External Flash dengan Mode Otomatis

flash

Kabar-Net – Saat hendak bermain external flash, fotografer akan dihadapkan pada pilihan mode penggunaan yang ekstrim: manual ataukah otomatis. Pilihan pertama, biasanya dilakukan pada pemotretan yang terjadwal, model ataupun saat bermain strobist.

Sementara pada mode otomatis menjadi pilihan paling cerdik untuk menangkap momen tanpa harus kehilangan kualitas. Sebut saja untuk kebutuhan dokumentasi, event hingga foto berita. Nah, pertanyaannya bagaimana memaksimalkan flash pada mode otomatis supaya mendapatkan gambar yang maksimal?

Supaya tidak terjebak pada hitung-hitungan teknis Anda bisa menggunakan mode pemotretan otomatis. Atau bisa menggunakan mode pemotretan TV (time priority) seperti yang biasa saya pergunakan.

Jadi saya menetapkan speed yang saya inginkan setelah sebelumnya saya menentukan ISO kamera. Sementara diafragma akan menyesuaikan secara otomatis lantaran mode TV telah mengunci di sistem kamera.

Usai menetapkan segitiga exposure tersebut, tinggal langkah keempat yakni menentukan sudut cahaya dari flash menuju subjek. Kenapa sudut cahaya itu perlu dipikirkan tidak lain karena sangat mempengaruhi karakter subjek foto. Cahaya yang frontal dari depan dengan dipantulkan terlebih dahulu tentu menghasilkan bayangan dan tekstur yang berbeda.
Untuk mengetahui perbedaan tersebut saya membuat simulasi pada foto model dengan ISO 800 dan speed 1/180. Foto pertama dan kedua adalah menggunakan sudut pencahayaan dari depan model.

tes

Perbedaannya, pada foto pertama tidak dilapisi diffuser sehingga menghasilkan karakter bayangan lebih kuat dan area terang lebih terfokus pada bagian tangan dan kisaran hidung hingga dada. Namun pada foto kedua, dengan menambahkan diffuser, cahaya yang jatuh pada subjek menjadi lebih lembut. Bayangan tidak sekeras pada foto pertama.

Foto ketiga dihasilkan dengan menggeser sudut cahaya external flash pada sudut 180 derajat alias dihadapkan ke langit-langit ruangan. Cahaya pun memantul ke plafon dan menyebar merata ke subjek. Trik ini menghasilkan gambar yang lembut dengan bayangan tidak terlampau keras. Warna dan tekstur juga masih bisa dinikmati dengan apik.

Pada foto keempat dihasilkan dari sudut external flash 45 derajat. Cahaya memantul sebagian ke tembok dan langit-langit ruangan dan hanya sebagian kecil langsung jatuh ke subjek.
Dari simulasi tersebut sudut manakah yang paling ideal? Tidak ada jawaban pasti karena pada praktiknya tergantung pada tujuan, kebutuhan dan kondisi di lapangan. Misalkan pada foto ogoh-ogoh, maka menggunakan sudut cahaya frontal depan menjadi pilihan karena kondisi gelap saat itu.