang yang tidak terucap, namun begitu terasa.
Bagi Alfatah, kisah ini bukan sekadar cerita tentang penantian di sebuah stasiun, melainkan pengingat bahwa orang yang paling setia dalam hidup adalah mereka yang tetap menyediakan jalan pulang, sekalipun kita memilih untuk pergi jauh.
Harapan untuk Penulis Pemula
Bagi para penulis pemula yang masih ragu mengirimkan karyanya ke ajang perlombaan, Alfatah berpesan agar tidak membiarkan tulisan hanya menjadi penonton dan tersimpan diam di laptop atau buku catatan. Menurutnya, sebuah tulisan baru benar-benar hidup ketika dibaca, dirasakan, dan memberi makna bagi orang lain.
Ia tidak menampik bahwa keberanian mengirimkan karya ke perlombaan memang bukan hal mudah. Namun, menang atau kalah pada akhirnya adalah urusan belakangan.
“Karya terbaikmu tidak akan pernah bisa menginspirasi siapa pun jika kamu sendiri terus menyembunyikannya dari dunia,” pesan Alfatah.
Hal yang terpenting, tegasnya, adalah keberanian untuk melangkah keluar dari zona nyaman, sekaligus menjadikan ajang kompetisi sebagai sarana uji mental, evaluasi diri, dan proses belajar agar kualitas karya terus terasah.
Tentang Masa Depan Dunia Literasi Tanah Air
Sebagai seorang pendidik, Alfatah Hidayat turut menitipkan harapan besar untuk masa depan literasi di Indonesia. Ia berharap tolak ukur literasi tidak lagi hanya dari seberapa tebal buku yang berhasil terbaca. Namun, dari seberapa jauh kegiatan membaca mampu menumbuhkan empati, pemikiran kritis, serta kepedulian terhadap lingkungan.
Ia juga bermimpi agar ruang kelas dan pojok baca di berbagai pelosok negeri dapat menjadi tempat yang hangat bagi anak-anak untuk mengeksplorasi imajinasi tanpa rasa takut dinilai.
Dengan demikian, akan lahir generasi yang tidak hanya piawai memahami kata, tetapi juga berani menyuarakan pemikiran dan menciptakan perubahan nyata lewat karya-karya bermakna.
Ia menutup harapannya dengan sebuah kutipan dari nama pena Lentera_Prasa: “Bahwa literasi bukan sekadar rangkaian kata di atas kertas, melainkan cara untuk menyalakan lentera empati agar anak-anak mampu membaca dunia dengan hati dan mengubahnya melalui karya nyata.”








segan x ah idol 1 ni
Masyallah kakak satu ini emang panutan saya untuk semangat juang nya . Semangat terus kaka untuk berkarya
Semangat pak fatah semoga sukses dan selalu jadi motivasi
Mantapp pak